Reporter : Amelia Putri
Editor : Anis Natasya
Probolinggo, Kabarpas.com – Dalam rangka mendukung penanggulangan dan pencegahan stunting, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo menggelar workshop hasil pemantauan garam yodium di ruang pertemuan Tengger Kantor Bupati Probolinggo.
Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Probolinggo Hj. Sudjilawati Soeparwiyono ini diikuti oleh 150 orang dari Tim Penggerak PKK Kabupaten Probolinggo dan Tim Penggerak PKK Kecamatan serta perwakilan dari desa di Kabupaten Probolinggo. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari narasumber yang berasal dari Dinkes Kabupaten Probolinggo dan Pakar dari Akademi Gizi Surabaya.
Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Anang Budi Yoelijanto mengungkapkan garam yodium merupakan penambah dalam makanan, tetapi mempunyai fungsi yang penting dalam kehidupan manusia. Seseorang akan dapat berkurang kecerdasannya jika kekurangan zat yodium dalam jangka waktu yang lama. Kadar zat yodium dalam garam akan turun bila terjadi kerusakan, kerusakan bisa terjadi saat masak memasak yang tidak benar dan cara menyimpan yang tidak benar.
“Di Kabupaten Probolinggo hasil pemantauan garam yodium yang dilakukan oleh petugas gizi di 33 puskesmas, bentuk garam halus sebanyak 77%, curia 5%, briket 19 %, garam yang bermerek 85% dan yang tidak bermerek 14%, hasil uji zat yodiumnya cukup 79%, kurang 12% dan tidak ada kadar yodiumnya 8%,” ungkapnya.
Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo Sudjilawati Soeparwiyono mengatakan konsumsi garam yodium sangat dianjurkan pada semua keluarga terutama yang dalam keluarga itu ada ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Zat yodium adalah zat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia dan banyak terkandung dalam garam untuk masakan dapur. Karena garam semua manusia memakainya sehingga zat yodium dimodifikasikan dalam garam.
“Zat yodium mempunyai peranan yang sangat penting dalam tubuh, terutama pada ibu hamil. Akibat kekurangan zat yodium pada ibu hamil kemungkinan terbesar adalah keguguran dan cacat bawaan pada anak yang dikandungnya. Apabila terjadi pada anak serta remaja menyebabkan penyakit gondok dan gangguan pertumbuhan mental serta kerdil,” katanya.
Sudjilawati menjelaskan beberapa masalah bayi dan balita masih terjadi di Kabupaten Probolinggo. Antara lain, masih adanya kematian bayi di tahun 2018 sebanyak 242. Penyebab kematian bayi 30 persen karena kecacatan bawaan, berat Badan Bayi Lahir Rendah (BBLR) 983 balita atau 5,25% yang stunting 49,4% berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013, sehingga Kabupaten Probolinggo tahun 2017 ditetapkan sebagai daerah lokus stunting. (mel/nis)

















