Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 14 Jul 2026

Pemkab Jember Targetkan Food Street Jalan Kartini-Gatot Subroto Beroperasi Akhir 2026


Pemkab Jember Targetkan Food Street Jalan Kartini-Gatot Subroto Beroperasi Akhir 2026 Perbesar

Selasa, 14 Juli 2026 – 20.01 | 1280 kali dilihat

 

Jember, Kabarpas.com – Pemerintah Kabupaten Jember menargetkan kawasan kuliner (food street) di sepanjang Jalan Kartini dan Jalan Gatot Subroto mulai beroperasi pada Desember 2026. Proyek tersebut diproyeksikan menjadi pusat aktivitas ekonomi baru sekaligus ruang publik yang terintegrasi dengan kawasan Stasiun Jember dan Alun-Alun.

Bupati Jember Muhammad Fawait meninjau langsung progres pembangunan kawasan tersebut pada Senin (13/7/2026). Dalam kesempatan itu, ia berdialog dengan warga sekitar untuk menyerap masukan terkait penataan kawasan.

 

“Target kami, pada bulan Desember mendatang, kawasan food street ini sudah bisa diresmikan dan dibuka untuk umum. Tempat ini diproyeksikan menjadi pusat keramaian baru di Jember, mulai sentra kuliner, spot foto estetik, hingga aktivitas hiburan lainnya,” ungkap Fawait.

 

Menurut Fawait, progres pembangunan saat ini telah mencapai sekitar 25 persen. Sejumlah fasilitas pendukung, termasuk penerangan jalan, masih dalam tahap pengerjaan.

 

Meski demikian, pemerintah daerah telah menyiapkan sistem pengelolaan kawasan yang mencakup aspek keamanan, pengaturan lalu lintas, dan kebersihan agar aktivitas di kawasan tersebut berjalan tertib setelah dioperasikan.

 

Pemkab Jember juga menempatkan proyek ini sebagai bagian dari upaya memperkuat sektor ekonomi kerakyatan, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta pedagang kaki lima (PKL).

 

“Penataan ini justru akan meningkatkan nilai kawasan secara signifikan. Dengan infrastruktur yang lebih rapi, bersih, dan tertib, Jalan Gatot Subroto dan Jalan Kartini akan bertransformasi menjadi area bernilai ekonomi tinggi. Ini tentu menjadi bonus dan keuntungan tersendiri bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.

 

Sebagai bentuk dukungan terhadap pelaku usaha, pemerintah akan menyediakan gerobak dengan desain seragam serta sistem pengelolaan kebersihan yang terintegrasi. Kawasan tersebut juga akan dilengkapi panggung hiburan untuk menampilkan kesenian lokal maupun pertunjukan musik dari komunitas kreatif di Jember.

 

Ke depan, konsep food street akan dihubungkan dengan kawasan Stasiun Jember melalui jalur pedestrian. Integrasi tersebut diharapkan memudahkan wisatawan yang tiba menggunakan kereta api untuk berjalan kaki menuju pusat kuliner hingga Alun-Alun Jember.

 

“Stasiun kita sekarang sudah sangat bagus. Ke depan, wisatawan atau warga yang turun dari kereta di Stasiun Jember cukup berjalan kaki untuk menikmati keindahan kota, berwisata kuliner di kawasan food street, hingga terhubung langsung ke Alun-Alun. Ini akan menjadi satu kesatuan destinasi wisata kota yang terpadu,” tuturnya.

Pemkab Jember berharap pengembangan kawasan ini tidak hanya menciptakan ruang publik baru, tetapi juga meningkatkan aktivitas ekonomi, memperkuat sektor pariwisata perkotaan, dan menambah daya tarik Jember sebagai destinasi wisata di Jawa Timur. (dan/ian).

Artikel ini telah dibaca 24 kali

Baca Lainnya

Hanung Bramantyo Angkat Tragedi 1965 Jadi Film Horor Lobang Buaya Sutradara Hanung Bramantyo memilih pendekatan horor untuk mengangkat isu sejarah dan tragedi 1965 dalam film terbarunya, “Lobang Buaya”. Menurut Hanung, horor tidak selalu berkaitan dengan hantu, tetapi juga dapat menggambarkan situasi penuh teror yang dialami masyarakat. Hal itu disampaikan Hanung dalam acara Special Screening film Lubang Buaya yang digelar Adhya Pictures dan Dapur Film bersama Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember di Kota Cinema Mall, Minggu (20/9/2026). Hanung mengatakan salah satu alasan dirinya mengangkat tema 1965 adalah karena film sejarah dinilai belum banyak menarik perhatian penonton muda. Padahal, menurut dia, sebagian besar penonton bioskop saat ini berasal dari kalangan anak muda. Ia melihat sejumlah film dengan tema kehidupan anak muda mampu memperoleh jumlah penonton besar. Sebaliknya, film yang mengangkat sejarah cenderung memiliki jumlah penonton lebih terbatas. Karena itu, Hanung ingin menggunakan medium film untuk memperkenalkan kembali sejarah kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih dekat dengan selera penonton masa kini. “Saya pengin masyarakat Indonesia, terutama anak muda pecinta film, jangan sampai melupakan sebuah tragedi besar di tahun 1965,” ucap Hanung usai nonton bareng. Menurut dia, peristiwa 1965 tidak semata-mata berkaitan dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal di Jakarta. Hanung menilai dampak konflik politik dan ideologi pada periode tersebut juga terjadi di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Ia menyebut konflik pada masa itu menimbulkan kekerasan dan korban dari berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, ia ingin mendorong penonton untuk melihat peristiwa 1965 melalui lebih dari satu perspektif. Hanung juga menekankan pentingnya literasi sejarah. Menurut dia, masyarakat tidak semestinya hanya bergantung pada satu narasi mengenai peristiwa 1965, tetapi juga membaca berbagai buku dan menyaksikan berbagai karya yang membahas peristiwa tersebut dari sudut pandang berbeda. “Jadi tolong jangan percaya pada satu propaganda pemerintah, tapi kita sebagai anak-anak bangsa harus melek literasi,” ujarnya. Pendekatan horor dipilih Hanung karena ia melihat tragedi sejarah tersebut memiliki unsur teror yang kuat. Namun, horor yang dimaksud bukan semata-mata kemunculan hantu atau adegan “jump scare”. Hanung menyebut horor sebagai situasi ketika seseorang berada dalam kondisi penuh tekanan dan ketakutan akibat ancaman yang terjadi di sekitarnya. Menurut dia, kondisi sosial pada 1965 dapat dipahami sebagai situasi horor. Relasi sosial yang sebelumnya normal dapat berubah ketika seseorang dituduh memiliki keterkaitan dengan kelompok tertentu. “Horor itu adalah sebuah genre yang di dalamnya memberikan secara sengaja teror kepada penonton melalui apa pun,” tandasnya. Hanung juga mengaitkan pendekatan tersebut dengan film “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Arifin C. Noer. Menurut dia, film tersebut juga menggunakan sejumlah perangkat sinematik yang membangun rasa takut penonton, meski mengangkat peristiwa sejarah. Karena itu, ia merasa pendekatan horor relevan untuk membawa penonton memasuki suasana psikologis sebuah periode sejarah yang penuh ketegangan. Namun, Hanung menyebut Lobang Buaya lebih tepat disebut sebagai drama misteri investigasi ketimbang film horor murni. “Saya menyebutnya lebih suka drama misteri investigasi. Karena buat saya itu lebih pas daripada sekadar horor,” ujarnya. Selain mengangkat tragedi 1965, Hanung mengatakan film tersebut juga membawa isu sosial mengenai praktik yang merugikan masyarakat desa. Ia menyebut konsep “7 Setan Desa” sebagai salah satu pijakan cerita. Istilah tersebut digunakan dalam film untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang dianggap meresahkan masyarakat, termasuk birokrat korup, rentenir, dan pihak yang berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya. Hanung mengatakan isu tersebut sengaja ditempatkan berdampingan dengan latar sejarah 1965 untuk menghubungkan persoalan masa lalu dengan persoalan sosial yang masih relevan dibicarakan saat ini. Ia juga mengatakan film menjadi medium baginya untuk menyampaikan kegelisahan mengenai kondisi sosial, keagamaan, dan politik. Sebelumnya, Hanung mengangkat isu sosial-keagamaan dalam sejumlah film, termasuk “Tanda Tanya” dan “Perempuan Berkalung Sorban”. “Film itu adalah medium kita untuk speak up, atas kegelisahan saya,” kata dia. Untuk Lobang Buaya, Hanung juga menjanjikan struktur cerita dengan beberapa plot twist. Ia mengatakan pendekatan tersebut banyak dipengaruhi film-film Korea yang menurutnya berani menghadirkan lebih dari satu kejutan dalam sebuah cerita. Sebagai informasi, film Lobang Buaya dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

20 September 2026 - 15:41

POCARI SWEAT Run Bandung 2026: Birukan Bandung di Hari Jadi ke-216

20 September 2026 - 13:52

Cari Aman Bootcamp 2026, MPM Honda Jatim Perkuat Kompetensi Duta Safety Riding di Malang

20 September 2026 - 10:28

Tembakau Paiton VO Probolinggo Resmi Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis

19 September 2026 - 22:55

MPM Honda Hadirkan LAKI CODE, Padukan Kreativitas, Modifikasi dan Night Ride di Malang

19 September 2026 - 22:50

Rajin Kejar Pajak, Camat dan Lurah Jember Dijanjikan Promosi

19 September 2026 - 22:47

Trending di KABAR NUSANTARA