Reporter : Brando alfonso
Editor : Memey mega
Malang, (kabarpas.com) – Lembaga Kesenian Indrokilo (LKI) dilahirkan oleh Dewan Kesenian Malang (DKM) pada tahun 1983 dengan lokasi yang saaat ini berada di bekas stan expo Musium Brawijaya Malang, dan saat ini menjadi markas bagi pelaku.
Lembaga ini dilahirkan sebagai embrio pusat kesenian Malang yang tertuang di AD & ART Dewan Kesenian Malang yang dipimpin seorang manejer.
Sedangkan pengurus DKM adalah sebagai Pemikir (Konseptor) kesenian, jembatan penghubung antara pemerintah, dunia pendidikan, instansi swasta, ABRI dan Masyarakat.
Disamping perannya sebagai kepanjangan tangan DKM, Lembaga ini bergerak sangat cepat, banyak karya dilahirkan disini. Termasuk keberadaan Youth Centre (panggung terbuka) sebagai ganti gedung pertunjukan tenun, Pulosari (untuk musik).
Namun dengan seiring perjalan waktu, banyak pelaku seni se Malang Raya tidak mengenal Indrokulo. Bahkan yang namanya pengurus DKM sendiri di era tahun 2004 sampai 2017 tidak pernah melihat akar Sejarah yang pernah dibuat.
Sebuah kajian yang seharusnya mulai dibenahi, bahwa DKM juga pernah membesarkan budaya khas Malang yang saat ini telah mendunia, bahkan menjadi ikon Malang yakni Topeng Malang.
Di tahun 1988 lembaga kesenian Indrokilo telah mengusulkan panggung pertunjukan tradisional di Jalan Rajakwesi (pulosari) dan berhasil, namun lagi lagi manusianya panggung tersebut harus hilang lagi karena mental dari manusia yang amburadul.
“Pernah juga kita akan diberi lahan sebesar 3 hektar di daerah Wonokoyo Buring untuk Pusat Kesenian Malang, kampung seni, ruang ketrampilan dan lainnya. Lagi lagi kandas, hanya karena ulah pengurus lembaga DKM yang pemikirannya pating besat, kekerdilan pikir ini yang sampai saat ini melanda sebuah organisasi kesenian yang bernama,” kata Mbah Yongki budayawan Malang.
Dikatakannya, jika saat ini pelaku seni dan budaya merindukan sebuah tatanan, pemikiran kejernihan konsep untuk ambil bagian sebagai mitra pemerintah dalam geliat seni budaya di Kota Malang.
“Semoga dengan mulai banyaknya kegiatan-kegiatan yang menghidupkan kembali budaya khas Malang mampu membuahkan pikiran kebijaksanaan para pelaku seni, budayawan, konseptor seni, EO seni terutama Pemerintah Daerah, Bapak Walikota Malang untuk terus membangun budaya Kota malang,” harapnya.(bra/mey).

















