Menu ✖

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Peristiwa · 10 Jul 2018

Sutilah: Kekurangan Gizi di Usia Dini Bisa Sebabkan si Penderita Mudah Sakit


Sutilah: Kekurangan Gizi di Usia Dini Bisa Sebabkan si Penderita Mudah Sakit Perbesar

Reporter : Amelia Putri

Editor : Anis Natasyah

 

Probolinggo, Kabarpas.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo memberikan sosialisasi program Baduta (Bayi Bawah Dua Tahun) di 2 Kecamatan, yakni di Maron dan Tiris dalam rangka mendukung gerakan 1.000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) di Taman Posyandu di Kantor Kecamatan Maron.

Kegiatan ini diikuti oleh 95 orang peserta dan partisipan. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi tentang kebijakan daerah dalam mendukung gerakan 1.000 HPK, program Emo Demo dalam mendukung gerakan 1.000 HPK di Taman Posyandu serta role play Emo Demo ASI saja cukup. Kegiatan ini diakhiri dengan kesepakatan komitmen bersama.

Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Shodiq Tjahjono melalui Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Sutilah mengatakan Indonesia merupakan negara terbesar kelima dengan jumlah anak stunting di dunia. Studi Pemantauan Status Gizi (PSG) Kementerian Kesehatan tahun 2016 mencatat terdapat 28% balita stunting di Indonesia.

“Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Dimana anak secara fisik terlihat lebih pendek daripada anak lain seumurnya,” katanya.

Menurut Sutilah, kekurangan gizi pada usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak, menyebabkan penderitanya mudah sakit, memiliki postur tubuh tidak maksimal saat dewasa dan tidak memiliki kekampuan kognitif yang memadai, sehingga tidak saja mengakibatkan kerugian bagi individu tetapi juga kerugian sosial ekonomi jangka panjang bagi Indonesia.

“Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi prioritas Rekomendasi Kemenkes dan merupakan provinsi terpadat ke-2 di Indonesia dengan jumlah penduduk 40 miliar jiwa dengan prevalensi stunting anak usia 0-59 bulan pada tahun 2017 adalah 26,9%,” jelasnya.

Lebih lanjut Sutilah menerangkan, hasil evaluasi dan pembelajaran dari  program Baduta-1 didapatkan hasil yang signifikan. Yakni, adanya perubahan perilaku di masyarakat tentang menyusui dalam waktu satu jam sejak lahir, pentingnya pemberian ASI Eksklusif serta anak-anak yang mencapai nilai keragaman diet ≥4 kelompok makanan.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan dukungan program dari lintas sektor dan lintas program tingkat kecamatan, adanya dukungan program dari TP PKK di Kecamatan Maron dan Tiris serta adanya dukungan program dari tokoh agama terdiri dari MUI, Fatayat NU dan Aisyah,” pungkasnya. (mel/nis).

Artikel ini telah dibaca 49 kali

Baca Lainnya

Menara Air Pasar Tanjung, Saksi Krisis Air yang Kini Jadi Cagar Budaya Jember

25 September 2026 - 20:31

Lima Objek di Jember Ditetapkan sebagai Cagar Budaya, Pelestarian Jadi Tantangan

25 September 2026 - 20:28

SMPN 10 Jember Resmi Jadi Bangunan Cagar Budaya

25 September 2026 - 20:26

Pedagang Pasar Tanjung Jember Berdamai di Pendopo, Skema Usulan Gus Fawait Disetujui

22 September 2026 - 16:52

POCARI SWEAT Run Bandung 2026: Birukan Bandung di Hari Jadi ke-216

20 September 2026 - 13:52

Dua Wakil Pasuruan Raih Jamsostek Award 2026 Tingkat Jawa Timur

17 September 2026 - 16:21

Trending di Peristiwa