Menu ✖

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 23 Feb 2026

Jelang Pilkades Serentak 2027, Dinas PMD Jember Petakan Kebutuhan Anggaran dan Skema Teknis Pelaksanaan 


Jelang Pilkades Serentak 2027, Dinas PMD Jember Petakan Kebutuhan Anggaran dan Skema Teknis Pelaksanaan  Perbesar

Senin, 23 Februari 2026 – 07.44 | 962 kali dilihat

 

Jember, Kabarpas.com – Isu masa jabatan kepala desa kembali menghangat di sejumlah desa di Jember. Di warung kopi, balai desa, hingga pertemuan warga, perbincangan tidak jauh dari satu pertanyaan? siapa yang masih bisa maju dan siapa yang harus berhenti pada Pilkades serentak 2027.

Kebingungan itu dipicu beredarnya berbagai tafsir terkait Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 yang mengatur perubahan masa jabatan kepala desa. Di desa-desa yang masa jabatan kadesnya berakhir pada 2026 dan 2027, situasi ini memunculkan spekulasi politik lokal sekaligus menghidupkan kembali peta kekuatan lama.

Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Jember melihat fenomena tersebut sebagai dampak minimnya informasi yang utuh di tingkat masyarakat. Kepala DPMD Adi Wijaya menegaskan bahwa aturan sebenarnya sudah jelas, terutama dalam ketentuan peralihan undang-undang tersebut.

Menurut Adi, kepala desa yang telah menjabat dua periode namun baru memperoleh satu kali perpanjangan masih memiliki kesempatan mencalonkan diri satu kali lagi. Sementara mereka yang sudah menjabat tiga kali hanya mendapatkan tambahan perpanjangan masa jabatan tanpa peluang maju kembali.

Penegasan itu penting karena masa jabatan kepala desa tidak hanya soal administrasi, tetapi juga menyangkut stabilitas politik dan kesinambungan pembangunan di tingkat desa.

Di sisi lain, persiapan Pilkades serentak 2027 mulai membentuk dinamika baru. Pemerintah daerah mencatat sekitar 161 desa akan mengikuti kontestasi tersebut, termasuk desa yang saat ini dipimpin penjabat kepala desa akibat kekosongan jabatan.

Bagi sebagian desa, Pilkades bukan sekadar pergantian pemimpin, melainkan momentum perebutan pengaruh yang menentukan arah kebijakan desa, pengelolaan dana desa, hingga akses terhadap program pembangunan.

Adi Wijaya menyebut, DPMD kini tengah memetakan jumlah pemilih, kebutuhan anggaran, serta skema teknis pelaksanaan. Tahap ini menjadi fondasi sebelum tahapan politik desa benar-benar dimulai, dari penjaringan bakal calon hingga kampanye.

Bupati Jember dan jajaran pemerintah daerah diharapkan segera menetapkan formulasi resmi agar tidak terjadi tarik-menarik kepentingan di tingkat bawah. Tanpa kepastian aturan, potensi konflik horizontal di desa bisa meningkat, terutama di wilayah dengan rivalitas politik yang kuat.

Dalam konteks lebih luas, Pilkades serentak 2027 dipandang sebagai ujian konsolidasi demokrasi di tingkat akar rumput. Desa tidak lagi sekadar entitas administratif, tetapi arena politik yang menentukan distribusi kekuasaan dan sumber daya di level paling dekat dengan masyarakat.

Dengan demikian, kejelasan aturan masa jabatan dan pencalonan kembali bukan hanya menjawab kebingungan warga, melainkan juga menjaga stabilitas politik desa menjelang kontestasi terbesar dalam satu dekade terakhir di Jember. (dan/ian).

Artikel ini telah dibaca 43 kali

Baca Lainnya

9.815 Kuota Bansos Belum Terisi, Pemkab Jember Ajukan Penambahan Penerima

25 September 2026 - 19:13

Pemkot Pasuruan Berangkatkan 28 Peserta Kontingen Porsadin ke Tingkat Jawa Timur

25 September 2026 - 17:06

Ompreng MBG di Jember Disorot karena Disebut Kotor, Pengelola Dapur: Noda Sisa Minyak

25 September 2026 - 16:45

Gus Anam Lepas 20 Santri Andalusia Studi ke Al-Azhar Mesir

25 September 2026 - 13:52

Jember Tawarkan Blueprint Home Care ke Kemenkes, Wamen: Sudah Dikenalkan ke Daerah Lain 

25 September 2026 - 11:46

Gowes Bareng, Mas Adi Tinjau Rusunawa Petahunan hingga Susuri Sungai Melihat Potensi Wilayah Perairan Kota Pasuruan

25 September 2026 - 11:11

Trending di Berita Pasuruan