Pasuruan, Kabarpas.com – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 tidak selalu harus dirayakan melalui kegiatan formal dan seremonial. PC IPNU IPPNU Kota Pasuruan menghadirkan pendekatan berbeda melalui kegiatan bertajuk “Teras Kumpul” dengan mengusung tema “Seni, Kata, dan Makna: Merawat Tradisi, Berkarya untuk Pasuruan Madinah Van Java”.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (30/10/2026) di halaman Gedung Tourist Information Center (TIC) Kota Pasuruan ini menjadi ruang ekspresi sekaligus wadah kreativitas bagi generasi muda, khususnya pelajar SMP dan SMA di Kota Pasuruan.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan, kemudian dilanjutkan pembacaan puisi oleh sastrawan Zainul Arifin atau yang akrab disapa Bang Jay. Suasana semakin semarak ketika peserta mengikuti kegiatan live art kaligrafi dan mural menggunakan media tote bag. Melalui kegiatan tersebut, para peserta diberi ruang untuk menuangkan kreativitas sekaligus memadukan nilai seni dengan identitas budaya dan keislaman.
Tidak hanya berfokus pada seni rupa dan sastra, Teras Kumpul juga menghadirkan ruang diskusi interaktif melalui sesi tanya jawab bertema “Sarung, Skena, dan Smartphone: Cara Santri Gen-Z Bersuara”.
Diskusi tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Shohibul Hujjah selaku CEO Kabarpas.com dan Mochammad Taufiq selaku Rektor Universitas PGRI Wiranegara. Keduanya berbagi pandangan mengenai bagaimana generasi muda, khususnya kalangan santri, dapat mengekspresikan gagasan dan nilai-nilai keislaman di tengah perkembangan budaya populer serta teknologi digital.
Ketua PC IPNU Kota Pasuruan, Mochamad Izzat Nurissobakh, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya menghadirkan peringatan Hari Santri dengan konsep yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.
“Selama ini peringatan Hari Santri kan identik dengan acara formal atau di ruang tertutup. Nah, kita bawa spirit santri itu ke ruang publik dengan bahasa yang paling gampang diterima Gen Z: seni rupa, musik indie, dan tongkrongan santai,” ungkapnya.
Menurutnya, santri dan pelajar tidak seharusnya dipandang sebagai kelompok yang hanya berkutat pada kegiatan keagamaan formal. Mereka juga memiliki ruang untuk berkembang, berkarya, dan mengikuti dinamika zaman tanpa harus kehilangan nilai-nilai yang menjadi identitasnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan penilaian hasil karya kaligrafi dan mural pada tote bag oleh dewan juri yang berasal dari kalangan seniman, yakni Mas Teguh dan Mas Aan. Penilaian tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas serta keberanian peserta dalam menuangkan gagasan melalui karya seni.
Melalui Teras Kumpul, PC IPNU IPPNU Kota Pasuruan berharap generasi muda semakin memahami bahwa identitas sebagai santri dan pelajar yang menjunjung nilai-nilai agama tidak menjadi penghalang untuk tampil kreatif dan relevan di tengah perkembangan zaman.
“Harapannya, anak muda Pasuruan makin sadar kalau jadi santri atau pelajar yang punya value agama itu tetap bisa tampil keren, relevan, dan kreatif di era digital,” tambah Izzat.
Teras Kumpul pun menjadi salah satu upaya menghadirkan semangat Hari Santri melalui pendekatan yang lebih terbuka dan partisipatif. Sebuah pesan bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk mengikuti perkembangan zaman, melainkan dapat terus dirawat dan dikembangkan melalui kreativitas generasi muda. (mid/ian).

















