Jember, Kabarpas.com – Kata ‘mengajar’ identik dengan seorang guru, maka dalam program Kampus Mengajar akan selalu identik dengan mahasiswa jurusan Ilmu Pendidikan. Tetapi Program ini menjadi sangat unik dan menarik karena dilakukan oleh mahasiswa jurusan di luar ilmu pendidikan, salah satunya jurusan Ilmu Hubungan Internasional. Seperti yang dialami oleh 4 Mahasiswa HI asal Universitas Jember (Unej) ini.
Program kampus mengajar merupakan program unggulan Kementrian pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia. Program Kampus mengajar ini merupakan salah satu program dari kampus Merdeka.
Program ini bertujuan untuk mengajak mahasiswa di seluruh Indonesia untuk terjun langsung dalam membantu proses belajar mengajar siswa SD (Sekolah Dasar) terutama di daerah 3T (Tertinggal, terdepan dan terluar). Mahasiswa ini nantinya akan ditempatkan di sekolah sesuai tempat tinggalnya atau daerah lain sesuai pilihan.
Mereka berhasil lolos dan mengabdi di sekolah berakreditasi C atau B yang tersebar di Kabupaten Bangkalan, Jember, Bondowoso, dan Semarang.
Ketika ditanya apa yang membuat mereka tertarik untuk mengikuti program ini, yang mana tidak linear dengan program studi mereka.
Imaniar, salah satu di antara mereka menjawab kalau itu bagian dari empatinya melihat para siswa yang belajar di tengah pandemi korona.
“Saya bersimpati melihat adik-adik yang sekarang sedang berjuang untuk belajar di tengah pandemi. Terlebih untuk mereka yang berada di wilayah terluar dengan akses pembelajaran yang minim. Karena tujuan utama program ini adalah untuk membantu pembelajaran di Sekolah Dasar yang terdampak Covid. Maka kami memberanikan diri untuk mencoba tantangan ini, Kalau bukan kita siapa lagi,” sambung imaniar dengan semangat.
“Seperti di sekolah dimana saya ditempatkan, karena proses belajarnya dilakukan secara daring maka siswa tidak memiliki keinginan yang kuat untuk berangkat ke sekolah. Proses belajar daring sempat berjalan beberapa hari tetapi tidak efisien karena siswa malah tidak mengerjakan tugas. Maka sekolah memutuskan untuk masuk 3 kali dalam seminggu. Untuk pertemuan tatap muka sendiri tidak terlalu bermasalah sebab siswa yang sedikit, hanya sekitar 40 orang di 1 sekolah maka tidak sulit menerapkan protokol kesehatan,” lanjutnya.
Memang dalam keadaan pandemi seperti sekarang ini, kegiatan belajar mengajar terganggu. Meski telah diupayakan pembelajaran jarak jauh dengan sistem online, namun tidak menampik fakta bahwa banyak sekali siswa yang tidak mampu dan tidak dapat mengikuti pembelajaran secara online.
“Di SD tempat saya ditugaskan, ada metode belajar Home Visit. Metode ini dilakukan dengan cara mengunjungi rumah siswa yang tidak dapat mengikuti kegiatan belajar secara daring,” begitu Annisa menjelaskan.
Selain kendala dari siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran secara daring, ada kasus lain seperti di sekolah tempat Priyanka mengajar, ia menyebutkan bahwa pembelajaran dilakukan di sekolah tetapi tetap menerapkan protokol kesehatan, sekolah memperbolehkan siswa masuk karena kondisi yang memang tidak memadai, fasilitas pendukung siswa untuk belajar di rumah pun tidak ada.
Kondisi lain datang dari putri, di sekolah tempatnya mengabdi proses belajar mengajar sudah tertata dengan baik.
“Sehingga proses belajar mengajar di masa pandemi seperti sekarang ini tidak begitu terdampak, namun memaksimalkan waktu belajar tetap menjadi masalah utama,” tutur Putri.
Adanya program ini, diharapkan mahasiswa dengan semangat dan pemikiran brilliannya dapat berkontribusi dalam kemajuan pendidikan Indonesia.
“Jika bukan Mahasiswa siapa lagi yang akan bergerak untuk rakyat kita?,” pungkas ke-4 Mahasiswi HI Universitas Jember ini.

















