Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Kabar Probolinggo · 9 Des 2017

Jelang Akhir Tahun, Petani Probolinggo Keluhkan Harga Cabai Turun


Jelang Akhir Tahun, Petani Probolinggo Keluhkan Harga Cabai Turun Perbesar

Reporter: Mahfudz
Editor : Anis Natasya

Probolinggo, Kabarpas.com – Harga cabai di tingkat petani di Kabupaten Probolinggo mulai anjlok. Bahkan harga terendahnya sampai mencapai Rp 4.000 per kg untuk cabai kuning dan hijau.

Turunnya harga cabai ini terjadi sejak beberapa pekan lalu. Harga cabai rawit merah yang sudah matang kemerahan dijual mulai Rp 7.500-7000 per kg. Sementara cabai yang masih kuning harganya jual paling tinggi Rp 4.000 per kg.

Harga jenis cabai besar hijau bahkan lebih rendah dibandingkan harga cabai besar merah. Harga jual panen cabai besar hijau hanya Rp 4.000 per kg, sedangkan harga cabai besar merah Rp 6.000 per kg. Dengan harga panen yang rendah ini, petani mengaku rugi, karena penjualan hasil panen tidak menutup biaya tanam dan perawatan yang sudah dikeluarkan selama 3 bulan.

Bahkan tidak sedikit petani yang membiarkan tanamannya mati karena harganya yang terlalu rendah. Seperti yang dialami oleh Salim (60 th), asal Desa Temenggungan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo, Sabtu (09/12/2017).

Saat musim tahun ini dia mengaku menanam cabai seluas 500 meter persegi. Secara rinci, petani ini tidak bisa menyebutkan jumlah biaya yang dikeluarkan selama masa tanam. Namun yang jelas, hasil panen tidak sebanding dengan ongkos yang dikeluarkan.

“Harga cabai rawit yang sudah merah Rp 7.500 per kg tapi yang masih kuning paling Rp 4.000 per kg. Harga segini termasuk murah sekali, kecuali kalau harga diatas Rp 20.000 baru petani ada hasilnya,” ujar Salim.

Yang menyebabkan ongkos tanam mahal kata Salim adalah persoalan hama. “Hama cabai susah diberantas karena tersembunyi. Sehingga membutuhkan pengobatan yang lebih banyak dan mahal,” tukasnya.

Petani cabai lain, Joni (40 th), warga Desa Brani Wetan Kecamatan Maron yang mengaku saat panen harus turun sendiri untuk memetik cabainya. Ia mengaku tak berani mempekerjakan buruh petik karena biayanya mahal. “Biaya untuk kuli petik sekarang mahal dan hasil panen habis buat bayar tenaga,” ungkapnya.

Sejak harga cabai anjlok, petani langsung memanen sendiri buah cabainya. Bahkan tidak sedikit yang membiarkan tanamannya mati dan buahnya mengering karena ditelantarkan.

“Nasib petani cabai besar pada musim panen ini memang lebih terpuruk. Harga jual cabai besar terpaut cukup jauh dengan cabai rawit merah. Sebagai petani kami berharap harga cabai segera naik agar bisa memperoleh hasil meningkat,” katanya. (pu2t/nis)

Artikel ini telah dibaca 30 kali

Baca Lainnya

Disnaker Kabupaten Probolinggo Perkuat Layanan Kerja Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas

29 Juni 2026 - 05:59

PC LKNU Kraksaan Gelar Khitanan Massal Gratis, 44 Anak Berhasil Dikhitan

23 Juni 2026 - 07:57

KKG Multigrade Wonomerto-Sumberasih Perkuat Pembelajaran Kelas Rangkap

19 Juni 2026 - 17:34

BPPKAD Kabupaten Probolinggo Gelar Pembinaan Penatausahaan Keuangan Bagi Pejabat Pengelola Keuangan Daerah 2026

18 Juni 2026 - 20:43

Terlilit Ekonomi, Oknum P3K Nekat Curi Traktor

16 Juni 2026 - 09:13

DKUPP Kabupaten Probolinggo Perkuat Pembinaan KDKMP, Siapkan Kabupaten Probolinggo Tuan Rumah Harkop Jatim

15 Juni 2026 - 14:07

Trending di Kabar Probolinggo