Selasa, 07 April 2026 – 09.46 | 1310 kali dilihat
Jember, Kabarpas.com – Di sela agenda Bunga Desaku di Kecamatan Mumbulsari, Senin (6/4/2026), Bupati Jember Muhammad Fawait menyempatkan diri meninjau langsung lokasi banjir yang merendam kawasan jembatan dan pasar setempat. Air setinggi sekitar 60 sentimeter menggenangi area tersebut setelah hujan deras mengguyur wilayah itu.
Kunjungan itu bukan sekadar inspeksi rutin. Fawait yang datang bareng Ketua DPRD Ahmad Halim mencoba membaca langsung sebab-musabab banjir yang selama ini dikeluhkan warga. Dari pengamatan awal, ia menduga persoalan tidak berhenti pada tingginya curah hujan, tetapi juga pada kondisi sungai yang mengalami pendangkalan serta penumpukan sampah.
“Ini kebetulan bersamaan dengan hujan deras, dan terbukti keluhan masyarakat terkait banjir memang terjadi. Kami melihat ada indikasi pendangkalan sungai dan sampah yang memperparah kondisi,” kata Fawait di lokasi, Senin malam.
Ia menyebut pemerintah daerah telah menyiapkan langkah darurat untuk merespons kondisi tersebut, terutama dalam situasi banjir yang terjadi berulang. Namun, karena aliran sungai berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi, penanganan jangka panjang tidak bisa dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah kabupaten.
Karena itu, Fawait memastikan akan segera berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mendorong pengerukan sungai sebagai solusi utama.
“Kami akan menyampaikan secara resmi ke pemerintah provinsi agar dilakukan pengerukan, karena ini kewenangan provinsi dan diduga kuat menjadi penyebab banjir,” ujarnya.
Di sisi lain, ia menyinggung bahwa infrastruktur jalan di kawasan tersebut sebenarnya baru saja diperbaiki melalui pengaspalan oleh Pemkab Jember. Namun, perbaikan jalan tidak cukup jika persoalan utama berupa aliran air belum tertangani.
Bagi Fawait, penanganan banjir tidak bisa dilakukan dengan pendekatan tunggal. Ia menilai perlu ada pemetaan menyeluruh untuk membedakan penyebab banjir di tiap wilayah, apakah karena sistem drainase, kondisi sungai, atau faktor cuaca ekstrem.
“Kalau memang banjir akibat saluran, tentu bisa kita atasi. Tapi kalau karena curah hujan tinggi, penanganannya berbeda. Ke depan akan kita petakan secara menyeluruh,” katanya.
Langkah pemetaan itu penting, terutama untuk menentukan prioritas penanganan dan membagi kewenangan antara pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat. Tidak semua titik banjir, menurutnya, berada dalam kendali langsung Pemkab Jember.
Kunjungan ke lokasi banjir di tengah agenda Bunga Desaku menunjukkan bagaimana program tersebut tidak hanya menjadi forum serap aspirasi, tetapi juga ruang bagi kepala daerah untuk memverifikasi langsung kondisi di lapangan. Dari situ, keputusan tidak semata bertumpu pada laporan administratif, melainkan pada situasi riil yang dihadapi warga.
Fawait menegaskan, penanganan banjir akan dilakukan melalui kombinasi langkah cepat dan koordinasi lintas pemerintah. Selain respons darurat di lapangan, ia membuka kemungkinan kerja sama lebih luas dengan pemerintah provinsi maupun pusat untuk solusi jangka panjang.
“Ini tidak bisa diselesaikan sendiri. Kita akan koordinasi dengan provinsi dan pusat agar penanganannya lebih komprehensif,” tandasnya. (dan/ian).

















