Oleh: Alamsyah M Djafar, Peneliti di The Wahid Institute / Penulis Buku
(Kabarpas.com) – MANUSIA pertama yang menunjukan saya jika pendidikan dan belajar ibarat makan-minum saban hari adalah Bapak saya. Bolehlah saya katakan di sini, Ia salah satu orang pulau yang belajar dan mengajar seperti hobi untuk orang dengan usia 50-an.
Begini rutinitas yang saya ingat. Usai shalat subuh, Bapak pergi ke pantai untuk membeli ikan dari nelayan. Kembali ke rumah, aktivitas berikutnya menyapu, mandi, dan membaca, menulis atau meresume buku-buku atau kitab sambil menikmati kopi atau teh.
Menjelang pukul 9 pagi, Bapak pergi ke kebun untuk membelah akar-akar pohon punaga untuk dijadikan kayu bakar. Menjelang Zuhur Bapak kembali ke rumah untuk shalat dan siap-siap ke madrasah untuk mengajar.
Kegiatan mengajar berlangsung hinggal pukul 4 sore. Sebagai guru madrasah setahu saya ia mengajar akidah akhlak, sejarah Islam, atau fikih. Usai mengajar harus mengajar mengaji anak-anak al-Quran hingga Isya di rumah.
Saya masih ingat, sebagai penghormatan, orang tua mereka memberi Bapak minyak tanah untuk lampu, kelapa tua, beras, atau uang. Waktu listrik sdh stabil, sekira tahun akhir tahun 80-an, para orang tua yang mengaji memberi uang atau beras.
Jika tak ada “panggilan” warga untuk selametan atau tahlil, acara kelurahan, atau pertemuan warga, Bapak biasa di rumah. Kadang-kadang menonton televisi atau obrol dengan anak-anak. Setelah itu kembali membaca atau menulis sesuatu hingga tengah malam.
Buku tulis, kitab-kitab kuning, atau buku-buku pelajaran kadang berserakan di mejanya. Emak saya tak terlalu suka rumah berantakan. Kadang-kadang ia marah.
Waktu itu, saya sendiri heran mengapa ia begitu bersemangat belajar di tengah pulau seluas 90-an hektar dan 3500-an orang penduduk. Dari catatan-catatan tangannya, isu yang ditulis dan dipelajari beragam. Ia membaca apa saja. Pernah saya baca ia meresume pokok-pokok pikiran Nurcholish Madjid dari buku IAIN Ciputat. Saya tak tahu dari mana ia dapat itu.
Rutinitas itu selalu begitu hingga ia tak pernah kembali ke rumah tahun 1997. Ia meninggal saat pergi haji karena sakit.
Buat Bapak belajar dan mengajar bukan pekerjaan berat. Hal yang biasa saja, dilakukan dengan enteng, meski kenyataannya tak mudah. Beruntung Emak saya perempuan mandiri. Emak berdagang dari modal sangat terbatas hingga berkembang. Dari situ, Emak dan Bapak menyekolahkan kami hingga perguruan tinggi.
Bapaku seorang guru pembelajar. Selamat hari pendidikan… (***).

















