Banyuwangi (Kabarpas.com) – Susahnya untuk memperoleh bahan dasar pembuatan batu bata, membuat produksi pengrajin batu bata di Dusun Bades, Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi menurun.
Hal tersebut disampaikan oleh Heriyanto (38) yang merupakan pengrajin batu bata di wilayah setempat. Menurutnya bahan dasar batu bata semakin susah, lantaran tidak banyak orang yang menjual tanah liat di kebun-kebun yang biasa menjualnya.
“Sekarang pengrajin harus mendatangkan tanah gunung untuk membuat batu bata tersebut,” ujarnya kepada Kabarpas.com sambil memggiling bahan dasar batu bata, Senin (08/08/2016).
Heri menambahkah, dulunya harga per damp truk tanah liat kisaran Rp. 200 ribu. Namun, sekarang mengalami kenaikan sampai Rp. 250 ribu hingga Rp. 260 ribu. “Itu pun kita harus memisahkan terlebih dahulu, batu gunung yang tercampur pada tanah tersebut,” imbuhnya.
Jika dibandingkan dengan harga jual perseribu batu bata merah yakni Rp.400 ribu, hal ini membuat laba yang diterima pengrajin semakin menipis.
“Sebenarnya ya nipis sekali, tapi kita mau kerja apa lagi, dari pada nganggur.” ucap Heri kepada Kabarpas.com.
Sementara itu, salah satu pembeli batu bata merah, Subur Rianto (45) mengatakan, harga perseribu batu bata merah mencapai Rp. 450 ribu,
“Harga tersebut jika kita mengabil dari pengrajin, kalau diantar sampai rumah bisa memcapai Rp. 550 ribu,” kata pria asal Dusun Krajan, Desa Pesanggaran, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.
Subur menambahkan, sampai saat ini dirinya belum pernah kesulitan dalam membeli batu bata merah.
“Ya karena kita sudah mempunyai banyak langganan pengrajin batu bata merah,” pungkas pria yang berprofesi sebagai kontraktor tersebut. (dik/tin).












