Reporter : Pendik Riyatno
Editor : Agus Hartanto
___________________________________
Banyuwangi (Kabarpas.com) – Rogojampi adalah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi yang memiliki berbagai potensi. Kecamatan ini membawahi sepuluh desa yakni Alian, Galadag, Bubuk, Lemahbang Dewo, Pengatigan, Kedaleman, Rogoampi, Gitik, Mangir, dan Karangbendo. Dari keseluruh desa tersebut, terdapat dua desa yang memiliki potensi budaya dan Seni besar.
Menurut Nanik Mahruchi selaku Camat Rogojampi menjelaskan, ada dua desa yang tengah dinobatkan menjadi desa budaya dan desa seni. Dua desa tersebut adalah desa Karang Bendo dan Desa Mangir. Untuk Desa Mangir sendiri disebut desa Seni, karena desa tersebut memiliki segudang seniman dari mulai seniman Tari, Musik, hingga kreatifitas warga dalam pembuatan baju gadrung, manik-manik, dan omprok Ganrung.
“Meski sebelumnya tidak ada singkronisasi pada kelompok seni di desa tersebut, alhamdulilah kini bisa bersinergi antara pelaku seni, masyarakat, dan pemerintah desa,” ucap Nanik Mahruchi kepada kabarpas.com biro Banyuwangi saat dihubungi melalui telpon seluler, Jumat (01/09/2017) pagi.
Nanik menambahkan, sinergisitas ini sesuai dengan intruksi Bupati Banyuwangi, dalam hal pengembangan potensi desa wisata yang ada di seluruh Kabupaten Banyuwangi. Sementara ini pemerintah kecamatan akan terus mendorong Desa Mangir untuk menjadi desa seni yang tidak hanya di kenal di Jawa Timur, namun juga di tingkat Nasional bahkan hingga dunia.
“Kita juga berharap desa ini menjadi percontohan desa-desa lain di Kecamatan Rogojamapi, sebab kalau Desa Karangbendo sih tidak perlu karena sudah kita nobatkan menjadi Desa Budaya yang juga luar biasa seperti Desa Mangir,” terangnya kepada Kabarpas.com.
Sementara itu, Sekretaris Desa Mangir, Agus Solehudin membenarkan dengan dinobatkannya Mangir menjadi Desa Seni. Ditambah lagi bayak hal yang sudah dilakukan oleh pemerintah desa setempat dalam pengebangan potensi seni yang ada.
“Contoh saja di belakang pendopo balai desa tengah ada pendidikan seni setara tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Mereka latihan dengan sembilan guru yang terdiri dari empat tari, tiga guru tabuh atau gamelan, dan 2 vokal. Masuknya juga berfarian ada yang satu minggu empat kali ada juga dua kali,” ucap Agus Kepada kabarpas.com biro Banyuwangi.
Di tempat yang sama Didik selaku Kepala Desa Mangir menambahakan, pelaku seni pembuatan omprok Gandrung dan baju Gandrung di Banyuwangi juga ada di desanya tersebut, karena seniman omprok Gadrung dan baju gandrung sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda.
“Sampai adanya pengembangan omprok Gandrung mulai dari daun nangka hingga berbahan kulit, beserta baju gandrung. Di sini masih ada dua kelompok yang akan terus kita kembangkan hingga keseluruhan warga,” pungkasnya. (pen/gus).

















