Reporter : Kholid Andika
Editor : Kholid Andika
_________________________________________________________
Sidoarjo (Kabarpas.com) – Bayi yang tidak mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) secara memadai rentan terkena penyakit. Diperkirakan lebih dari satu juta anak meninggal tiap tahun karena penyakit diare, saluran nafas dan infeksi lainnya disebabkan tidak disusui ibunya. Oleh sebab itu, pemberian ASI eksklusif sangat penting bagi kesehatan bayi dan merupakan hak anak untuk mendapatkan derajat kesehatan setinggi-tingginya.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua TP-PKK Kabupaten Sidoarjo, Anik Saiful Ilah saat membuka kegiatan Temu Kader Dalam Rangka Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif yang digelar di Pendopo Delta Wibawa Kabupaten Sidoarjo, Selasa (10/10/2017).
“Kaum ibu harus cerdas artinya betul-betul memahami bahwa memberikan ASI eksklusif itu hukumnya wajib bagi anak. ASI adalah hak anak karena anak-anak inilah yang akan menjadi penerus kita, penerus bangsa ini untuk generasi Kabupaten Sidoarjo yang sehat dan cerdas,” kata Anik Saiful Ilah dalam sambutannya.
Ia mengatakan, program penangulangan penyakit diare sejak lama mengakui bahwa menyusui adalah cara penanggulangan diare. Lewat ASI akan mencegah dehidrasi dan mempercepat penyembuhan bayi penderita diare.
Untuk itu, pihaknya meminta kader PKK agar meningkatkan dan mensukseskan cakupan ASI eksklusif di Kabupaten Sidoarjo. Ibu-ibu anggota PKK juga diharapkan dapat menjadi fasilitator yang dapat memberdayakan masyarakat melalui edukasi pemberian ASI eksklusif.
“Sebagian besar ibu di berbagai negara sudah memberikan makanan dan minuman tambahan bayinya yang belum berusia 6 bulan. Bahkan, banyak ibu yang berhenti memberikan ASI jauh sebelum anaknya berumur 2 tahun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, alasan ibu-ibu tidak memberikan ASI eksklusif yang sering terlontar adalah tidak yakin punya cukup ASI bagi bayinya. Alasan lainnya adalah ibu bekerja di luar rumah dan tidak tahu bagaimana memberikan ASI sambil tetap bekerja. Padahal, pemberian ASI eksklusif sangat berpengaruh pada kesehatan dan tumbuh kembang anak yang optimal.
“Tingginya angka kematian bayi di Kabupaten Sidoarjo disebabkan karena Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) kurang dari 2,5 kg. Penyebab lainnya adalah bayi kurang gizi dan pneumonia. Untuk menurunkan angka kematian tersebut dilakukan intervensi program pemberian ASI eksklusif 0-6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun,” pungkasnya. (lid/lid).

















