Reporter : Hendra Rahardya
Editor : Memey Mega
___________________________________
Malang (Kabarpas.com) – Keramaian sudah terlihat di sepanjang Jalan Veteran Universitas Brawijaya Malang. Puluhan pedagang perlengkapan ospek dan ratusan pembeli yang notabene adalah mahasiswa baru (maba) Universitas Brawijaya melakukan kegiatan transaksi tiap tahun ini.
Puncak keramaian mulai terlihat sejak pukul 14.00 WIB, para maba mulai keluar dari kampus masing-masing untuk membeli perlengkapan tugas ospek.
Sugeng Hariadi (40), salah seorang pedagang perlengkapan ospek yang sudah berjualan sejak tahun 2001 silam mengaku, Ospek adalah momen yang tepat untuk meraih banyak keuntungan.
Sugeng bersama dua adik kandungnya Joko Bowo dan Ngadiono sudah mulai berjualan perlengkapan ospek di Jalan Veteran sejak hari Senin (14/08/2017) lalu. Mereka membuka lapak sejak pukul 07.00 WIB hingga sore hari.
“Kami melakukan ini setiap tahun dan berpindah dari kampus ke kampus seperti ITN, UM, UMM, Unitri, Unisma dan STIA yang akan melaksanakan ospek,” ujar Sugeng kepada Kabarpas.com biro Malang, Jumat (18/08/2017).
Barang yang dijual di antaranya kaus kaki, ikat pinggang, name tag, karung, koran bekas, tali, pita dan sandal jepit beragam warna. Sugeng juga menerima pesanan paket prakarya seperti name tag, topi dan tas sesuai ketentuan pihak penyelenggara ospek.
Diakui Sugeng, penghasilan yang didapat mencapai Rp 20 juta setiap tahunnya. Sehari-hari Sugeng berprofesi sebagai tukang bangunan, tukang parkir dan berjualan pulsa. Sebagian pendapatannya digunakan untuk modal berjualan. Ia menjual dengan harga mulai Rp 3000 hingga Rp 100.000 untuk paket pemesanan prakarya.
Semua pedagang mendapatkan informasi perlengkapan yang dibutuhkan dari web brawijaya online serta dari kenalan mahasiswa sekitar tempat tinggal. Diakui salah satu pembeli bernama Arum, maba jurusan sastra Prancis asal Samarinda, keberadaan pedagang ospek sangat membantu.
“Meski pun harga nya sedikit lebih mahal, namun bisa ditawar dan nggak perlu ribet nyari ke tempat-tempat lain seperti percetakan atau toko lain, jadi lebih praktis,” kata Santi, ibu dari Arum yang menemani berbelanja perlengkapan Ospek. (hen/mey).

















