Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 1 Okt 2019

Kepala BNPB: Kembalikan Gambut ke Kodratnya di Hari Kesaktian Pancasila


Kepala BNPB: Kembalikan Gambut ke Kodratnya di Hari Kesaktian Pancasila Perbesar

Reporter : Wanti Sukiswati

Editor : Wanti Sukiswati

 

Jakarta, Kabarpas.com – Menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun ini mirip dengan yang terjadi pada empat tahun lalu. Tantangan utama yang dihadapi setiap tahun sama yaitu memadamkan karhutla di lahan gambut. Salah satu upaya yaitu mengembalikan gambut sesuai dengan kodratnya.

“Kembalikan gambut sebagaimana kodratnya, yaitu basah, berair dan berawa,” ujar Kepala BNPB Doni Monardo saat memberikan pesan di hadapan pegawai BNPB, Selasa (1/10) di Graha BNPB, Jakarta.

Doni menyampaikan bahwa gambut juga memiliki hak asasi ekosistemnya sehingga karthula dapat dicegah atau dikurangi. Gambut yang sudah kering akan sangat sulit dipadamkan ketika sudah ada api. Karakter gambut yang bersifat kering dan memiliki kedalaman beragam bahkan hingga 30 meter tentu akan sulit dipadamkan oleh personel darat, pengemboman air bahkan dengan hujan buatan (TMC).

Dia menerangkan, gambut yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk merupakan batu bara muda. Oleh karena itu, apabila gambut ini kering, gambut yang bisa dikatakan sebagai bahan bakar akan tersulut dengan mudah.

Luas hutan dan lahan terbakar dari awal tahun hingga Agustus 2019 lalu mencapai 328.724 hektar. Karhutla didominasi oleh kebakaran di lahan mineral sejumlah 239.161 ha dan gambut 89.563 ha. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa luas karhutla terbesar terjadi di Nusa Tenggara Timur.

Doni menjelaskan bahwa kebakaran di wilayah itu berbeda dengan enam provinsi lainnya. Kebakaran di Sumatera Selatan (Sumsel), Jambi, Riau, Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) terjadi di lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan dan memicu terjadinya asap.

Dalam pesan yang disampaikan bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, Kepala BNPB menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas upaya jajarannya dalam penanggulangan karhutla yang masih terjadi; di sisi lain, ia juga mengapresiasi kepada semua pihak, seperti TNI, Polri, KLHK, BMKG, BPPT, Manggala Agni, BPBD, masyarakat dan sukarelawan yang turun ke lapangan dan berhadapan dengan api dan asap.

“Mereka yang memadamkan api adalah para penjuang kemanusiaan,” kata Doni.

Doni mengajak jajarannya untuk menyebarluaskan pesan dan informasi melalui kanal media mengenai pengelolaan gambut. Sekali lagi, ia menekankan bahwa kodrat gambut yang basar dan berair sehingga bencana karthutla tidak terulang lagi di tahun depan.

Data citra satelit modis-catalog Lapan dalam 24 jam terakhir mencatat 697 titik panas terjadi di wilayah Sumsel, Jambi, Riau, Kalbar, Kalteng dan Kalsel. Rincian titik panas sebagai berikut, Kalsel 148 titik, Sumsel 106, Kalteng 65 dan Jambi 46. Wilayah Riau dan Kalbar tidak terdeteksi titik panas. Hingga kini, 29.039 personel masih beroperasi untuk melakukan pemadaman dan pendinginan, sedangkan 45 helikopter dikerahkan untuk pengemboman air dan patrol. Sementara itu, lebih dari 228 ton garam disemai selama TMC dengan memanfaatkan pesawat dukungan BPPT dan TNI. (***/wan).

Artikel ini telah dibaca 66 kali

Baca Lainnya

Ketua KONI Trenggalek Doding Jagokan Argentina Juara Pildun 2026

16 Juli 2026 - 16:21

Pemkab Jember Selidiki Dugaan Keracunan MBG di Bangsalsari, Biaya Perawatan Korban Ditanggung

16 Juli 2026 - 09:13

Menag Resmi Buka KKN Nusantara VI 2026: Mahasiswa dari 42 PTK Se-Indonesia Bawa Semangat Ekoteologi di Tanah Baduy

15 Juli 2026 - 22:36

Liga Remaja Trenggalek 2026 Digelar, Askab Siap Jaring Talenta Muda Berbakat

14 Juli 2026 - 13:18

Setelah Bertahun-tahun Kekurangan Air, Petani Jenggawah Kini Sambut Pembangunan Irigasi 

14 Juli 2026 - 05:34

Ketika Nakes Datang ke Rumah, Tiami Tak Lagi Harus Memikirkan Perjalanan yang Mustahil

14 Juli 2026 - 05:31

Trending di KABAR NUSANTARA