Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Pojokan · 2 Nov 2018

Kemarau Panjang dan Surat Undangan kepada Dajjal


Kemarau Panjang dan Surat Undangan kepada Dajjal Perbesar

Oleh : Abdur Rozaq

 

KABARPAS.COM – DI warung Cak Sueb, tak banyak yang pesan kopi beberapa hari ini. Kebanyakan pelanggan malah pesan es. Entah es teh, es minuman instan rasa-rasa, atau yang terlanjur fanatik kopi malah pesan kopi sachetan dikasih es. Cuaca memang sedang di puncak panasnya.

Matahari seakan ada dua, terutama bagi mereka yang sedang bokek. Bagi yang punya cicilan kredit malah lebih parah. Sebab sinar bulan juga terasa panas, terutama jika sudah tanggal tua.
Cuaca menyengat. Berbeda jauh suhunya ketika dulu pepohonan masih belum ditebangi. Entah bagaimana panasnya kawan-kawan kuli bangunan, kawan-kawan tukang becak, kuli tani serta tukang panggul di pasar-pasar sana.

Jangankan mereka, wong para pegawai yang bekerja di dalam ruangan ber-AC, meski kerjanya tak banyak berkeringat, seharian hanya jandoman di warung kopi dan setiap tahun gajinya mundak saja juga merasa gerah. Buktinya, jam delapan pagi sudah berteduh di warung-warung pinggir sawah. Tak betah di kantor sehingga mengurus surat anu saja bisa tiga tahun lamanya.
Maka, para pelanggan warung Cak Sueb ini termasuk orang-orang bejo karena kebanyakan tak harus kepanasan atau mbolos dari kantor karena kegerahan. Cak Murtado yang tukang cukur nyambi jadi guru swasta, bisa seenaknya kapan saja nongkrong di warung Cak Sueb. Cak Hamim, mahasiswa abadi, mulai pagi hingga pagi lagi bisa berada di warung, Wak Takrip, Gus Hasyim kecuali Mas Bambang yang terlanjur punya NIP, adalah rakyat jelata yang memiliki profesi bebas jam kantor. Jadi meski cuaca gerah begini, mereka tak seberapa mengeluh.
“Kalau dipikir-pikir, cuaca begini miris juga,” celetuk Gus Hasyim tiba-tiba.
“Iya gus, banyak kebakaran ya?” timpal Cak Hamim.
“Itu masih biasa, mas. Yang gawat itu, cuaca panas begini pertanda makin dekatnya Dajjal muncul,” ujar Gus Hasyim. Para pelanggan warung rame-rame menoleh kea rah Gus Hasyim.
“Ah, jangan meden-medeni begitu, gus,” timpal Wak Takrip.
“Lho, Dajjal turun nanti setelah kemarau panjang begini, kan Wak Takrip?”
“Tapi kan masih banyak orang adzan? Katanya Dajjal turun kalau sudah tidak ada suara adzan?” protes Wak Takrip.
“Yang jadi pertanyaan, adzan sekarang itu sama ndak bobotnya dengan adzan zaman dulu? Adzan sekarang itu ikhlas ndak?”
“Waduh, begitu ya?” ujar Wak Takrip pucat.
“Kan Yakjuj-Makjuju belum turun, gus?” giliran Cak Murtado yang interupsi.
“Kalau Yakjuj –Makjuj yang sebenarnya memang belum turun. Tapi saya khawatir, jangan-jangan kita sendiri Yakjuj-Makjuj itu. Kita kan sudah menggunduli hutan, menggali gunung, mengurug lautan, menebangi pohon, menguras air tanah, membikin sumur-sumur artesis padahal hanya untuk membuat kolam lele atau membikin wahana pemandian umum agar muda-muda bisa pacaran di sana? Kita juga rajin membabati tegalan untuk kita tanami sengon. Ketika ternyata sengon murah dan kita kapok menanam, tegalan terlanjur terbengkalai menjadi cikal-bakal gurun.”
“Kita kan juga kemlete? Beli kulkas, meski selalu kosong dan hanya kita gunakan untuk menyimpan tempe tiga bulan yang lalu, yang penting beli kulkas biar ozon tambah panas. Setiap rumah juga ada dua sampai lima sepeda motor, agar anak-anak kita bisa bebas mbolos, balap liar atau bahkan sewa vila. Emak-emak juga makin manja. Para bayi diberi popok pabrik biar punya banyak waktu menonton sinetron dan main HP. Ahirnya, sungai mampet oleh popok bekas.” Semua orang melongo seperti ditampar.
“Tapi, yang paling bertanggung jawab jika Dajjal muncul lebih awal adalah orang yang bertanda tangan menyetujui penebangan hutan, penggalian gunung, pencemaran sungai serta penghamburan air tanah. Sebab tanda tangan mereka itu sejatinya tanda tangan pada surat undangan kepada Dajjal,” tutup Cak Murtado. (***).

Artikel ini telah dibaca 52 kali

Baca Lainnya

Ketika Tradisi Keilmuan Melahirkan Moderasi Beragama

27 Juli 2026 - 07:28

HARI ANAK NASIONAL 2026: Anak Hebat Tidak Lahir dari Gadget, tetapi dari Rumah yang Penuh Teladan

23 Juli 2026 - 06:17

Pesan Kiai Hasyim & KH. Wahab untuk Muktamar NU 2026: Membaca Kembali Pesan Para Muassis

21 Juli 2026 - 08:06

Ilmu Antropologi di Pesantren Terpadu Al-Yasini

11 Juli 2026 - 06:54

Pesantren Al-Hidayah II Banyak Putih: Bukan Sekadar Mengaji, Tapi Membangun Masa Depan

8 Juli 2026 - 17:59

Ilmu Sosiologi di Pesantren Terpadu Al-Yasini

27 Juni 2026 - 07:51

Trending di Kabar Terkini