Reporter : Moch Wildanov
Editor : Titin Sukmawati
Probolinggo, Kabarpas.com – Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid -19 di kalangan santri, Ponpes Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, menerapkan Prokes ketat terhadap santri dan wali santri yang hendak melakukan sambang santri.
Sambang santri ini dimulai pada tanggal 21/10/2020 hingga berakhir, Yayasan memberlakukan protokol kesehatan ketat, di antaranya dipersiapkan bilik pertemuan dengan sekat plastik transparan, chek Point, dan wali santri berasal dari zona merah untuk sementara tidak boleh melakukan besuk santri.
Selanjutnya, santri dan wali santri sebelum melakukan besuk santri, terlebih dahulu harus mencuci tangan dan memakai masker dengan durasi besuk sekitar 20 menit.
Selain Prokes tersebut, wali santri yang hendak besuk terlebih dahulu mendaftar agar kuota pembesuk santri bisa ditentukan dan menunjukan kartu mahrom.
Sekretaris Pesantren Nurul Jadid, Faizin Syamwiel, menuturkan, dari awal Yayasan sudah menerapkan 3 M kepada santri – santriwati saat belajar di ponpes ini. Disiplin menjaga Jarak, memakai makser dan sering mencuci tangan selalu diterapkan kepada santri untuk memutus mata rantai Covid -19.
“Prinsip 3 M selalu diterapkan di Ponpes ini untuk memutus mata rantai Covid -19,” ujar Faizin kepada wartawan Kabarpas.com biro Probolinggo.
Bahkan, saat adanya waktu besuk santri yayasan juga menerapkan Protokol kesehatan ketat dan melakukan pertemuan di lapangan ayaman dengan batasan penyekat dan batasan jumlah pengunjung santri, bahkan yayasan juga menerapkan wali santri hanya boleh membesuk satu bulan sekali.
“Protokol Kesehatan selalu kita jalankan di Ponpes Nurul Jadid ini, langkah ini untuk memutus mata rantai Covid -19, dan mencegah klustes covid di kalangan pesantren,“ pungkasnya. (wil/tin).

















