Oleh: Dra. Hj. Nihayah, M.Pd.
KABARPAS.COM – DILANSIR dari data Worldtop20.org pada tahun 2023 pendidikan Indonesia berada pada peringkat ke 67 dari 203 negara di dunia. Sementara menurut data World populationa Review tahun 2022, nilai-nilai rata IQ penduduk Indonesia adalah 78,49 . Skor ini menempatkan Indonesia di posisi ke 130 dari total 199 yang diuji.
Dilihat dari data tersebut sungguh memprihatinkan dunia pendidikan kita. Tentu sebagai praktisi pendidikan, penulis menyadari betul memang pada kenyataannya betapa rendahnya mutu kualitas pendidikan Indonesia, hal ini disebabkan terlalu banyaknya problema pendidikan di Indonesia, dan pada akhirnya hal ini juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan IQ rata-rata masyarakat Indonesia rendah. Berikut ini penulis paparkan beberapa permasalahan pendidikan di Indonesia:
- Terbatasnya guru dan rendahnya kualitas guru
Tak dapat dipungkiri guru di Indonesia itu sebarannya tidak merata, ada sekolah yang kelebihan guru, umumnya sekolah ini berada di kota atau dekat kota, sementara di pihak lain ada sekolah yang kekurangan guru. Di samping itu rata-rata kualitas guru di Indonesia itu rendah, utamanya guru-guru yang berada di pinggiran. Literasi mereka rendah, kalo toh mereka ada kesempatan membaca yang dibaca mereka hanya apa yang akan diajarkan esok harinya, itupun hanya buku pegangan guru yang di droping dari dinas pendidikan. Hampir semua guru di rumah mereka tidak ada ruang perpustakaan pribadi, bahkan lemari khusus buku, mayoritas guru tidak memilikinya. Mereka rata-rata hanya memiliki meja belajar yang di situ juga digunakan untuk tempat buku dan tas kerja mereka. - Ketimpangan kualitas pendidikan dan tidak meratanya akses pendidikan
Luasnya wilayah Indonesia yang secara geografis merupakan Negara kepulauan menyebabkan anak2 yang berada di daerah terpencil kurang mendapat akses pendidikan. Mereka dihadapkan medan yang sulit untuk mencapai lokasi pendidikan. Keadaan ini akhirnya menyebabkan kualitas pendidikan juga memprihatinkan. Sarana dan prasarana terbatas sehingga menjadi masalah yang seringkali dikeluhkan oleh pihak sekolah baik guru, orang tua dan siswa itu sendiri, ketersediaan guru juga terbatas pun demikian juga akses terhadap pendidikan digital nyaris tidak ada, karena jaringan internet tidak sampai di lokasi mereka. Kalaupun ada kadang seperti hidup segan matipun tak mau. Hal inilah yang menjadi kualitas pendidikan di Indonesia menjadi timpang antara sekolah yang berada di pinggiran apalagi yang berada di kepulauan terpencil dengan sekolah yang berada di perkotaan. Keadaan dan situasi seperti ini menyebabkan stakeholder pendidikan tersebut menjadi lamban dalam mengakses semua informasi – informasi terkini khususnya menyangkut informasi tentang seputar pendidikan ataupun pembelajaran. - Rendahnya literasi siswa
Barangkali semua kita menyadari bahwa mayoritas pelajar kita motivasi belajarnya dan minat baca mereka rendah, hal ini bisa kita lihat di sekolah-sekolah pada umumnya para pelajar itu jarang mengunjungi perpustakaan sekolah. Mayoritas pelajar kita malas baca buku, mereka lebih suka main games atau HP. Di samping itu rendahnya literasi mileneal kita bisa kita lihat bagaimana komen nitizen di medsos yang mayoritas adalah mileneal penuh dengaan caci maki,bullying dan mengarah pada personal verbal abuse. Komen mereka rendah data, rendah ide atau gagasan,dan jauh dari kesan akademis, nampak sekali mereka rendah literasi seperti generasi yang tidak terdidik. Ya tentu karena yang dibaca mereka hanyalah novel, komik dan berita gosip. - Kurangnya dukungan keluarga terhadap pendidikan
Dukungan keluarga terhadap dunia pendidikan kita umumnya rendah. Hal ini dapat kita lihat masyarakat kita cenderung kurang peduli terhadap pendidikan. Hanya masyarakat kalangan tertentu saja yang peduli terhadap pendidikan. Banyak keluarga Indonesia yang menginginkan serba gratis. Mereka enggan untuk memfasilitasi putra-putri mereka seperti membelikan buku-buku untuk mendukung pembelajaran di sekolah, mereka berharap buku gratisan dari pemerintah. Jarang kita temui masyarakat kita memperkenalkan buku pada anak-anaknya sejak usia dini. Bahkan mungkin 98 % keluarga Indonesia tidak memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya. Di masyarakat pedesaan bahkan masih marak perkawinan dini, ketika usia putrinya sudah beranjak remaja kemudian ada yang melamarnya dan yang melamar sudah mapan maka orang tua mereka lebih memilih menikahkan putrinya daripada mendukung melanjutkan pendidikan putrinya.
Itulah beberapa permasalahan pendidikan di Indonesia, dan tentu masih banyak lagi problem pendidikan lainnya.
Karena itulah pemerintah secara radikal berijtihad membenahi pendidikan Indonesia melalui Merdeka Belajar dan Merdeka B erbudaya. Dengan di luncurkannya program ini ada 4 kebijakan radikal pemerintah yang pada saat awal munculnya program ini cukup menghebohkan publik yaitu dihapuskannya USBN dan diganti dengan ujian yang hanya dilakukan oleh sekolah. Ujian tersebut dilakukan untuk menilai kompetensi siswa yang dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis atau bentuk penilaian lainnya yang lebih komprehensif, seperti penugasan atau portofolio dan sebagainya. UN diganti dengan assesmen kompetensi minimum dan survey karakter, menyederhanakan RPP dan penerimaan peserta didik baru (PPDB) dengan sistem zonasi.
Tapi seiring berjalannya waktu masyarkat mulai menerima dan bahkan mendukung program terobosan Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya ini. Sejatinya program ini bertujuan mengembalikan otoritas pengelolaan pendidikan pada sekolah dan pemeritah daerah. Otoritas pengelolaan pendidikan diwujudkannya dengan memberikan fleksibilitas pada guru, sekolah dan pemerintah daerah bahkan masyarakat sehingga dapat merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi program pendidikan yang dilaksanakan sekolah. Tujuan lainnya adalah menciptakan peserta didik berjiwa merdeka sehingga mereka dapat menemukan potensi dan kemampuan dirinya secara mandiri dengan cara mereka masing-masing. Sehingga nantinya akan muncul generasi yang siap secara mandiri menghadapi tuntutan zaman dan mampu bersaing secara global.
Kebermanfaatan Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya
Konsep Merdeka Belajar adalah konsep pendidikan yang menempatkan siswa sebagai subyek utamanya pada pembelajaran. Bahkan ada istilah sekarang Merdeka Belajar adalah konsep pembelajaran yang menghamba pada siswa. Hal ini di sebabkan karena siswa diberi kebebasan untuk menentukan jalan belajarnya sendiri, sehingga diharapkan nantinya siswa dapat belajar sesuai dengan minat dan kemampuan yang dimilikinya. Dengan konsep Merdeka Belajar diharapkan siswa belajar dengan gembira, bahagia, merasa betah di sekolah dan akhirnya tertarik untuk belajar kreatif dan inovatif. Pada akhirnya siswa akan lebih termotivasi dan lebih aktif dalam pembelajaran.
Sementara konsep Merdeka Berbudaya adalah konsep pendidikan yang menekankan pentingnya pembentukan karakter siswa dengan mengenalkan keberagaman budaya Indonesia. Dalam konsep ini siswa diharapkan akan tumbuh karakter pancasilais pada diri siswa. Mereka akan menghormati dan dapat menghargai nilai-nilai budaya Indonesia yang beragam. Mereka nantinya juga akan saling menghormati dan gotong royong walau dalam diri mereka memiliki jati diri budaya, adat, bahasa, keyakinan yang berbeda-berbeda. Mereka dapat menunjukkan dan mengekpresikan jati dirinya dengan percaya diri tanpa takut di bully, di caci, di hina dan lain sebagainya. Dengan demikian siswa sudah diajarkan sejak dini familiar melihat, merasakan dan berbaur dengan keberagaman. Dan mereka akan berkembang dengan keberagaman sesuai jati diri mereka masing-masing. Kelak mereka akan memiliki karakter dan jati diri anak Indonesia yang memiliki jiwa kuat bahwa kita harus bersatu dengan segala perbedaan dan keberagaman bukan demi persatuan maka harus seragam, demi persatuan segala perbedaan dan keberagaman harus di lenyapkan. Dengan pendidikan yang demikian maka akan lahir generasi demokratis bukan generasi feodal dan memuja kultus-isme.
Praktik Baik Merdeka Belajar dan Berdeka Budaya
Konsep Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya memiliki kemanfaatan yang besar, namun tidak semua sekolah menjalan konsep ini dengan maksimal bahkan sebagian guru masih gamang menjalankan konsep ini karena terbiasa dalam waktu yang panjang dengan menjalankan pembelajaran berdasarkan aturan yang kaku dan selalu berdasarkan juknis pembelajaran dari pemerintah. Berikut beberapa praktik baik yang dapat dilakukan sebagai ijtihad untuk menerapkan konsep Merdeka Belajar dan Merdeka berbudaya diantaranya adalah:
- Guru harus senantiasa meningkatkan literasi dan ketrampilan paedagogik.
Apabila guru memiliki literasi yang kuat dan ketrampilan paedagogis yang mumpuni, maka mereka mampu menguasai kelas dan menciptakan kelas yang kondusif belajar, mampu memahami karakter dan gaya belajar dari masing-masing siswa. Guru akan cepat tanggap dengan suasana kelas dan kebutuhan belajar siswa. Pembelajaran Merdeka belajar harus berpusat kepada siswa, sehingga guru harus memberikan kebebasan dan kesempatan terhadap siswa untuk memilih cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuanya. Berikan ruang pada peserta didik untuk memilih sumber belajar yang mereka suka sesuai dengan kebutuhannya. Guru harus menjadi pendorong dan fasilitator belajar siswa. Dengan demikian akan tercipta suasana belajar yang nyaman, gembira dan bahagia. - Gerakan literasi siswa
Penting sekali sekolah melakukan gerakan literasi siswa secara massive. Semua stakeholder pendidikan harus bergerak menyukseskan program gerakan literasi siswa. Misalnya setiap kelas harus punya pojok baca dan memperbanyak majalah dinding. Perpustakaan sekolah sebagai pusat literasi harus di desain yang membuat setiap yang datang di situ ingin berlama-lama untuk membaca.
Follow up nya dari semua ini harus ada program literasi intensif seperti setiap hari diawal pembelajaran, semua guru mapel yang mengajar jam pertama harus memandu semua siswa yang ada di kelasnya untuk membaca apa saja yang di sukai dan membuat ringkasan tentang apa yang dibacanya, kegiatan ini bisa dilakukan selama satu jam pelajaran dan setiap minggu di evaluasi dan di nilai siapa yang terbaik. Setiap bulan harus diberi apreasiasi berupa penghargaan siapa yng terbaik literasinya kemudian di publish di sekolah tersebut sehingga semua siswa tahu siapa literasinya yang paling bagus di sekolah mereka pada bulan tersebut. - Disiplin dan bertanggung jawab
Untuk menanamkan karakter disiplin dan bertanggung jawab pada siswa perlu dimulai dari guru itu sendiri. Guru harus mampu menjadi tauladan dengan selalu menempatkan dirinya sebagi figur dalam berdisiplin dan bertanggung jawab. Ketika guru dapat menerapkan sifat disiplin dan bertanggung jawab pada siswanya, maka siswa pun dapat terpengaruh untuk menjadi disiplin dan bertanggung jawab. Cara lain untuk menanamkan karakter disiplin dan bertanggung jawab pada siswa yaitu dengan melibatkan mereka dalam menciptakan atau membuat kesepakatan dalam menerapkan disiplin dan tanggung jawab dalam pembelajaran. Contohnya, yaitu membuat peraturan atau tata tertib kelas. Proses pembuatan pembuatan tata tertib kelas itu melalui hasil musyawarah bersama dapat menciptakan kelas merdeka. - Pekan proyek
Pekan proyek ini diadakan secara berkala misalnya pada setiap akhir semester. Kegiatan yang dilakukan pada pekan proyek ini adalah kegiatan yang menghasilkan karya atu produk secara nyata. Kegiatan ini bisa dilakukan perkelas berdasar produk yang ingin di buat oleh kelas tersebut atau bisa berdasarkan mata pelajaran yang disukainya. Misalnya kelas A ingin membuat produk berupa sabun cuci piring atau kue khas daerahnya. Sementara kelas B ingin membuat karya drama dalam Bahasa Inggris. Kelas lainnya tidak ingin membuat karya atau produk tapi ingin melakukan kegiatan lomba debat antar kelompok di kelas nya tentang isu-isu terkini. Semua itu berdasarkan keinginan dan kreativitas siswa di kelasnya masing-masing. Dalam kegiatan ini juga bisa dilakukan dengan pameran hasil karya siswa dari masing-masing kelas. - Pentas seni dan budaya
Biasanya hal ini sudah banyak di lakukan di sekolah-sekolah setiap akhir tahun ataupun akhir atau awal tahun pelajaran sesuai dengan kebijakan sekolahnya masing-masing. Hanya saja dalam Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya siswa lebih diberi ruang kebebasan untuk mengekspresikan bakat dan kemampuannya. Di samping itu ajang ini bisa digunakan bagi siswa untuk mengekpresikan jati dirinya seluas-luasnya berdasarkan budayanya, suku, adat, bahasa bahkan keyakinannya. Biarkan siswa melihat bahwa mereka memang beragam namun tetap menjaga persatuan dengan kuat. Dengan begitu siswa tidak gagap melihat perbedaan tapi justru mereka akan saling menghargai dan menghormatinya. - Workshop atau pelatihan secara rutin
Sekolah perlu mengembangkan program kegiatan untuk meningkatkan kualitas guru secara rutin dan berkelanjutan. Kegiatan ini bisa dilakukan setiap bulan atau triwulan atau bahkan semester sesuai kebijakan sekolah. Pelatihan semacam ini penting untuk meng-update wawasan ataupun literasi guru sehingga guru tetap memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif dan inovatif. Kegiatan ini bisa dalam bentuk MGMP sekolah ataupun mungkin mendatangkan ahli atau profesional di luar sekolah. Tetapi bisa juga misalnya guru yang dikirim mengikuti workshop di luar sekolah setelah selesai harus mempresentasikan materi workshop yang mereka ikuti. Dalam kegiatan ini juga bisa saling diskusi tentang kendala atau problem yang mereka hadapi dalam KBM utamanya dalam mengimplementasikan Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya, maupun kendala menghadapi siswa di luar kelas. Program semacam ini merupakan salah satu cara untuk meningkat kualitas sekolah dan pada akhirnya menentukan kualitas pendidikan secara keseluruhan. - Pertemuan wali murid secara terprogram
Sekolah harus punya program pertemuan denagan wali murid secara rutin. Hal ini paling tidak dapat dilakukan minimal setiap akhir semester atau awal semester. Semua program sekolah harus di sosialisaikan kepada wali murid sehingga mendapat dukungan penuh dari wali murid, begitu juga kendala dan tantangan yang dihadapi sekolah harus juga di diskusikan atau di musywarahkan dengan wali murid, sekolah juga harus mendengar saran dan masukan dari wali murid, sehingga akhirnya akan mendapatkan solusi yang terbaik.
Tentu masih banyak praktik baik Merdeka Belajar dan Meredeka Berbudaya lainnya. Setiap sekolah dan guru dapat memilih cara yang di sesuaikan dengan keadaan dan kondisi sekolah serta siswanya masing-masing. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi berhasilnya Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya di setiap sekolah dan tentu juga banyak faktor yang dapat mempengaruhi meningkatnya kualitas pendidikan di Indonesia. Tapi niat baik dan Ijtihad pemerintah dan seluruh stakeholder pendidikan yang telah dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan dan karakter bangsa harus mendapat dukungan dari semua komponen bangsa ini sehingga apa yang menjadi tujuan dari Merdeka Belajar dan Merdeka Berbudaya bahkan cita-cita kemerdekaan ini dapat terwujud…. InsyaAllah…… (***).
*Identitas penulis:
Dra.Hj.Nihayah, M.Pd. Guru di SMKN I Banyuanyar Kabupaten Probolinggo.

















