Menu ✖

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Teras · 22 Jul 2016

Mengapa Pekerja Generasi-Y Tidak Bahagia Dalam Bekerja?


					Mengapa Pekerja Generasi-Y Tidak Bahagia Dalam Bekerja? Perbesar

Jakarta (Kabarpas.com) – Survei JobStreet.com Indonesia yang dilakukan pada periode Juni ke Juli 2016 kepada 27.000 responden mengenai motivasi kebahagiaan di tempat bekerja mengungkapkan bahwa 33,4% responden yang merupakan Generasi Y dengan rentan usia 22-26 tahun dan pengalaman bekerja 1 – 4 tahun menyatakan mereka tidak bahagia di tempat kerja. Menurut mereka tiga faktor utama yang menciptakan ketidakbahagiaan ini antara lain kesempatan pengembangan karier yang terbatas, jumlah insentif yang kurang menggiurkan serta gaya kepimimpinan manajemen yang kaku.

Sebagaimana siaran pers yang diterima redaksi Kabarpas.com dari JobStreet.com Indonesia disebutkan, hal yang cukup mencengangkan dari hasil survei ini ialah Generasi Y tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan karier di tempat bekerja sehingga terbentuk ketidakpuasan di tempat bekerja. Sebanyak 6,000 responden merasa bahwa pekerjaan yang dilakukan memiliki variasi pekerjaan yang tidak memperkaya pengalaman bekerja.

Sejumlah 3,700 responden yang menyatakan dirinya bekerja sebagai administrasi serta akuntansi yang berjumlah 1,800 responden menyatakan ketidakpuasan akan hal ini. Ada sebuah harapan dari para responden untuk bisa berpindah ke fungsi pekerjaan yang berbeda untuk bisa meningkatkan keahliannya. Akan tetapi, hal ini kerap tidak terwujud karena kurangnya perhatian manajemen terhadap perkembangan berkarier seorang karyawan di perusahaan tersebut.

Selain itu, insentif yang diberikan oleh perusahaan tidak cukup untuk membahagiakan para Generasi Y. Insentif dapat berupa gaji pokok, bonus, kesehatan, transportasi serta komunikasi. Sayangnya, sebanyak 6,200 responden merasa bahwa bonus yang diberikan perusahaan dalam bentuk pembagian keuntungan kinerja perusahaan serta prestasi mereka tidaklah sepadan. Mereka mengharapkan bahwa jumlah yang diberikan dapat lebih besar.

Terakhir, faktor yang menciptakan ketidakbahagiaan di tempat bekerja ialah gaya kepemimpinan otoritarianisme. Sebanyak 5,500 responden menyatakan bahwa para atasan tidak memberikan kepercayaan serta jarang mendelegasikan pekerjaan. Dengan begitu, para Generasi Y harus menunggu agar pekerjaan diberikan sehingga memberikan dampak pada rendahnya rasa bangga terhadap pekerjaan yang dilakukan.

Untuk menyiasati ketidakbahagiaan para pekerja Generasi Y, perusahaan dapat meningkatkan jumlah gaji yang diberikan berdasarkan kinerja di tempat bekerja. Hal ini diungkapkan oleh 5,500 responden yang menjawab survei dengan alasan dapat meningkatkan motivasi untuk bekerja.

Dapat disimpulkan bahwa tunjangan finansial menjadi faktor utama para pekerja Generasi Y untuk merasa bahagia di tempat bekerja. Akan tetapi, apabila perusahaan tidak dapat membenahi kesejahtraan pekerjanya dengan menciptakan gaya kepimpinan yang mampu memberikan kepercayaannya kepada pekerjanya maka ketidakbahagiaan akan sulit diciptakan di tempat bekerja. (***/tin).

Artikel ini telah dibaca 18 kali

Baca Lainnya

Cerdas Berdemo, Mahasiswa Harus Tingkatkan Reponsif Membaca dan Diskusi

27 September 2019 - 09:42

Tips Menambah Daya Ingat

19 Desember 2018 - 12:55

Inilah 5 Tips Aman Pencopet Saat Libur Lebaran

18 Juni 2018 - 16:15

Sungai Dayang, Potensi Wisata Kabupaten Pasuruan yang Belum Dilirik

1 April 2018 - 17:42

Liga Champions 2018 Babak 16 Besar Akan Dimulai Dini Hari Nanti

6 Maret 2018 - 19:43

Denting Waktu

7 Januari 2018 - 19:07

Trending di Teras