Oleh: Prof Abdul Haris, Rektor UIN Malang
Usai gempa NTB.
Kini terjadi di Palu lagi.
Peristiwa alam yang terjadi.
Boleh orang menafsirkan sendiri.
Dengan perspektif dan pandangan visi.
Sampai pun dengan sains maupun dengan religi.
Sama-sama absah tanpa mengurangi nilai.
Meski terjadi karena natural law tapi ada yang tersembunyi.
Pesan apakah yang tersampai dengan peristiwa yang terjadi.
Lihat saja adakah korelasi.
Gempa bumi dan pilihan presiden RI.
Sulit rasanya menghubungkan variabel bagi akademisi.
Bahkan bisa juga ditertawai bak orang yang tak sadarkan diri.
Ada-ada saja menulis puisi dengan tema yang fantasi.
Dibalik semua yang tidak bisa diobservasi dan diamati.
Bahkan cendikiawan sedunia pun takkan mungkin bisa buat teori.
Apa relevansi gempa bumi dan pilihan presiden di negeri.
Mungkin saja bisa dipercaya.
Aksioma pesan dan ajaran agama.
Perilaku manusia menjadi variabel dan data.
Menjadi penghubung dan sebab terjadi sebuah bencana.
Tidak selalu bisa dinalar dan dianalisis dengan faktor terduga.
Tapi dengan rasio dasar manusia yang dibangun dengan logika.
Semua yang ada dan segala yang terjadi dari Dia.
Bisa dengan gempa peringatan bagi fenomena dunia.
Ada hal dan peristiwa yang justru menggambarkan hama.
Perusak segala entitas yang sesungguhnya harus dijaga.
Misalnya kerekatan atau ukhuwwah basyariyah dan lainnya.
Menjadi rusak dan bahkan bisa binasakan bangsa.
Dengan pilpres orang saling memfitnah dan menghina.
Bahkan dengan cara apa saja dilakukan tanpa sebuah etika.
Peringatan sejak dini.
Gempa bumi yang sangat dihindari.
Meski ada kontestasi menjadi pemimpin di negeri.
Harus tetap menjaga jangan sampai saling mengkebiri.
Mari kita bangun kejujuran dan kesantunan serta hidup damai.
Biar Allah Subhanahu wa ta’ala selalu meridlai.
Malang, 30-09-2018
‘Abd Al Haris Al Muhasibiy

















