Reporter : Hari Purnomo
Editor : Putra
__________________________________
Banyuwangi, (kabarpas.com) – Talenta anak muda Banyuwangi di dunia tarik suara semakin menjamur. Bahkan, kualitas suara pun tidak perlu diragukan lagi, sebab genre lagu yang dinyanyikannya dari berbagai aliran.
Namun yang membuat bangga, mereka tidak melupakan lagu osing. Lagu kebanggaan anak muda Kota Gandung ini gemanya sudah ke seluruh nusantara.
Banyaknya talenta anak muda Banyuwangi di bidang tarik suara ini menginspirasi King’e Production House untuk mengapresiasikan bakat mereka kedalam sebuah karya musik yang memiliki nilai jual.
Produser King’e PH Yz. Justice mengatakan, Banyuwangi selain terkenal dengan wisatanya juga terkenal dengan musik osingnya, musik khas dengan berbahasa asli Banyuwangi ini sangat disukai hampir di seluruh Indonesia.
“Saat kita bepergian ke Surabaya, Bali atau Malang sepanjang perjalanan pasti ada sahabat pemusik jalanan yang menyanyikan lagu Banyuwangi,” katanya kepada Kabarpas.com biro Banyuwangi, Rabu (20/09/2017).
Musik Banyuwangi biasanya dibawakan pada saat pesta pernikahan, pesta rakyat seperti petik laut, promo, bazar, dan acara tahunan seperti tahun baru, hari raya dan acara tertentu lainnya.
“Kami tentu bangga dengan keberhasilan ini, maka sebagai anak muda Banyuwangi kami ingin menjadi bagian dari keberhasilan ini, melalui jalur musik,” ujar alumni SMAN 2 Banyuwangi tahun 1997 ini.
Salah satu debutan awal adalah Maya Aulia. Wanita asli Banyuwangi ini beruntung dipilih oleh King’e PH. Bahkan dia berhasil menyanyikan grand single-nya berjudul Sedelo Baen dan Abang-abang Lambe. Kedua lagu ini pun bisa Anda nikmati di dunia maya. Cukup dengan ketik di youtube.com : Maya Aulia Sedelo Baen, maka sudah bisa menikmati video klipnya tersebut.
“Saya menikmati syair dan musik yang direkomendasi oleh manajemen King’e Production, taste musiknya juga berbeda dari yang biasa saya nyanyikan selama ini,” kata Maya, penyanyi wanita kelahiran Kelurahan Lateng ini kepada Kabarpas.com.
Tak hanya itu, proses pengambilan video klip juga sudah sangat pas, produser ingin mengangkat keberhasilan Banyuwangi, baik dari sisi pembangunan, pariwisata maupun budayanya. Misalnya, album Sedelo Baen mengambil lokasi syuting di Sekolah Pilot yang ada di Blimbingsari.
Selain itu, sang produser juga ingin menyampaikan pesan kepada masyarakat luas bahwa sejak tahun 2013 Banyuwangi memiliki sekolah pilot kedua setelah Curug.
“Nah, inilah yang saya maksud, hasil pembangunan ini harus kita sebarkan ke seluruh dunia agar nama Banyuwangi semakin semerbak,”cetusnya.
Meski orang daerah namun King’e PH sangat memperhatikan kualitas video klip ini. “Video klip kita bisa seperti ibu kota. Maya Aulia sosok penyanyi yang kami prediksi bisa kita orbitkan,” kata Yz Justice.
Ide membuat rumah produksi ini berawal saat sesama alumni SMAN 2 Banyuwangi angkatan 1997 (sekarang SMAN 1 Giri, red) bertemu dalam sebuah reuni bertemu kecaruk maning setelah 20 tahun.
Momen bertemunya kembali para sahabat yang memiliki hobi sama, yakni musik akhirnya melahirkan sebuah ide pendirian Production House.
“Dulu saat masih sekolah kami sering bermain band bersama, setelah lepas SMA kami berpisah, namun di momen lebaran kemarin kami bertemu kembali setelah 20 tahun tidak pernah ada kabar. Untuk mengobati rasa kangen, maka kami sempat bermain band lagi di studio,” ucapnya
Tak disangka, dari obrolan ringan itu akhirnya mereka membuat rumah produksi yang diberi nama King’e PH.
“Dan harapan kami dengan rumah produksi ini minimal bisa memberikan kontribusi kepada tanah kelahiran Banyuwangi. Kepuasan kami adalah ketika para musisi binaan kami bisa mengorbit dengan membawa nama Banyuwangi. Kami hanya bisa membantu mempromosikan Banyuwangi dengan karya seni terutama di bidang musik,” pungkasnya.(har/put).

















