Oleh: Pendik, Banyuwangi
(Kabarpas.com) – BANYUWANGI Jazz Patrol adalah nama kelompok musik yang didirikan oleh seniman-seniman dari kelurahan Temenggungan. Kelompok ini spesialis memainkan lagu-lagu Banyuwangi berbahasa Osing, terutama lagu-lagu kuno, dalam format musik patrol Banyuwangi-an, yang dikreasikan dengan aransemen irama musik jazz.
Grup ini merupakan bagian dari Banyuwangi Putra, kelompok kesenian dari Kampong Temenggungan yang didirikan oleh almarhum Bapak Kacung Tarmat sejak tahun 1977. Tiga musisi memainkan pukulan perkusif pada alat musik katir, yaitu potongan bambu satu ruas dengan dua lubang resonansi berupa celah memanjang yang dipukul dengan dua stick kayu, bersahutan dengan suara kluncing (triangle) khas Banyuwangi dan marakas bambu.
Ketiga jenis alat musik ini menjadi pengisi ketukan yang dinamis bagi permainan nada-nada pentatonik angklung dan seruling, yang diiringi oleh petikan gitar akustik, kocokan cuk dan ukulele, tiupan harmonika, serta betotan cello bass.
Nyanyian lagu-lagu berbahasa Osing dengan balutan irama musik jazz mengalun ritmik, mengiringi gerakan dinamis beberapa turis bule menari dengan berkalung selendang gandrung. Seperti itulah biasanya pentas-pentas sederhana grup Banyuwangi Jazz Patrol yang biasa mereka lakukan di panggung jalanan Kampong Wisata Temenggungan sebagai sebuah paket wisata seni budaya.
Di kelurahan Temenggungan, yang kini lebih dikenal dengan sebutan KAWITAN (Kampong Wisata Temenggungan), Banyuwangi Jazz Patrol cukup sering melakukan pementasan sebagai sajian paket wisata bagi turis-turis yang berkunjung ke kampung ini. Paket wisata andalan Kawitan adalah Paket Wisata Seni Budaya, yaitu menonton performance kesenian tradisional dan jazz patrol. Acara ini digelar pada hari ini (13/08/2016) yang bertepatan dengan malam minggu.
Ada dua macam pementasan, pementasan pertunjukan, yaitu pentas di malam hari, dengan penataan panggung, dekorasi, pencahayaan, dan kostum; dan yang kedua adalah pentas kecil, yaitu menonton aktifitas latihan berkesenian, di jalanan, tanpa panggung khusus, tanpa dekorasi, tanpa lighting, dilakukan siang atau sore hari, dan tanpa kostum khusus. Kedua jenis pementasan ini seringkali dijual satu paket dengan coffee break, makan siang, atau makan malam.
Yang unik, dalam setiap pementasan yang mereka lakukan, selalu terjadi interaksi yang sangat cair antara penonton dan pemain musik. Para seniman Temenggungan berusaha agar tidak ada jarak dengan penonton, baik penonton dari turis ataupun warga kampung yg hadir menonton. Penonton boleh ikut menyanyi, boleh memainkan alat musik, boleh menari, yang penting semua harus senang.
Selain sebagai paket wisata seni budaya, Banyuwangi Jazz Patrol juga memiliki tujuan besar untuk melestarikan lagu-lagu kuno Banyuwangi. Lagu-lagu lama biasanya memiliki tema lirik yang kuat, sayang kini banyak dilupakan. Kalah dengan lagu-lagu baru yang seringkali tidak memiliki tema kuat, bahkan terkadang tidak lagi menggunakan nada pentatonis slendro Banyuwangi do-re-mi-sol-la, sehingga tak ada bedanya dengan lagu-lagu pop umum dengan nada diatonik, namun menggunakan bahasa Osing.
Dengan membawakan lagu-lagu asli Banyuwangi, mereka selalu mendapatkan sambutan positif dari penonton. Banyak orang baru menyadari bahwa lagu-lagu Banyuwangi dengan nada-nada pentatonis ternyata sangat cocok dimainkan dalam aransemen musik jazz.
Di tengah ramainya event-event jazz dalam rangkaian Banyuwangi Festival, yang mendatangkan bintang tamu musisi-musisi jazz kelas nasional, kelompok Banyuwangi Jazz Patrol justru menjadi undangan sebagai bintang tamu dalam event Malang Jazz Festival 2016 di kota Malang pada bulan Mei lalu. Dalam event yg dihadiri tak kurang dari 4000 orang penonton ini, selain lima lagu yg mereka bawakan sendiri, grup ini juga diminta tampil berkolaborasi dengan musisi-musisi jazz papan atas Trie Utami dan Nita Aartsen and Friends, dan Jean Sebastian (pemain terompet dari Perancis).
Untuk event Temenggungan Jazz Ethno, kedatangan Claude Colpaert, musisi jazz sekaligus presiden Jazz en Nord Festival, organisasi penyelenggara festival jazz terbesar di Perancis Utara, bermula saat Claude yang secara tidak sengaja melihat video Banyuwangi Jazz Patrol di sosial media Facebook. Claude merasa sangat tertarik, karena musik jazz patrol yang dimainkan seniman-seniman Banyuwangi menurutnya sangat unik, dan ia belum pernah mendengar musik yang seperti ini sebelumnya, karena itu ia terus mencari video-video jazz patrol yang lain di Facebook maupun Youtube.
Claude kebetulan juga sangat tertarik dengan gamelan, di Perancis ia biasa melakukan eksplorasi memainkan gangsa gantung, instrumen gamelan Bali, dalam performance musik jazz maupun musik eksperimental. Claude baru tahu bahwa ada gamelan Banyuwangi yg ternyata memiliki karakter berbeda dengan gamelan Bali maupun gamelan Jawa yang ia ketahui. Claude sangat apresiatif sekali melihat video di sosial media anak-anak kecil Kampong Temenggungan memainkan gamelan dengan sangat cepat dan dinamis.
Dari situlah kemudian Claude berusaha mengontak Banyuwangi Jazz Patrol melalui inbox facebook Kampong Wisata Temenggungan. Karena kebetulan Claude sedang akan melakukan rangkaian performance di Bali, maka sekalian ia mengagendakan untuk perlu bisa melakukan pentas kolaborasi bersama grup Banyuwangi Jazz Patrol dan grup gamelan anak Banyuwangi Putra Junior. (***/gus).












