Kota Batu, Kabarpas.com – Omzet pengrajin kayu yang berada di Dusun Rejoso, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo mengalami penurunan mencapai 80 persen. Semua itu akibat pandemi Covid-19.
Padahal, sebelum pandemi Covid-19 setiap bulannya pelaku usaha bisa mengantongi omset diantara Rp 70 – 80 juta. Namun sejak bulan Maret lalu, mereka hanya bisa mendapatkan maksimal Rp 10 juta. Penyebabnya, pesanan distributor dari Surabaya yang mengirimkan produknya ke luar negeri seperti Cina, Malaysia dan nusantara mandek.
“Pesanan mandek, biasanya saya kirim ke Surabaya lalu dikirim ke luar negeri dan luar kota. Sekarang gak bisa, penurunan omzet perkiraan mencapai 80 persen,” keluh, Koordinator UMKM Dusun Rejoso, Sukirno, Selasa (23/6/2020).
Bila tidak ada pendemi, ia biasa memproduksi dan mengirim 200 pcs sampai 300 pcs setiap produknya ke pasaran. Sedangkan Sukirno memproduksi sekitar 11 ragam jenis kerajinan dari kayu.
“Permintaan yang biasa dikirim ke distributor seperti kotakan alat tulis, tempat tisu, meja lipat, kursi lipat, tempat kosmetik. Saat ini yang menyerap produk kami hanya pesanan atau permintaan secara online,” tmabah dia.
Dia mengatakan saat ini tengah menggarap sekitar 250 pcs kotak untuk seserahan nikahan. Yang mana setiap pcs dihargainya dari Rp 20 ribu sampai Rp 40 ribu tergantung besar dan kecilnya ukuran.
“Ya lumayan sejak toko-toko boleh buka kembali, pesanan mulai ada kembali. Semoga lancar biar 15 pekerja saya juga mendapat penghasilan,” harap Sukirno.
Karena setiap minggu ia wajib membayar gaji pekerjaanya Rp 6 juta untuk membayar para pekerjanya. Pandemi membuat dia berhutang gaji. Sukirno berjanji kalau pesanan yang ada sudah dibayar maka akan dibuat mengaji.
“Bayar pekerja saja saya nunggak, apalagi bayar cicilan hutang ke bank. Ya akhirnya meminta penundaan. Tapi memang keadaan seperti ini tidak hanya dialami oleh saya, semua merasakan pandemi ini,” tegas dia
Dari 30 UMKM yang fokus kepada kerajinan kayu hampir semuanya mengalami penurunan omset. Padahal sejak tahun 1960an Dusun Rejoso telah terkenal warganya sebagai pengerajin alat dapur.
“Yang kasihan lagi pengerajin alat dapur talenan sekarang produksi sehari hanya 75 pcs talenan atau 100 pcs entong. Dulu sebelum korona bisa lebih dari itu,” katanya.
Dari tahun ke tahun, diakuinya pengerajin kayu di Dusun Rejoso semakin menyusut. Sukirno mengatakan di tahun 2000an masih ada sekitar 100 UMKM yang membuat alat dapur. (lih/wan).

















