Reporter : Dimaz Zidan
Editor : Agus Hartanto
___________________________________
Probolinggo (Kabarpas.com) – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo melakukan panen bawang merah perdana yang merupakan Program Pengembangan Kawasan Bawang Merah, di lahan Kelompok Tani Jaya Utama Desa Pondok Kelor Kecamatan Paiton.
Panen perdana bawang merah ini dihadiri oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DKPP Kabupaten Probolinggo, Handaka Murwanta didampingi Ketua Kelompok Tani Jaya Utama Kusairi dan puluhan petani di Desa Pondok Kelor, Kecamatan Paiton.
Kepala DKPP Kabupaten Probolinggo Ahmad Hasyim Ashari melalui Kasi Tanaman Hortikultura Fajar Rahadiyanto mengatakan bahwa program pengembangan kawasan bawang merah ini berasal dari dana APBN tahun 2017. Yakni, salah satu tujuannya menjaga ketersediaan bawang merah di luar musim tanam bawang merah.
“Program ini bertujuan untuk menambah area bawang merah untuk mengantisipasi melonjaknya kebutuhan bawang merah ketika tidak musim tanam. Oleh karena itu, diharapkan kelompok tani yang mendapatkan program ini melakukan penanaman di luar waktu musim tanam bawang merah,” katanya kepada Kabarpas.com biro Probolinggo.
Menurut Fajar, tahun ini penerima program pengembangan kawasan barang merah ini mencapai 30 kelompok tani dengan total areal mencapai 150 hektar. Mereka tersebar di Kecamatan Besuk, Sumberasih, Kotaanyar, Kraksaan, Bantaran, Leces, Tegalsiwalan, Dringu, Gending dan Paiton.
“Hanya saja penanamannya dilakukan di luar masa tanam bawang merah dan dibagi 3 (tiga) musim. Yakni, 25 hektar pada bulan Mei hingga Juni, 55 hektar bulan Agustus dan 70 hektar pada bulan Oktober,” jelasnya.
Dalam program ini jelas Fajar, tiap kelompok mendapatkan bantuan bibit sebanyak 1 ton per hektar dan pupuk organik cair sebanyak 16,67 liter per hektar. Serta, pestisida hayati dan insektisida.
“Ternyata hasilnya cukup bagus dan kualitas super. Hal ini dikarenakan lahannya baru pertama kalinya ditanami bawang merah. Sehingga tekstur tanahnya masih sangat bagus dan bibit penyakitnya masih sedikit. Berbeda dengan tanah yang sudah bolak balik ditanami bawang merah. Tentuny bibit penyakitnya sudah sangat banyak,” terangnya.
Fajar menambahkan bahwa program pengembangan kawasan bawang merah ini dilakukan supaya menambah area tanam bawang merah dan setiap bulan selalu ada bawang merah. Serta harga bawang merah selalu terkontrol.
“Dengan luasan areal lahan yang sama, menanam bawang merah lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan menanam tembakau. Biasanya saat panen, produksi tembakau cuma mencapai 1 ton. Berbeda dengan bawang merah yang produksinya bisa mencapai 10 ton,” tambahnya.
Dalam program ini terang Fajar, pihaknya tetap menggunakan varietas unggul Bawang Merah Biru Lancor. “Diharapkan dengan program ini, pendapatan petani bawang merah meningkat dan kesejahteraannya bisa lebih baik,” harapnya. (zid/gus).

















