Oleh: Syamsul Huda, wartawan Kabarpas.com Probolinggo.
(Kabarpas.com) – PAGI itu suasana di darmaga Pulau Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo tampak begitu ramai, dengan banyaknya orang yang naik ke kapal-kapal penyeberangan.
Ya, mereka ternyata menumpangi kapal penyeberangan untuk menuju ke Kota Probolinggo. Tujuannya hanya satu, yaitu menyerbu pusat-pusat perbelanjaan. Yakni, mulai toko pakaian, hingga pusat perbelanjaan lainnya.
“Setiap tahun memang seperti ini. Kami warga Gili selalu berbelanja bersama dan ini kami namakan tradisi Petolekoran,” kata salah satu warga, Samhadi kepada Kabarpas.com, Sabtu (02/06/2016).
Tradisi ini merupakan turun-temurun sejak zaman nenek moyang mereka terdahulu. Tradisi ini yaitu berupa acara belanja bersama, seluruh penduduk pulau, ke pasar terdekat. Mereka menumpangi kapal-kapal penyeberangan, dan bergerak dalam beberapa gelombang. Mulai dari tua, muda, laki, perempuan, anak hingga lanjut usia, semuanya menyeberang ke Kota Probolinggo. Tradisi ini terus terpelihara, lantaran kuatnya kekerabatan dan persaudaraan antar penduduk pulau.
Dikatakan Samhadi, kebersamaan dalam hal belanja menjelang lebaran ini, sebagai wujud kekompakan warga Gili. Sebab jika bersama-sama, suasana belanja lebih ramai dan meriah. Sehingga suasana lebaran, benar-benar terasa kegembiraannya.
“Sekaligus kami jalan-jalan sebentar di kota Probolinggo, setelah sebulan berpuasa di pulau,” ujarnya kepada Kabarpas.com.
Senada dengan Samhadi, Sumari, warga lainnya pun mengatakan demikian. “Kalau beramai-ramai begini, bisa mempererat tali silaturahmi. Sekalian bisa minta pendapat, baju apa yang cocok atau aksesoris lainnya,” imbuhnya.
Tak kurang dari lima puluh kapal penumpang berkapasitas 20-30 orang, merapat ke pelabuhan Tanjung Tembaga lama, Kota Probolinggo. Tradisi petolekoran ini, hanya berlangsung selama sehari saja. Di mana sekitar sembilan ribu warga menyeberangi perairan Probolinggo, dan menyerbu pusat perbelanjaan. “Bisa sampai malam, kami berbelanja,” ujarnya.
Akibat tradisi ini, pemilik perahu, tukang becak, dan ojek mendapat berkah. Sebab pendapatannya bisa naik hingga tiga kali lipat, dari pendapatan hari biasa. Biasanya, sehari perahu pengangkut hanya memuat dua kali pulang-pergi. Tapi kali ini, bisa mencapai 4 hingga 6 kali.
“Begitu pula dengan tukang becak dan ojek. Salah satu tukang becak, Abdul mengatakan, hari biasa hanya sekitar Rp. 50 ribu. “Kalau ada tradisi ini, bisa sampai seratus ribuan,” sebutnya. (***/tin).

















