Reporter : Arudatu
Editor : Memey Mega
___________________________________
Malang (Kabarpas.com) – Sempat bersitegang beberapa bulan lalu, kini konflik transportasi online dan konvensional kembali memanas. hal itu seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, beberapa oknum sopir angkot menghentikan taxi online saat menjemput wisatawan yang akan diantar menuju hostel.
Claudya, pemilik Hostel yang ada di Kota Malang mengaku jengkel dengan perlakuan sopir angkot kepada tamunya. Menurutnya kejadian tersebut bisa merusak citra pariwisara Kota Malang.
“Tamu saya memesan taxi online dari Alun-Alun Malang menuju ke Hostel. Tapu malah dipaksa turun oleh beberapa sopir angkot dan dipaksa naik angkot dengan tarif yang jauh lebih mahal. Apalagi tidak sesuai dengan trayek resmi dari angkotnya,” geram Claudya kepada Kabarpas.com biro Malang, Minggu (20/08/2017).
Menanggapi kejadian tersebut, Ketua ASITA (Association of Indonesian Tours and Travel Agencies) DPC Malang, Gaguk Perwito mengatakan jika aksi premanisme oleh oknum sopir angkot seperti ini sudah sangat meresahkan iklim industri pariwisata Kota Malang.
“Hal semacam ini tidak semestinya terjadi karena pangsa pasar antara moda transportasi online dengan angkot sudah berbeda,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebelum kejadian tersebut juga sempat terjadi insiden serupa di sekitar lingkungan Alun-alun Kota Malang pada waktu tengah malam, namun melibatkan jeep yang disewa secara pribadi oleh wisatawan yang akan berangkat menuju Bromo.
“Hal ini sangatlah disayangkan, karena pemilihan moda transportasi adalah hak dari seorang wisatawan. Ditambah lagi kalau dari sisi sapta pesona pariwisata (aman, tertib, bersih, sejuk, indah, nyaman, dan kenangan) sangatlah tidak memenuhi,” imbuh pria yang juga menjabat sebagai Ketua BPPD (Badan Promosi Pariwisata Daerah) Kota Malang.
Mengelola pariwisata, lanjut Gaguk, ibaratnya bermain orchestra, “Kalau ada salah satu pemain yang fals, entah itu itu dinas, instansi, para pelaku dan stake holder, atau bahkan warga Malang sendiri, maka keseluruhan orchestra tidak akan enak untuk dinikmati. Terlebih jika sang dirigent (CEO atau kepala daerah) juga tidak bisa mengarahkan para pemainnya dengan baik,” tutup Gaguk. (aru/mey).

















