By : Fittriyah
Ku menapaki tangga gelap, mengejar serpihan cahaya.
Ketika secercah cahaya menghampiri, ku kira itu Harapan. Ternyata hanya bayang yang lekas ditelan kelam.
Jeritan, hanya terdengar di dalam dasar tempat singgah.Tempat luka-luka dikuburkan, tempat suara dipaksa menjadi diam.
Gelap, kotor, sesak.
Dan aku masih berlari memeluk sunyi, seperti memeluk tubuh sendiri yang perlahan kehilangan kehangatan.
Mana Janji Yang Harusnya teralisasi.
Lalu, aku ingin marah, tapi kepada siapa? Kepada takdir yang tak bisa ditawar?
Atau Kepada manusia serakah itu?
Atau Kepada-Mu yang diam dibalik tabir langit yang tersibak?
Barangkali cahaya memang tak selalu datang untuk menyelematkan.
Atau kadang ia hanya cukup untuk memperlihatkan betapa dalamnya luka.
Jika kehilangan adalah harga sebuah perjalanan biarlah hilang hanya milikku bukan keyakinanku.
Sebab mungkin, Keadilan-Mu bukan tentang siapa yang menang hari ini,
Melainkan tentang siapa yang tetap memilih menjadi baik, ketika dunia memberikan seribu alasan untuk membuatnya menjadi sebaliknya.

















