Jember, Kabarpas.com – Jumat pagi (18/9/2026), putri Norma masih berangkat sekolah seperti biasa. Menjelang siang, kondisi anak berusia empat tahun itu berubah. Tubuhnya mulai terasa panas dan beberapa jam kemudian mengalami kejang.
Norma, warga Kecamatan Kaliwates langsung membawa anaknya ke Rumah Sakit Citra Husada. Namun, persoalan berikutnya muncul ketika ia mendapat informasi bahwa tempat tidur untuk pasien anak telah penuh.
“Awalnya anak saya baik-baik saja, masih sekolah Jumat. Sekitar jam 11 mulai hangat, lalu jam 3 kejang. Saya langsung bawa ke Citra Husada. Setelah menunggu lama, ternyata bed untuk anak penuh semua,” ungkapnya.
Menurut Norma, anaknya kemudian didiagnosis mengalami virus pada saluran pernapasan.
Ia pun mencari rumah sakit lain yang masih memiliki tempat tidur untuk pasien anak. Setelah mendapat informasi, Norma akhirnya membawa putrinya ke Rumah Sakit Siloam.
Sebelumnya, Norma juga berusaha mencari tempat perawatan di RSUD dr Soebandi karena anaknya menggunakan BPJS. Namun, informasi yang diterimanya menyebutkan tempat pelayanan anak di rumah sakit tersebut juga telah penuh.
“Saya juga cari informasi di Soebandi karena pakai BPJS. Dari orang yang saya kenal di sana, katanya poli anak mulai kelas 1, 2, sampai 3 sudah terisi,” ujarnya.
Pengalaman Norma berlangsung ketika Pemerintah Kabupaten Jember mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
Dalam flyer yang disebarkan Pemkab Jember, disebutkan kasus ISPA di Kabupaten Jember menunjukkan peningkatan dalam empat minggu terakhir. Pemerintah daerah mengingatkan warga agar lebih waspada terhadap gejala seperti batuk, pilek dan demam.
Meski demikian, Pemkab Jember menegaskan gejala ISPA tidak serta-merta berarti seseorang terinfeksi Influenza A.
“Gejala ISPA belum tentu Influenza A. Kepastian diagnosis memerlukan pemeriksaan laboratorium,” demikian keterangan dalam flyer tersebut.
ISPA sendiri merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari hidung dan tenggorokan hingga paru-paru.
Sejumlah kondisi disebut dapat meningkatkan risiko penularan atau terjadinya gangguan saluran pernapasan. Di antaranya perubahan cuaca, ventilasi ruangan yang buruk, paparan asap rokok, polusi udara, kerumunan, mobilitas tinggi serta kontak dekat dengan orang yang sedang sakit.
Dalam flyer tersebut, Pemkab Jember mengimbau warga menggunakan masker ketika sedang sakit, mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin serta memastikan sirkulasi udara di rumah berjalan baik.
Warga juga diminta menghindari asap rokok dan polusi, mengurangi kontak dekat dengan orang lain ketika sedang sakit, serta mencukupi kebutuhan cairan, gizi dan istirahat.
Pemkab Jember meminta masyarakat segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila gejala memburuk, muncul sesak, atau mengalami kesulitan bernapas.
Dalam pesannya, pemerintah daerah menekankan bahwa kewaspadaan tidak perlu berubah menjadi kepanikan.
“Waspada bukan berarti panik. Lindungi diri, lindungi keluarga,” tulis pesan dalam flyer tersebut. (dan/ian).

















