Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Berita Pasuruan · 16 Jul 2026

Wujudkan Lingkungan Ramah Anak dan Mandiri, SLBN 1 Kota Pasuruan Deklarasikan Sekolah ASRI serta Program SIKAP


Wujudkan Lingkungan Ramah Anak dan Mandiri, SLBN 1 Kota Pasuruan Deklarasikan Sekolah ASRI serta Program SIKAP Perbesar

Pasuruan, Kabarpas.com – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Pasuruan, Suryani Firdaus Adi Wibowo, menegaskan komitmen penuhnya dalam mendukung terwujudnya lingkungan sekolah yang ramah anak, hijau, sekaligus produktif.

Komitmen tersebut ditunjukkan secara nyata melalui kehadirannya dalam acara Deklarasi Sekolah ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) sekaligus Peluncuran Program SIKAP (Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan) yang berpusat di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Kota Pasuruan.

Acara strategis ini turut dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Pasuruan Provinsi Jawa Timur, Erwan Tjahjono; Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Pasuruan, Ezzamir Wardana; serta jajaran penyuluh pertanian setempat.

Dalam sambutannya, perempuan yang akrab disapa Bunda Ani ini menyampaikan apresiasi yang tinggi atas transformasi positif serta rentetan prestasi yang berhasil ditorehkan oleh SLBN 1 Kota Pasuruan.

> “Atas nama Pemerintah Kota Pasuruan, kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya dan merasa sangat bangga. SLBN 1 Kota Pasuruan telah berhasil mewujudkan deklarasi SIKAP dan Sekolah ASRI,” ujar Bunda Ani.

>

Ia menilai, lingkungan SLBN 1 Kota Pasuruan kini telah menjelma menjadi area yang luar biasa dan memberikan dampak positif yang besar bagi para siswa. Fasilitas pendukung yang tersedia pun dinilai sudah sangat representatif dan memadai.

Pada momen tersebut, Bunda Ani juga secara khusus memuji prestasi siswa SLBN 1 Kota Pasuruan yang sukses menyabet gelar Juara Favorit dalam ajang perlombaan yang diselenggarakan oleh Kadin, Dekranasda, dan Cak Ning Kota Pasuruan. Menurutnya, pencapaian ini menjadi bukti sahih bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki potensi luar biasa jika terus didukung dan diasah dengan tepat.

“Terima kasih kepada seluruh keluarga besar sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, hingga orang tua yang tiada henti dan konsisten mendampingi anak-anak kita,” tambahnya.

Bunda Ani berharap, SLBN 1 Kota Pasuruan dapat terus konsisten menjadi ekosistem belajar yang aman, nyaman, dan ramah anak. Dengan begitu, para siswa bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, saleh, serta mampu menjadi pemimpin masa depan sesuai dengan potensinya masing-masing.

Sinergi Karakter dan Ketahanan Pangan

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Pasuruan Provinsi Jawa Timur, Erwan Tjahjono, menyatakan bahwa kolaborasi program ini merupakan salah satu agenda prioritas pemerintah dalam membangun karakter siswa berbasis lingkungan.

Melalui gerakan Sekolah ASRI, para siswa diajak untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Langkah konkretnya dimulai dari kebiasaan sederhana namun berdampak besar, seperti membuang sampah pada tempatnya, menekan penggunaan plastik, bergotong-royong menjaga kebersihan, hingga menanam tanaman produktif demi menciptakan lingkungan yang asri.

Di sisi lain, Program SIKAP diorientasikan untuk membangun kesadaran dini mengenai pentingnya ketahanan pangan lewat aktivitas edukatif yang inovatif. Kolaborasi kedua program ini diharapkan tidak hanya melahirkan siswa yang cerdas secara akademik, melainkan juga membentuk generasi yang produktif, berkarakter kuat, dan mandiri.

Rangkaian acara diawali dengan pelaksanaan apel bersama yang diikuti oleh seluruh peserta. Setelah itu, Bunda Ani bersama rombongan meninjau langsung kolam budidaya ikan lele dan nila yang dikelola bersama para siswa.

Sebagai aksi nyata pelestarian lingkungan, dilakukan juga penanaman bibit pohon serta aneka sayuran produktif seperti cabai, terong, dan tomat di area belakang gedung baru sekolah. Suasana acara kian semarak dan interaktif berkat penampilan seni dari para siswa serta pameran produk kerajinan tangan unggulan karya siswa-siswi SLBN 1 Kota Pasuruan. (emn/tin).

Artikel ini telah dibaca 15 kali

Baca Lainnya

Hanung Bramantyo Angkat Tragedi 1965 Jadi Film Horor Lobang Buaya Sutradara Hanung Bramantyo memilih pendekatan horor untuk mengangkat isu sejarah dan tragedi 1965 dalam film terbarunya, “Lobang Buaya”. Menurut Hanung, horor tidak selalu berkaitan dengan hantu, tetapi juga dapat menggambarkan situasi penuh teror yang dialami masyarakat. Hal itu disampaikan Hanung dalam acara Special Screening film Lubang Buaya yang digelar Adhya Pictures dan Dapur Film bersama Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember di Kota Cinema Mall, Minggu (20/9/2026). Hanung mengatakan salah satu alasan dirinya mengangkat tema 1965 adalah karena film sejarah dinilai belum banyak menarik perhatian penonton muda. Padahal, menurut dia, sebagian besar penonton bioskop saat ini berasal dari kalangan anak muda. Ia melihat sejumlah film dengan tema kehidupan anak muda mampu memperoleh jumlah penonton besar. Sebaliknya, film yang mengangkat sejarah cenderung memiliki jumlah penonton lebih terbatas. Karena itu, Hanung ingin menggunakan medium film untuk memperkenalkan kembali sejarah kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih dekat dengan selera penonton masa kini. “Saya pengin masyarakat Indonesia, terutama anak muda pecinta film, jangan sampai melupakan sebuah tragedi besar di tahun 1965,” ucap Hanung usai nonton bareng. Menurut dia, peristiwa 1965 tidak semata-mata berkaitan dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal di Jakarta. Hanung menilai dampak konflik politik dan ideologi pada periode tersebut juga terjadi di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Ia menyebut konflik pada masa itu menimbulkan kekerasan dan korban dari berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, ia ingin mendorong penonton untuk melihat peristiwa 1965 melalui lebih dari satu perspektif. Hanung juga menekankan pentingnya literasi sejarah. Menurut dia, masyarakat tidak semestinya hanya bergantung pada satu narasi mengenai peristiwa 1965, tetapi juga membaca berbagai buku dan menyaksikan berbagai karya yang membahas peristiwa tersebut dari sudut pandang berbeda. “Jadi tolong jangan percaya pada satu propaganda pemerintah, tapi kita sebagai anak-anak bangsa harus melek literasi,” ujarnya. Pendekatan horor dipilih Hanung karena ia melihat tragedi sejarah tersebut memiliki unsur teror yang kuat. Namun, horor yang dimaksud bukan semata-mata kemunculan hantu atau adegan “jump scare”. Hanung menyebut horor sebagai situasi ketika seseorang berada dalam kondisi penuh tekanan dan ketakutan akibat ancaman yang terjadi di sekitarnya. Menurut dia, kondisi sosial pada 1965 dapat dipahami sebagai situasi horor. Relasi sosial yang sebelumnya normal dapat berubah ketika seseorang dituduh memiliki keterkaitan dengan kelompok tertentu. “Horor itu adalah sebuah genre yang di dalamnya memberikan secara sengaja teror kepada penonton melalui apa pun,” tandasnya. Hanung juga mengaitkan pendekatan tersebut dengan film “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Arifin C. Noer. Menurut dia, film tersebut juga menggunakan sejumlah perangkat sinematik yang membangun rasa takut penonton, meski mengangkat peristiwa sejarah. Karena itu, ia merasa pendekatan horor relevan untuk membawa penonton memasuki suasana psikologis sebuah periode sejarah yang penuh ketegangan. Namun, Hanung menyebut Lobang Buaya lebih tepat disebut sebagai drama misteri investigasi ketimbang film horor murni. “Saya menyebutnya lebih suka drama misteri investigasi. Karena buat saya itu lebih pas daripada sekadar horor,” ujarnya. Selain mengangkat tragedi 1965, Hanung mengatakan film tersebut juga membawa isu sosial mengenai praktik yang merugikan masyarakat desa. Ia menyebut konsep “7 Setan Desa” sebagai salah satu pijakan cerita. Istilah tersebut digunakan dalam film untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang dianggap meresahkan masyarakat, termasuk birokrat korup, rentenir, dan pihak yang berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya. Hanung mengatakan isu tersebut sengaja ditempatkan berdampingan dengan latar sejarah 1965 untuk menghubungkan persoalan masa lalu dengan persoalan sosial yang masih relevan dibicarakan saat ini. Ia juga mengatakan film menjadi medium baginya untuk menyampaikan kegelisahan mengenai kondisi sosial, keagamaan, dan politik. Sebelumnya, Hanung mengangkat isu sosial-keagamaan dalam sejumlah film, termasuk “Tanda Tanya” dan “Perempuan Berkalung Sorban”. “Film itu adalah medium kita untuk speak up, atas kegelisahan saya,” kata dia. Untuk Lobang Buaya, Hanung juga menjanjikan struktur cerita dengan beberapa plot twist. Ia mengatakan pendekatan tersebut banyak dipengaruhi film-film Korea yang menurutnya berani menghadirkan lebih dari satu kejutan dalam sebuah cerita. Sebagai informasi, film Lobang Buaya dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

20 September 2026 - 15:41

POCARI SWEAT Run Bandung 2026: Birukan Bandung di Hari Jadi ke-216

20 September 2026 - 13:52

Cari Aman Bootcamp 2026, MPM Honda Jatim Perkuat Kompetensi Duta Safety Riding di Malang

20 September 2026 - 10:28

Tembakau Paiton VO Probolinggo Resmi Kantongi Sertifikat Indikasi Geografis

19 September 2026 - 22:55

MPM Honda Hadirkan LAKI CODE, Padukan Kreativitas, Modifikasi dan Night Ride di Malang

19 September 2026 - 22:50

Rajin Kejar Pajak, Camat dan Lurah Jember Dijanjikan Promosi

19 September 2026 - 22:47

Trending di KABAR NUSANTARA