Reporter : Fair Chalis
Editor : Memey Mega
___________________________________
Malang (Kabarpas.com) – Bakal Calon Walikota Malang dari Fraksi PDI-P, Wahyu Eko Setyawan menyatakan dengan tegas siap melawan kebijakan Pemerintah Kota yang dirasa merugikan masyarakat.
Apalagi jika menelisik kebelakang tentang beberapa kebijakan yang dianggap sudah menyalahi aturan, tentu sangat disayangkan jika terus dibiarkan.
“Jika kita menengok kembali ke belakang, pastilah kita bisa banyak menemukan catatan-catatan “Merah” yang bisa kita jadikan pelajaran untuk menata masa depan Kota Malang. Agar ke depan, langkah kita benar-benar mampu melahirkan PEMBARUAN, bukan sekedar PERUBAHAN formasi,” terang pria yang akrab disapa Sam Wes tersebut kepada Kabarpas.com biro Malang.
Menurutnya, beberapa kebijakan yang yang dirasa merugikan masyarakat itu, yakni kebijakan satu arah di Jalan Mbethek. Penggusuran PKL, tukang parkir dan kaum marijal di kawasan pusat kota yang sarat dengan militeristik. Serta maraknya toko modern di Kota Malang yang mengakibatkan lemahnya UKM.
“Dan sekarang ini, semakin terbukti bahwa selama ini Tata Kelola Pemerintahan Kota Malang dijalankan berdasarkan Paradigma “Trial & Error”. Bagaimana penggusuran wong cilik, PKL, pedagang pasar, tukang parkir, dan kaum marjinal. Seolah-olah, rakyat bukanlah manusia yang bisa diajak berdialog dari hati ke hati, dengan cara yang baik,” ucapnya.
Ia juga menegaskan, bagaimana Toko Modern Ilegal semakin merajalela, dan dibiarkan saja oleh Walikota Malang hingga saat ini. Meskipun sudah ada rekomendasi dan keputusan yang jelas dari Lembaga Ombudsman RI. “Apakah hal ini hanya akan kita diamkan saja?” tegas Sam Wes.
Dia berharap, Kota Malang yang merupakan rumah bagi masyarakatnya menemukan pemimpin yang tidak hanya sekedar membawa perubahan formasi, tapi juga pembaruan.
“Entah mungkin itu saya, atau yang lainnya. Tentunya saya sebagai warga Malang berharap rumah kita ini bisa mendapatkan sosok pimpinan yang membawa pembaruan. Jangan sampai kita mendapat pimpinan yang bahkan tidak bisa mimpin dirinya sendiri,” ungkap Sam Wes yang juga penggagas Sekolah Budaya Tunggul Wulung ini.
Jangan sampai, lanjut Sam Wes, Kota Malang diserahkan kepada orang yang hanya sibuk berebut kekuasaan, jabatan dan menumpuk harta, dan mengorbankan nasib ribuan warga Kota Malang.
“Saya Wani Melawan! Lebih baik putih tulang, daripada putih mata. Lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup menjadi pecundang!” pungkas Sam Wes. (lis/mey).

















