Penulis: Rizki Amalia
Editor: Ajeng
Pasuruan, Kabarpas.com – Andrew Preston dari Bath University mengatakan bahwa alat PCR bisa sangat efektif dalam mendeteksi virus. Tetapi keampuhannya tergantung dari sebearap baik para petugas kesehatan untuk mengambil sampel dari pasien.
“Jika virus tidak diambil pada swab maka hasilnya akan negatif. Sehingga seberapa efektif swab diambil dan jumlah virus yang ada di lokasi pengambilan sampel akan menentukan apakah virus terdeketis dari orang yang terinfeksi,” ujar Preston.
Sementara itu Perhimpunan Dokter Spesialis Pau Indonesia atau PDPI mengatakan bahwa Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia mengatakan usulan agar pemerintah menggunakan metode PCR.
Alat ini lebih akurat karena bisa mendeteksi virus bahkan pada OTG atau orang tanpa gejala. Kepastian dan keakuratan inilah yang bisa menetukan penanganan terhadap pasien.
“Dengan melakukan tes cepat atau rapid test berbasis PCR menggunakan sampel hasil swab sputum, nasal, ataupun feses dan cairan saluran pernapasan secara masif dan diisolir untuk mendapatkan perawatan dan disaat yang sama, menghentikan transmisi yang meluas,” ungkap salah satu peneliti dari Akademi Ilmuwan Muda Indoneisa, Berry Juliandi.
Semakin cepat kasus positif atau terkonfirmasi bisa terdeteksi maka semakin besar juga kemungkinan pasien untuk sembuh. Dengan begitu tingkat kematian juga bisa ditekan.
Agar bisa menjalankan PCR beberapa komponen utama yang dibutuhkan menurut Akademi Ilmuwan Muda Indonesia yaitu Kit ntuk mengekstraksi RNA, alat ekstraksi RNA Robotik, Reagen Kit PCR dan piranti keselamatan teknisi laboratorium.
Dibutuhkan juga Swab collection tools and viral transport media serta kelengkapan lain yang berkaitan dengan kegiatan laboratorium BSL-2 atau Biosafety Leve 2. (Mia/Ajg).

















