Jakarta (Kabarpas.com) – Dalam 20 tahun terakhir ini, terutama pasca Muktamar Aceh tahun 1995, Muhammadiyah mengalami dinamika yang luar biasa. Dinamika ini kurang terbaca oleh para jurnalis beragam media, baik nasional maupun internasional. Dinamika ini juga tak secara utuh tertangkap oleh para pengamat kajian keislaman, baik sarjana dalam negeri maupun sarjana asing.
Dan dinamika tersebut, begitu dirasakan di internal Muhammadiyah lalu kemudian dicatat dan dipublikasikan sendiri oleh sarjana dan aktivis Muhammadiyah melalui penerbitan 12+ buku yang diluncurkan dan dibedah.
Kegiatan peluncuran dan bedah buku yang dilaksanakan di Aula KH Ahmad Dahlan, Kantor PP Muhammadiyah Menteng Raya Jakarta ini, menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya: Prof. Azyumardi Azra, CBE (Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Drs. Hajriyanto Y. Thohari, MA (Ketua PP Muhammadiyah), dan Dr. Haidar Bagir, MA (Presdir Grup Mizan).
Acara ini dipandu oleh Dr. Ahmad Najib Burhani yang juga merupakan peneliti LIPI. Kegiatan ini sendiri terselenggara atas kerjasama Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah bersama LazisMu, Penerbit Mizan, dan Majalah Monday.
“Beberapa buku yang diluncurkan dan dibedah pada hari ini adalah karya-karya sarjana Muhammadiyah, mereka yang tahu secara utuh dan mendalam dapur organisasi ini,” ungkap Dr. Ahmad Najib Burhani, Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah kepada Kabarpas.com.
Dijelaskan, beberapa buku itu menggambarkan dan menganalisis berbagai perkembangan, ekspansi, dan juga konflik internal yang ada di Muhammadiyah.
Sejalan dengan Burhani, Prof. Azyumardi Azra, CBE, salah satu narasumber dalam kegiatan ini menyatakan, karya-karya tersebut lebih banyak terkait dengan perkembangan mutakhir, terutama dari perspektif ‘orang dalam’ (from within).
“Peluncuran 12 buku tentang Muhammadiyah ini memperlihatkan bahwa organisasi ini merupakan salah satu dari sedikit subyek kajian Islam Indonesia yang paling banyak dikaji oleh kalangan akademisi,” kata Azyumardi Azra.
Buku-buku lainnya menuliskan tentang bagaimana Muhammadiyah merespon berbagai isu dunia seperti persoalan khilafah, terorisme, trans-nasionalisme, liberalisme, konservatisme, dan global kapitalisme. Ada juga buku yang menjelaskan tentang benturan antara Muhammadiyah dan ormas Islam lain, semisal NU (Nahdlatul Ulama); perdebatan tentang isu gender; dan juga keterpinggiran ataupun kesuksesan Muhammadiyah dalam politik lokal dan nasional.
Pada November 2016 ini, Muhammadiyah memperingati Milad ke-104. Dalam memasuki era global yang pesat ini, Muhammadiyah harus menghadapi berbagai tantangan yang belum pernah dihadapi sepanjang hidupnya. Misalnya, ia harus berhadapan dengan masifnya pengaruh globalisasi yang memfasilitasi hadirnya berbagai gerakan trans-nasional di Indonesia semisal Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh, dan Gulent Movement.
Pada sisi lain, Muhammadiyah harus menghadapi kebangkitan kembali berbagai identitas dan budaya lokal yang dulu pernah diduga akan punah seperti agama leluhur dan gerakan kultural lainnya. Pengaruh global dan lokal itu membuat internal Muhammadiyah sempat mengalami dinamika yang cukup hangat.
Sementara itu, Prof. Dadang Kahmad, Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi Majelis Pustaka dan Informasi, menyatakan bahwa kegiatan ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, tentu saja, adalah sebagai bagian dari rangkaian Milad Muhammadiyah ke-104 Masehi atau ke-107 Hijriyah. Kedua, ia diharapkan memberikan informasi termutakhir tentang dinamika dan perkembangan organisasi modernis terbesar di Indonesia dengan mempelajari isi dari buku-buku yang diterbitkan pada tahun 2016 ini.
Dalam perkembangannya, bisa dikatakan Muhammadiyah cukup berhasil dalam upaya pendirian lembaga pendidikan formal dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.
“Namun dalam konteks penerbitan, kepustakaan, dan informasi, Muhammadiyah belum berhasil. Media dan penerbitan bukan dikuasai oleh Muhammadiyah, tapi oleh perusahaan penerbitan Nasional semisal Jawa Pos, Kompas-Gramedia, Mizan, Republika, dan MNC,” kata Prof Dadang sebagaimana disampaikan dalam sambutannya.
Oleh karena itu, dirinya berharap kultur ilmiah dan tradisi menulis perlu terus disemangati. Peluncuran dan bedah buku ini diharapkan bisa memberi motivasi terhadap bangkitnya Gerakan Literasi Muhammadiyah, khususnya dalam bidang penerbitan. (ida/gus).












