Reporter : Bang Nando S
Editor : Titin Sukmawati
Malang, Kabarpas.com – Berkelana kota bareng planologi Universitas Brawijaya (UB) dengan berjalan menyusuri kota dan menikmatinya sudut pandang yang berbeda
di Kota Malang, yang merupakan salah satu kota terbesar ke dua di Jawa Timur.
Tak akan jauh dari permasalahan kota yang sering kita dengar, macet, banjir, kumuh, dan banyak permasalahan lain.
Berdampingan dengan permasalahan yang ada, kota yang mendapat julukan Kota Bunga ini dan memiliki tagline “Beautiful Malang” sejatinya memiliki harta karun terpendam berupa kawasan Urban Heritage yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat luas.
Beberapa mahasiswa UB yang tergabung dalam kelompok studi atau komunitas Plano Research di bawah naungan Departemen Keilmuan Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah Kota (HM-PWK) Fakultas Teknik Universitas Brawijaya mengadakan serangkaian kegiatan kelana kota.
Ketua Departemen Keilmuan HM-PWK, M. Rosulinanda menjelaskan Kelana Kota merupakan salah satu program kerja komunitas Plano Research yang bertujuan untuk menyusuri potensi Urban Heritage Kota Malang yang sangat minim diketahui oleh publik dengan berjalan kaki untuk menikmati fasilitas publik dan indahnya Kota Malang yang jarang orang rasakan.
“Kegiatan ini tak hanya diikuti oleh mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Plano Research. Namun, juga turut berkolaborasi berbagai komunitas dan juga praktisi dalam bidang heritage sebagai pengarah untuk menapak tilasi sebesar apa potensi heritage di Kota Malang,” katanya kepada Kabarpas.com.
Beberapa waktu yang lalu, Komunitas Plano Research mengadakan Kelana Kota I yang berkolaborasi bersama dengan komunitas A Day To Walk dengan didampingi oleh pemandu Cindy Asta selaku founder A Day To Walk dan Pak Akbar dari komunitas Malang Walk Heritage sekaligus bertepatan dengan perayaan Malang Tempo Doeloe.
“Perjalanan ini menyusuri bagaimana sejarah dan cerita dibalik pusat peradaban Kota Malang pada zamannya. Langkah ini diawali di Alun-Alun Merdeka Malang yang merupakan pusat pemerintahan yang ditandai dengan bangunan pemerintahan ibukota kabupaten, pusat komersil yang ditandari dengan toko-toko bergaya oriental seperti oen palace, pintu gerbang menuju pasar kajoe tangan, pusat transportasi,” terangnya kepada Kabarpas.com.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa di zaman dahulu terdapat trem di tengah kota meskipun saat ini jalur trem sudah tertimbun aspal jalan umum.
Namun, loket pembelian tiket masih terdapat di sudut alun-alun kota, terdapatnya bangunan penjara dan bangunan-bangunan lainnya bekas peninggalan Belanda, terdapat titik pusat 0 km Malang yang kurang terawat di bawah jembatan penyeberangan.
Ditunjang dengan kehadiran masjid dan gereja bergaya gothic/katedral yang menambah keharmonisan suasana pusat peradaban kota pada zamannya. (bersambung…).

















