Tiga siswi Sekolah Menengah Atas Unggulan (SMAU) Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo berhasil menciptakan beras analog. Bahkan, hasil karya mereka ini telah membuat mereka menorehkan prestasi di kancah internasional.
Seperti apa perjuangan mereka hingga berhasil meraih emas dalam ajang Excellence Award dan karya tulis terbaik se -Asia. Berikut liputannya.
_________________________________________
Laporan : Moch Wildanov, Wartawan Kabarpas.com Biro Probolinggo.
_________________________________________
KABARPAS.COM – DALAM event bertajuk “The Second Phatthalung International” yang digelar di negara Thailand beberapa waktu lalu. Membuat tiga siswi Sekolah Menengah Atas Unggulan (SMAU) Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo berhasil menorehkan prestasi di kancah internasional.
Ketiga siswi berprestasi tersebut adalah Chahyaning Aisyah kelas X IPA 1, Khomsiysh kelas X1 IPA 2, dan Nanik Nor Laila Kelas X1 IPA.
Di ajang bergengsi tingkat internasional itu, mereka berhasil menyisihkan 26 tim dari 4 negara seperti Malaysia, Indonesia, Vietnam dan Thailand.
Bahkan sebelumnya, dua tim dari sekolah yang berbasis pesantren ini juga mampu meraih juara 3 di ajang “Kuala Lumpur Engineering Science Fair (KLESF) di Malaysia yang diikuti 400 tim dari 5 negara (Hongkong, Thailand, Singapore, Philipina, dan Indonesia) November 2018 lalu.
Tak ayal, prestasi anak asuhnya mendapat apresiasi dari Pengasuh Ponpes zainul Hasan Genggong, KH Mutawakkil Alallah.
“Ini merupakan prestasi yang tidak disangka karena dengan alat yang sederhana bisa mengalahkan negara lain yang sarananya lebih canggih.
Ponpes yang yang selama ini dikenal kumuh dengan songkok miring , mampu menoreh prestasi dan mengharumkan nama bangsa Indonesia,” ujar KH Mutawakkil Alallah kepada Kabarpas.com.
Sementara itu, Ustadzah Yenny Rahma, pembina tim SMAU mengaku, sangat terharu atas prestasi gemilang yang dicapai anak didiknya. Bahkan dirinya tidak menyangka sebelumnya akan dinobatkan menjadi yang terbaik di ajang internasional ini.
“Campur aduk, gak nyangka, gak henti-hentinya bersyukur pada Allah,” akunya via sambungan seluler.
Ustadzah Yenny bercerita, saat tersisa 5 terbaik di depan pentas dan hanya menyisakan tim Indonesia dan Thailand, ada seorang ibu dari tim Indonesia lainnya, tiba-tiba maju dan memberikan bendera merah putih pada anak didiknya.
“Ini bendera, kalian sudah membawa nama Indonesia, ayo pakai,” ungkap ustadzah Yenny menirukan seorang ibu pemberi bendera merah putih.
Tanpa disangka-sangka ternyata tim asal Indonesia, yang tersisa SMAU dinobatkan sebagai The Winner Award (excellent Award) pada ajang ini. Dan akhirnya tim SMAU bisa berfoto bersama bendera kebanggaan.
“Sebelumnya tidak pasang target juara, yang terpenting memberikan yang terbaik untuk sekolah,” ungkapnya. (***/Titin Sukmawati).

















