Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Lintas Kabarpas · 2 Agu 2017

Cerita Sam Wes yang Jalan Kaki “Beraspalkan Darah dan Air Mata” Semarang – Kendal


Cerita Sam Wes yang Jalan Kaki “Beraspalkan Darah dan Air Mata” Semarang – Kendal Perbesar

Reporter : Fair Cholis

Editor : Memey Mega

___________________________________

Malang (Kabarpas.com) – Bakal Calon Wali Kota Malang, Wahyu Eko Setyawan beberapa minggu lalu menghebohkan warga Kota Malang dengan bertekad jalan kaki menuju Jakarta, untuk bertemu dengan Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri.

22 hari berlalu, perjalanan pria yang akrab disapa Sam Wes tentunya menemukan banyak makna dan rintangan. Salah satunya yaitu saat menapaki Jalan Raya Semarang – Kendal, Jawa Tengah yang menyimpan sejarah kelam pejuang tanpa nama dalam merebut kemerdekaan.

“Seharian ini, saya menapaki Jalan Raya Semarang-Kendal. Jalan ini adalah sebagian dari ‘Jalan Bersejarah Hitam Kelam’ bagi rakyat Indonesia,” terang penggagas Sekolah Budaya Tunggul Wulung ini, Rabu (02/08/2017).

Diceritakannya, jalan ini dulunya dinamakan Jalan Daendels, yang membentang hampir 1.000 Km, sepanjang utara pulau Jawa. Dari Anyer sampai ke Penarukan. Jalan ini dibangun dibawah perintah Maarschalk en Gouverneur General, Mr. Herman Willem Daendels.

Jalan Daendels ini dibangun dengan kerja paksa. Yang menurut beberapa catatan sejarah, telah menelan puluhan ribu jiwa pribumi. Jalan Daendels ini, dilumuri dengan darah rakyat jelata Bangsa Indonesia.

Karena mereka rakyat jelata, tentu saja nama-nama mereka tidak pernah tercatat dalam sejarah. Apalagi diingat dan dikenang sebagai Pahlawan Bangsa. Padahal, mayat-mayat mereka berserakan di sepanjang Jalan Daendels, semasa jalan ini dibangun.

Jalan Daendels inilah jalan yang mempunyai sejarah paling kelam pada masa penjajahan. Dan para rakyat jelata tersebut yang dipaksa kerja rodi, dicambuk dan didera, hingga mati kelaparan, dan jasadnya dibiarkan berserakan dan membusuk.

“Kita yang hidup pada masa sekarang ini, apa masih mengenang mereka? Mendoakan mereka? Padahal, barangkali diantara mereka, yang jasadnya terkubur di sepanjang Jalan Daendels, adalah leluhur kita, kakek dan nenek moyang kita?” tanya Sam Wes.

Menurutnya, Indonesia berhutang sangat banyak dari para pendahulunya. Yang jasadnya terkubur di tanah air ini. “Mereka nama-namanya tidak pernah tercatat dalam buku sejarah Bangsa Indonesia,” pungkasnya. (lis/mey).

Artikel ini telah dibaca 17 kali

Baca Lainnya

Blusukan ke Pasar Maron, Wabup Probolinggo Pastikan Harga Bahan Pokok Stabil

2 Juni 2019 - 09:52

KLHK Verifikasi SMPN 1 Pajarakan Menuju Adiwiyata Nasional

23 November 2018 - 06:22

Pemkab Probolinggo Data Bahan Pangan Asal Hewan

23 November 2018 - 02:10

Rilis Aplikasi Layanan Perpustakaan Digital

22 November 2018 - 15:23

Kecamatan Dringu Raih Juara Umum Porkab Probolinggo

22 November 2018 - 04:15

Tujuh Bulan Mengabdi Sebagai Pj Bupati Probolinggo, Tjahjo Widodo Resmi Dilepas

22 November 2018 - 01:33

Trending di KABAR NUSANTARA