Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Advertorial · 8 Jan 2020

Four Star by Trans Hotel, Hotel Bintang Empat yang Premium di Pusat Kota Denpasar


Four Star by Trans Hotel, Hotel Bintang Empat yang Premium di Pusat Kota Denpasar Perbesar

Reporter : Ajo

Editor : Titin Sukmawati

 

Bali, Kabarpas.com – Memperkenalkan hotel bintang empat terbaru yang berkualitas hadir di pusat Kota Denpasar. Ya, Four Star by Trans Hotel, hadir dengan menampilkan perpaduan modern dari tradisi khas Indonesia yang kontemporer di jantung kota Denpasar, ibukota Bali.

Dengan lokasi yang strategis terletak di pusat Kota Denpasar dan dekat dengan kawasan bisnis dan pusat hunian warga lokal, hotel modis ini sangat dekat dari Monumen Perjuangan dan Taman Bajra Sandhi yang terkenal, pusat perbelanjaan Plaza Renon dan pusat kuliner lokal, atau hanya 10 menit berkendara ke pantai Sanur, Four Star by Trans Hotel menghubungkan bisnis dan liburan dengan layanan terbaik pada titik harga terbaik.

“Sebagai hotel bintang 4 premium pertama dari The Trans Hotels & Resorts oleh CT Corp, Four Star by Trans Hotel akan melanjutkan kesuksesan The Trans Luxury Hotel Bandung dan The Trans Resort Bali dengan keunggulan harga yang terjangkau, suasana yang trendi serta layanan berkualitas yang akan memenuhi kepuasan para tamu,” ujar Melody Siagian, Cluster Director of Marketing and Communications Four Star by Trans Hotel.

Temukan ketenangan di hotel trendi yang memadukan desain Indonesia yang modern dan cahaya alami hangat yang mewakili the island of the gods, Bali ini.

Selain itu, para tamu juga akan disambut dengan lobi bergaya modern dan mutakhir, dilengkapi dengan perpaduan marmer eksklusif dan beragam pilihan produk furnitur dan interior khas Indonesia yang berbeda namun menyegarkan.

Sementara untuk sejumlah fasilitas lainya dari hotel ini yang menunjang adalah sebagai berikut:

AKOMODASI
Hotel ini memiliki 128 kamar dan 3 suites yang dirancang dengan penuh gaya. Jenis kamar Superior dan Deluxe menampilkan dekorasi modern dengan pilihan tempat tidur king atau twin, ruang yang dirancang ulang ini memadukan kenyamanan dan kegunaan. Semua kamar ini menampilkan lukisan Bali yang indah oleh seniman Indonesia yang terkenal – Sunaryo, di bagian headboard, TV 32 inch dengan berbagai pilihan saluran televisi internasional, fasilitas WiFi gratis, fasilitas pembuat kopi dan teh, pengering rambut, mini bar, shower cabin yang terpisah, dan kloset. Sementara untuk kamar Suites semua dirancang dengan sangat mewah, mengadopsi fasilitas yang sama dengan Kamar Premier yang ada di The Trans Resort Bali. Kamar suite yang mewah seluas 50 meter persegi ini memiliki TV LED interaktif 46 inch, fasilitas mewah Acqua di Parma, linen mewah yang disesuaikan secara eksklusif dengan kapas Mesir 320 benang, tempat tidur yang dirancang khusus, i-Home (iPod, iPhone, dan stasiun dok iPad), WiFi gratis, fasilitas pembuat kopi dan teh, mini bar pribadi, shower cabin yang terpisah, dan bathtub mewah.

TEMPAT MAKAN
Bertempat di area lobi, The Restaurant di Four Star by Trans Hotel menawarkan cita rasa Pan-Asian yang menyatu dengan cita rasa lokal yang khas dan dibuat dengan bahan-bahan segar yang bersumber dari pemasok lokal. Restoran ini bagus untuk menjadi tempat pertemuan bagi orang-orang kreatif untuk bercakap-cakap dan bertukar pandangan saat mereka menikmati makanan ringan atau koktail dan mocktail khas The Restaurant.

RELAKSASI
Terletak di lantai tertinggi yang menghadap ke Samudra Hindia, hadiahilah hari Anda dengan relaksasi di infinity pool khas Four Star by Trans Hotel.

MICE & EVENTS
Four Star by Trans Hotel menyediakan tempat yang sempurna untuk berbagai acara, dari acara perusahaan hingga acara sosial. Terletak di lantai 6, ballroom seluas 233 meter persegi yang dirancang dengan penuh gaya dan dilengkapi oleh 5 ruang pertemuan yang dapat digunakan juga sebagai ruang serbaguna, teknologi audio-visual canggih dan tenaga profesional untuk berbagai macam acara, membantu menyesuaikan dan mengakomodasi semua kebutuhan dan keinginan para tamu.

Berlokasi strategis di bagian selatan pulau Bali, dekat dengan kawasan pusat bisnis dan pusat hunian warga lokal serta 10 menit berkendara ke pantai Sanur, Four Star by Trans Hotel menempatkan Anda di jantung kota Denpasar di mana bisnis, liburan, dan komunitas lokal terhubung bersama.

Kamar-kamar dan suites hotel yang ditata dengan penuh gaya, tempat pertemuan modern dan berbagai fasilitas untuk acara, restoran yang khas, dan juga kolam renang, Four Star by Trans Hotel mampu memberikan layanan terbaik pada titik harga terbaik. (adv)

Artikel ini telah dibaca 148 kali

Baca Lainnya

Hanung Bramantyo Angkat Tragedi 1965 Jadi Film Horor Lobang Buaya Sutradara Hanung Bramantyo memilih pendekatan horor untuk mengangkat isu sejarah dan tragedi 1965 dalam film terbarunya, “Lobang Buaya”. Menurut Hanung, horor tidak selalu berkaitan dengan hantu, tetapi juga dapat menggambarkan situasi penuh teror yang dialami masyarakat. Hal itu disampaikan Hanung dalam acara Special Screening film Lubang Buaya yang digelar Adhya Pictures dan Dapur Film bersama Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember di Kota Cinema Mall, Minggu (20/9/2026). Hanung mengatakan salah satu alasan dirinya mengangkat tema 1965 adalah karena film sejarah dinilai belum banyak menarik perhatian penonton muda. Padahal, menurut dia, sebagian besar penonton bioskop saat ini berasal dari kalangan anak muda. Ia melihat sejumlah film dengan tema kehidupan anak muda mampu memperoleh jumlah penonton besar. Sebaliknya, film yang mengangkat sejarah cenderung memiliki jumlah penonton lebih terbatas. Karena itu, Hanung ingin menggunakan medium film untuk memperkenalkan kembali sejarah kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih dekat dengan selera penonton masa kini. “Saya pengin masyarakat Indonesia, terutama anak muda pecinta film, jangan sampai melupakan sebuah tragedi besar di tahun 1965,” ucap Hanung usai nonton bareng. Menurut dia, peristiwa 1965 tidak semata-mata berkaitan dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal di Jakarta. Hanung menilai dampak konflik politik dan ideologi pada periode tersebut juga terjadi di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Ia menyebut konflik pada masa itu menimbulkan kekerasan dan korban dari berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, ia ingin mendorong penonton untuk melihat peristiwa 1965 melalui lebih dari satu perspektif. Hanung juga menekankan pentingnya literasi sejarah. Menurut dia, masyarakat tidak semestinya hanya bergantung pada satu narasi mengenai peristiwa 1965, tetapi juga membaca berbagai buku dan menyaksikan berbagai karya yang membahas peristiwa tersebut dari sudut pandang berbeda. “Jadi tolong jangan percaya pada satu propaganda pemerintah, tapi kita sebagai anak-anak bangsa harus melek literasi,” ujarnya. Pendekatan horor dipilih Hanung karena ia melihat tragedi sejarah tersebut memiliki unsur teror yang kuat. Namun, horor yang dimaksud bukan semata-mata kemunculan hantu atau adegan “jump scare”. Hanung menyebut horor sebagai situasi ketika seseorang berada dalam kondisi penuh tekanan dan ketakutan akibat ancaman yang terjadi di sekitarnya. Menurut dia, kondisi sosial pada 1965 dapat dipahami sebagai situasi horor. Relasi sosial yang sebelumnya normal dapat berubah ketika seseorang dituduh memiliki keterkaitan dengan kelompok tertentu. “Horor itu adalah sebuah genre yang di dalamnya memberikan secara sengaja teror kepada penonton melalui apa pun,” tandasnya. Hanung juga mengaitkan pendekatan tersebut dengan film “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Arifin C. Noer. Menurut dia, film tersebut juga menggunakan sejumlah perangkat sinematik yang membangun rasa takut penonton, meski mengangkat peristiwa sejarah. Karena itu, ia merasa pendekatan horor relevan untuk membawa penonton memasuki suasana psikologis sebuah periode sejarah yang penuh ketegangan. Namun, Hanung menyebut Lobang Buaya lebih tepat disebut sebagai drama misteri investigasi ketimbang film horor murni. “Saya menyebutnya lebih suka drama misteri investigasi. Karena buat saya itu lebih pas daripada sekadar horor,” ujarnya. Selain mengangkat tragedi 1965, Hanung mengatakan film tersebut juga membawa isu sosial mengenai praktik yang merugikan masyarakat desa. Ia menyebut konsep “7 Setan Desa” sebagai salah satu pijakan cerita. Istilah tersebut digunakan dalam film untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang dianggap meresahkan masyarakat, termasuk birokrat korup, rentenir, dan pihak yang berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya. Hanung mengatakan isu tersebut sengaja ditempatkan berdampingan dengan latar sejarah 1965 untuk menghubungkan persoalan masa lalu dengan persoalan sosial yang masih relevan dibicarakan saat ini. Ia juga mengatakan film menjadi medium baginya untuk menyampaikan kegelisahan mengenai kondisi sosial, keagamaan, dan politik. Sebelumnya, Hanung mengangkat isu sosial-keagamaan dalam sejumlah film, termasuk “Tanda Tanya” dan “Perempuan Berkalung Sorban”. “Film itu adalah medium kita untuk speak up, atas kegelisahan saya,” kata dia. Untuk Lobang Buaya, Hanung juga menjanjikan struktur cerita dengan beberapa plot twist. Ia mengatakan pendekatan tersebut banyak dipengaruhi film-film Korea yang menurutnya berani menghadirkan lebih dari satu kejutan dalam sebuah cerita. Sebagai informasi, film Lobang Buaya dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

20 September 2026 - 15:41

POCARI SWEAT Run Bandung 2026: Birukan Bandung di Hari Jadi ke-216

20 September 2026 - 13:52

Rajin Kejar Pajak, Camat dan Lurah Jember Dijanjikan Promosi

19 September 2026 - 22:47

PAD Jember Tumbuh Tertinggi di Jatim, Wajib Pajak Taat Diganjar Penghargaan

19 September 2026 - 22:43

ISPA Meningkat, Pemkab Jember Ingatkan Warga Waspadai Gejala Influenza 

19 September 2026 - 15:03

Sembilan Hari Terombang-ambing, Tiga ABK Baliman Ditemukan Nelayan Puger

18 September 2026 - 20:29

Trending di KABAR NUSANTARA