Reporter : M Rofi’i
Editor : Surya Mega
Malang, Kabarpas.com – Dalam Musyawarah Wilayah Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) NU Jawa Timur telah menetapkan KH Mahmud Al Husori sebagai Rais Majelis Hadi dan Kiai M Nuruddin Ketua Tanfidzi.
Kepada Kabarpas Ketua terpilih Ishari NU Jatim Kiai M Nuruddin meminta kepada seluruh anggotanya untuk bersama membangun Ishari NU Jatim, karena Ishari NU Jatim menjadi barometer Ishari secara nasional.
“Ishari ini banom NU termuda. Ishari resmi menjadi banom di Muktamar ke-33 NU di Jombang. Kami juga yang menginisiasi musyawarah di tingkat nasional, sehingga Ishari punya Rais Majelis Hadi dan Ketua Umum di tingkat pusat. Maka dari itu Ishari NU Jatim menjadi percontohan sekala nasional,” kata Kiai Nuruddin setelah ditetapkan sebagai Ketua Tanfidzi Ishari NU Jatim di Ponpes Sunan Kalijogo, Malang.
Dalam lima tahun ke depan periode 2018-2023, Kiai Nuruddin akan terus merajut ukhuwah dalam kemandirian jamiyah. Ishari NU Jatim ke depan akan berdiri dengan kaki sendiri dan terus memberikan kemanfaatan kepada anggota Ishari.
“Kami bertekad akan menjadi banom NU seperti banom lainnya. Meskipun kami masih baru,” tegasnya kepada Kabarpas.com.
Selain itu, Kiai Nuruddin memiliki keinginan memperjuangkan Ishari sebagai budaya-budaya Jawa Timur. Sebab menurutnya, kalau di Aceh bangga dengan tarian saman. Jawa Timur juga punya Ishari perbaduan hadrah dengan seni akan menjadi budaya khas nusantara.
“Kami akan menyampaikan dan mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur bahwa Ishari ini adalah budaya asli Jawa Timur sehingga mendapatkan pengakuan pemprov. Tidak hanya pengakuan, Jawa Timur akan bershalawat setiap saat bersama Ishari,” lanjut Nuruddin.
Selain itu, Kiai Nuruddin mengatakan pelestarian budaya warisan ulama nusantara terus akan digalakkan. Awalnya bacaan shalawat yang dibingkai dengan seni ini menjadi perekat bagi masyarakat.
“Memang Ishari ini dalam membaca shalawat terlihat biasa, tapi kalau sudah diresapi akan terhanyut dalam bacaannya. Inilah nantinya yang akan kami teruskan kepada generasi muda,” tuturnya.
Membaca shalawat dengan paduan antara Jawa dan Timur Tengah ini memang sulit bagi mereka yang tidak memahami.
“Tugas kami memberikan pemahaman kepada anak muda membaca shalawat dengan perpaduan Jawa dan Timur Tengah,” tutupnya. (fi/mey).

















