Selasa, 10 Maret 2026 – 23.34 | 1023 kali dilihat
Jember, Kabarpas.com – Bupati Jember Muhamad Fawait memberikan pengarahan tegas kepada tenaga kesehatan di Puskesmas Ajung saat rangkaian Safari Ramadan hari kedua Pemerintah Kabupaten Jember di Kecamatan Ajung, Selasa (10/3/2026). Di hadapan puluhan tenaga kesehatan, Fawait menekankan pentingnya perubahan budaya pelayanan di puskesmas agar lebih ramah, profesional, dan berorientasi pada masyarakat.
Dalam arahannya, Fawait menyebut RSUD Dr. Saiful Anwar Malang rumah sakit rujukan yang jauh lebih besar dibanding rumah sakit di Jember menjadi bekal untuk melakukan pembenahan layanan kesehatan di daerah.
“RS Haji Saiful Anwar lebih besar dibanding rumah sakit yang ada di Jember. Maka saya berharap dengan pengalaman ini, mudah-mudahan kami bisa merubah wajah pelayanan kesehatan di Kabupaten Jember,” ujarnya.
Namun ia menegaskan bahwa perubahan tersebut tidak bisa dilakukan seorang diri. Menurutnya, peran tenaga kesehatan di puskesmas menjadi kunci utama dalam memperbaiki kualitas layanan kesehatan di tingkat masyarakat.
“Saya tidak bisa melakukan ini sendiri. Saya harus dibantu panjenengan semuanya,” kata Fawait di hadapan para nakes.
Ia mengingatkan bahwa sejak awal menjabat sebagai bupati, salah satu kebijakan yang dilakukan adalah memperbaiki sistem kerja tenaga kesehatan, termasuk mengubah hari kerja dari enam hari menjadi lima hari dalam seminggu.
“Dulu hari kerjanya enam hari, sekarang sudah kita jadikan lima hari. Jangan minta empat hari ya, Bu. Itu sudah optimal,” ujarnya disambut tawa para tenaga kesehatan.
Dalam kesempatan tersebut, Fawait menekankan tiga hal utama yang menurutnya harus segera diperbaiki di puskesmas: pelayanan, fasilitas, dan kinerja layanan sebagai badan layanan umum daerah (BLUD).
Pada aspek pelayanan, ia menyoroti citra puskesmas yang selama ini sering dipersepsikan kurang ramah oleh masyarakat.
“Saya tidak mau puskesmas ini selalu terkenal dengan pelayanan yang tidak baik. Kalau kita jujur, dulu orang sering menganggap puskesmas suka marah-marah atau tidak ramah. Ini yang ingin saya rubah,” katanya.
Menurutnya, puskesmas merupakan institusi layanan jasa yang keberhasilannya sangat bergantung pada kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Apalagi, kata Fawait, jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Ajung mencapai sekitar 81 orang, jumlah yang menurutnya sudah setara dengan kapasitas rumah sakit tipe C.
“Dengan jumlah tenaga kesehatan sebanyak itu, kalau pelayanannya tidak baik menurut saya kebangetan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sebagian besar tenaga kesehatan merupakan aparatur sipil negara yang digaji oleh pemerintah, sehingga pelayanan kepada masyarakat harus menjadi prioritas utama.
Selain pelayanan, Fawait juga menyoroti kondisi fasilitas puskesmas yang menurutnya perlu terus ditingkatkan agar masyarakat merasa nyaman saat berobat.
Ia mencontohkan bahwa pendapatan Puskesmas Ajung yang mencapai sekitar Rp600 juta per bulan seharusnya cukup untuk memperbaiki sarana dan prasarana pelayanan.
“Coba masa iya catnya tidak bagus, AC-nya tidak ada, tamannya tidak tertata. Kalau saya datang lagi ke sini, saya ingin lihat perubahan,” ujarnya.
Ia bahkan menekankan filosofi baru dalam penataan ruang puskesmas. Menurutnya, ruang pelayanan publik harus dibuat lebih baik dibanding ruang kerja pimpinan.
“Filosofinya harus dirubah. Ruangan kepala puskesmas tidak boleh lebih bagus dibanding ruangan pelayanan publik. Kalau ruang Kapus bagus, ruang pelayanan harus lebih bagus lagi,” tegasnya.
Menurut Fawait, standar pelayanan puskesmas tidak boleh kalah dengan klinik swasta.
“Tidak masuk akal kalau pelayanan dan fasilitas puskesmas kalah dengan klinik swasta. Klinik swasta harus menghidupi dirinya sendiri, sementara puskesmas didukung pemerintah,” ujarnya.
Hal lain yang juga menjadi perhatian Fawait adalah optimalisasi kinerja puskesmas sebagai BLUD, terutama setelah Kabupaten Jember menerapkan Universal Health Coverage (UHC).
Ia menilai sistem kapitasi BPJS membuka peluang bagi puskesmas untuk meningkatkan pelayanan sekaligus memperkuat pendapatan layanan kesehatan.
Karena itu, ia mendorong seluruh tenaga kesehatan untuk aktif menjangkau masyarakat agar memanfaatkan layanan kesehatan di puskesmas.
“Marketing puskesmas ini siapa? Ya panjenengan semua. Jumlahnya lebih dari 80 orang. Bagaimana caranya masyarakat yang belum terdaftar bisa masuk ke puskesmas,” tandasnya. (dan/ian).

















