Reporter : Dimaz Zidan
Editor : Agus Hartanto
___________________________________
Probolinggo (Kabarpas.com) – Sebagai upaya menyikapi beredarnya isu kelangkaan garam konsumsi di tengah-tengah masyarakat. Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Probolinggo melakukan sidak ke sejumlah petambak garam di Kabupaten Probolinggo.
Sidak yang dipimpin langsung oleh Kepala Diskan Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi ini, diawali di petani garam Desa Pajurangan Kecamatan Gending. Kemudian dilanjutkan di Desa Kalibuntu, Sidopekso dan Kebonagung Kecamatan Kraksaan. Dan terakhir di Desa Randutatah Kecamatan Paiton.
Kepala Diskan Kabupaten Probolinggo Dedy Isfandi melalui Kepala Bidang Perikanan Tangkap Wahid Noor Azis mengungkapkan bahwa monev ini bertujuan untuk memberikan semangat dan gairah kepada petani garam, agar kontinue memproduksi garam yang ada di tambak dikarenakan adanya kelangkaan garam konsumsi di tingkat konsumen.
“Tingginya harga garam krosok di tingkat petambak membuat semangat petambak garam dengan harga Rp 2.500 hingga 3.000 per kilogram di kalangan petambak,” katanya kepada Kabarpas.com biro Probolinggo.
Menurut Wahid, dari monev tersebut diketahui bahwa rata-rata dalam waktu 7 (tujuh) hari, petani garam yang menggunakan geoisolator bisa menghasilkan produk sebanyak 1,5 hingga 3 ton dengan asumsi keuangan mencapai Rp 3 juta hingga 5 juta. “Itu baru hasil per mantong (satu hamparan) ukuran ½ hektar dengan 2 (dua) meja garam,” imbuhnya.
Wahid berharap agar tidak ada pembinaan garam di level petani garam sehingga distribusi garam krosok yang dihasilkan petani bisa dijual langsung kepada pedagang. Akan tetapi pasar garam petani garam dibeli pedagang besar sebagian ke luar daerah seperti Jember, Lumajang dan Bali. Bahkan ada juga ke Rembang dan Pati.
“Hal ini dikarenakan IKM pengolah garam konsumsi yang ada di Kabupaten Probolinggo banyak yang menutup usahanya. Mereka ditutup karena sebagian pengolah garam ini tidak memiliki ijin SNI dan BPOM,” terangnya.
Dari hasil monev ini Wahid mengakui tidak menjumpai penimbunan garam di tingkat petani garam. Bahkan para petani garam diberi motivasi agar selalu semangat memproduksi garamnya.
“Semoga isu kelangkaan garam yang ada selama ini bisa semakin meningkatkan produksi garam. Hingga 26 Juli 2017, asumsi produksi garam mencapai 900 ton yang diperoleh dari 400 petani garam di Kabupaten Probolinggo,” tambahnya.
Wahid menambahkan bahwa tahun ini target produktivitas garam di Kabupaten Probolinggo mencapai 80 ton per hektar per tahun dengan luasan lahan 315,3 hektar di 4 (empat) kecamatan sentra garam meliputi Gending, Pajarakan, Kraksaan dan Paiton.
“Isu kelangkaan garam konsumsi ini terjadi karena pengaruh cuaca. Karena untuk tingkat Jawa Timur, Kabupaten Probolinggo paling produktif dalam hal produksi garam. Sekaligus sebagai penyumbang garam terbesar di Jawa Timur,” pungkasnya. (zid/gus).

















