Pasuruan, Kabarpas.com — Badan Gizi Nasional (BGN) resmi memperketat ketentuan menu susu hewani dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kebijakan ini mewajibkan produk susu yang disalurkan mengandung minimal 80 persen susu segar murni, serta bebas dari gula tambahan, bahan pengawet, dan perasa sintetis. Aturan ini mencakup seluruh varian olahan, mulai dari susu pasteurisasi, UHT, hingga susu steril.
Langkah strategis tersebut ditujukan untuk memastikan pasokan nutrisi alami berkualitas tinggi bagi penerima manfaat, khususnya ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan peserta didik di seluruh Indonesia. Selain fokus pada peningkatan gizi, regulasi ini menetapkan skema penyerapan susu peternak lokal dengan patokan harga di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yakni sebesar Rp3.000 untuk kemasan 125 ml dan Rp4.500 untuk kemasan 200 ml. Pemangkasan rantai distribusi ini diharapkan memberi kepastian pasar sekaligus mendongkrak pendapatan riil peternak sapi perah daerah.
Sekretaris Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) sekaligus Ketua KUTT Suka Makmur, Evi Zainal Abidin, menilai kebijakan tersebut sebagai wujud nyata keberpihakan negara terhadap peternak lokal dan kedaulatan gizi nasional.
”Ini momentum emas yang lama dinantikan. Standar tinggi 80 persen susu segar ini menjadi tonggak yang menaikkan kelas kualitas produk susu nasional, baik untuk kebutuhan program pemerintah maupun pasar komersial umum,” ujar Evi.
Evi menjelaskan, kebijakan ini berpotensi memicu efek domino positif di sektor industri pengolahan susu komersial. Standar baru MBG dinilai dapat mengedukasi masyarakat luas mengenai pentingnya komposisi susu segar murni, sehingga produsen terdorong meningkatkan mutu produk reguler di pasar.

Menjawab lonjakan kebutuhan pasokan tersebut, langkah konkret langsung diambil di tingkat hulu. Peternak anggota Koperasi Suka Makmur saat ini telah berproses untuk kembali mendatangkan sapi perah impor langsung dari Tasmania, Australia, sebanyak 800 ekor. Penambahan populasi indukan produktif ini diproyeksikan tiba di Indonesia pada Maret 2027 guna melipatgandakan kapasitas produksi harian susu segar peternak lokal secara signifikan.
Langkah ekspansi populasi tersebut dibarengi kesiapan koperasi dan peternak dalam memperkuat infrastruktur logistik, terutama sistem rantai dingin (cold chain system). Penguatan rantai pendingin ini sangat krusial, khususnya pada varian susu pasteurisasi, demi menjaga keutuhan nilai biologis gizi, kalsium, dan fosfor agar terserap optimal oleh tubuh anak-anak maupun ibu hamil.
Integrasi antara regulasi pemerintah, peningkatan populasi sapi perah, kesiapan rantai dingin koperasi, serta kapasitas peternak lokal ini diharapkan mempercepat penurunan angka stunting sekaligus menopang pembentukan generasi unggul Indonesia menuju Generasi Emas 2045. (ajo/ian).

















