Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Advertorial · 9 Apr 2020

Daripada Kena Virus Corona, Mending Stay di The Trans Resort Bali Aja


Daripada Kena Virus Corona, Mending Stay di The Trans Resort Bali Aja Perbesar

 

 

Bali, Kabarpas.com – Pariwisata di Bali saat ini tidak lagi sama, segala kegiatan di dalam dan di luar ruangan sementara waktu ditunda untuk mengurangi penyebaran virus corona (Covid-19). Hal ini juga berdampak dengan penurunan wisatawan lokal dan internasional yang drastis dimana berpengaruh kepada tingkat hunian hotel di Bali.

Walaupun tidak sedikit hotel di Bali yang sudah tutup untuk sementara waktu, di tengah situasi ini . Namun, The Trans Resort Bali masih beroperasi dengan menjalankan secara serius tindakan pencegahan terhadap penyebaran Covid-19 di seluruh area hotel baik untuk seluruh tamu, karyawan maupun memilih secara ketat pemasok bahan-bahan kebutuhan makanan dan hotel dengan mengikuti standar kebersihan yang telah di tentukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation) dan pemerintah.

Standar kebersihan itu antara lain adalah meningkatkan frekuensi pembersihan dengan disinfektan menjadi setiap jam di seluruh area seperti panel pintu, permukaan meja dan tombol lift. Pembersih tangan “hand sanitizer” juga disediakan di 37 titik di seluruh hotel area baik untuk tamu maupun karyawan.

Tidak hanya itu, inspeksi harian dilakukan oleh manajemen di semua area persiapan makanan mulai dari pemeriksaan pemasok makanan hingga pelayanan untuk memastikan bahwa metode kebersihan dan sanitasi dipatuhi dan dilaksanakan secara konsisten.

Karyawan di area persiapan makanan dan pembersihan kamar juga diwajibkan untuk memakai masker, penutup rambut serta sarung tangan. Selain itu, pemantauan suhu panas tubuh juga dilakukan bagi setiap tamu, karyawan dan pemasok yang datang ke area hotel.

“Mendukung kampanye “social distancing”, maka dari itu The Trans Resort Bali meluncurkan paket “Stay di Hotel Aja” dengan menginap di Villa yang tersendiri dan pribadi,” ujar Sisca Oktavia, Marketing Communications Executive The Trans Resort Bali kepada Kabarpas.com.

Dijelaskan, The Trans Resort Bali memiliki total 16 Villa dengan kolam renang pribadi yang luas yang terdiri dari 15 One-bedroom Villa berukuran 365m2 dan Satu Presidential Suite 3-bedroom Villa yang berukuran 700m2.

“Pelayanan villa juga akan menyesuaikan standar kebersihan dan sanitasi, yaitu menyediakan makan pagi secara pribadi di dalam Villa yang dilakukan oleh pelayan pribadi (butler) yang professional, tentu saja dengan pelayanan yang menyesuaikan standar sanitasi, kebersihan dan memperhatikan jarak antara tamu dan karyawan,” ujar wanita berparas cantik tersebut.

Ditambahkan, tamu juga bisa melakukan proses check-in dan check-out di dalam villa tanpa harus datang ke meja resepsionis di lobby hotel. Tidak hanya itu, di dalam villa yang luas sudah terdapat area ruang tamu yang terpisah, gazebo untuk bersantai di dekat kolam renang pribadi yang cukup besar, kamar mandi yang mewah dilengkapi dengan jacuzzi dan juga fasilitas pembuat kopi dan teh pribadi.

“Untuk akses internet Wi-Fi yang cepat juga tersedia bagi tamu yang ingin bekerja atau belajar di dalam villa,” tambahnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa untuk paket menginap di Villa ini juga cukup murah yaitu seharga Rp 1,700,000nett per malamnya (dari harga normal Rp 6.000.000/malam).

“Harga istimewa ini hanya berlaku untuk periode menginap pada bulan April 2020. Jadi tunggu apa lagi? Bosan diam di dalam rumah dan ingin merasakan kemewahan dengan harga terjangkau tetapi tetap melakukan “social distancing,” pungkas wanita yang murah senyum tersebut. (adv).

Artikel ini telah dibaca 20 kali

Baca Lainnya

Hanung Bramantyo Angkat Tragedi 1965 Jadi Film Horor Lobang Buaya Sutradara Hanung Bramantyo memilih pendekatan horor untuk mengangkat isu sejarah dan tragedi 1965 dalam film terbarunya, “Lobang Buaya”. Menurut Hanung, horor tidak selalu berkaitan dengan hantu, tetapi juga dapat menggambarkan situasi penuh teror yang dialami masyarakat. Hal itu disampaikan Hanung dalam acara Special Screening film Lubang Buaya yang digelar Adhya Pictures dan Dapur Film bersama Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember di Kota Cinema Mall, Minggu (20/9/2026). Hanung mengatakan salah satu alasan dirinya mengangkat tema 1965 adalah karena film sejarah dinilai belum banyak menarik perhatian penonton muda. Padahal, menurut dia, sebagian besar penonton bioskop saat ini berasal dari kalangan anak muda. Ia melihat sejumlah film dengan tema kehidupan anak muda mampu memperoleh jumlah penonton besar. Sebaliknya, film yang mengangkat sejarah cenderung memiliki jumlah penonton lebih terbatas. Karena itu, Hanung ingin menggunakan medium film untuk memperkenalkan kembali sejarah kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih dekat dengan selera penonton masa kini. “Saya pengin masyarakat Indonesia, terutama anak muda pecinta film, jangan sampai melupakan sebuah tragedi besar di tahun 1965,” ucap Hanung usai nonton bareng. Menurut dia, peristiwa 1965 tidak semata-mata berkaitan dengan peristiwa penculikan dan pembunuhan sejumlah jenderal di Jakarta. Hanung menilai dampak konflik politik dan ideologi pada periode tersebut juga terjadi di berbagai daerah, termasuk Jawa Timur. Ia menyebut konflik pada masa itu menimbulkan kekerasan dan korban dari berbagai kelompok masyarakat. Karena itu, ia ingin mendorong penonton untuk melihat peristiwa 1965 melalui lebih dari satu perspektif. Hanung juga menekankan pentingnya literasi sejarah. Menurut dia, masyarakat tidak semestinya hanya bergantung pada satu narasi mengenai peristiwa 1965, tetapi juga membaca berbagai buku dan menyaksikan berbagai karya yang membahas peristiwa tersebut dari sudut pandang berbeda. “Jadi tolong jangan percaya pada satu propaganda pemerintah, tapi kita sebagai anak-anak bangsa harus melek literasi,” ujarnya. Pendekatan horor dipilih Hanung karena ia melihat tragedi sejarah tersebut memiliki unsur teror yang kuat. Namun, horor yang dimaksud bukan semata-mata kemunculan hantu atau adegan “jump scare”. Hanung menyebut horor sebagai situasi ketika seseorang berada dalam kondisi penuh tekanan dan ketakutan akibat ancaman yang terjadi di sekitarnya. Menurut dia, kondisi sosial pada 1965 dapat dipahami sebagai situasi horor. Relasi sosial yang sebelumnya normal dapat berubah ketika seseorang dituduh memiliki keterkaitan dengan kelompok tertentu. “Horor itu adalah sebuah genre yang di dalamnya memberikan secara sengaja teror kepada penonton melalui apa pun,” tandasnya. Hanung juga mengaitkan pendekatan tersebut dengan film “Pengkhianatan G30S/PKI” karya Arifin C. Noer. Menurut dia, film tersebut juga menggunakan sejumlah perangkat sinematik yang membangun rasa takut penonton, meski mengangkat peristiwa sejarah. Karena itu, ia merasa pendekatan horor relevan untuk membawa penonton memasuki suasana psikologis sebuah periode sejarah yang penuh ketegangan. Namun, Hanung menyebut Lobang Buaya lebih tepat disebut sebagai drama misteri investigasi ketimbang film horor murni. “Saya menyebutnya lebih suka drama misteri investigasi. Karena buat saya itu lebih pas daripada sekadar horor,” ujarnya. Selain mengangkat tragedi 1965, Hanung mengatakan film tersebut juga membawa isu sosial mengenai praktik yang merugikan masyarakat desa. Ia menyebut konsep “7 Setan Desa” sebagai salah satu pijakan cerita. Istilah tersebut digunakan dalam film untuk menggambarkan kelompok-kelompok yang dianggap meresahkan masyarakat, termasuk birokrat korup, rentenir, dan pihak yang berkepentingan terhadap penguasaan sumber daya. Hanung mengatakan isu tersebut sengaja ditempatkan berdampingan dengan latar sejarah 1965 untuk menghubungkan persoalan masa lalu dengan persoalan sosial yang masih relevan dibicarakan saat ini. Ia juga mengatakan film menjadi medium baginya untuk menyampaikan kegelisahan mengenai kondisi sosial, keagamaan, dan politik. Sebelumnya, Hanung mengangkat isu sosial-keagamaan dalam sejumlah film, termasuk “Tanda Tanya” dan “Perempuan Berkalung Sorban”. “Film itu adalah medium kita untuk speak up, atas kegelisahan saya,” kata dia. Untuk Lobang Buaya, Hanung juga menjanjikan struktur cerita dengan beberapa plot twist. Ia mengatakan pendekatan tersebut banyak dipengaruhi film-film Korea yang menurutnya berani menghadirkan lebih dari satu kejutan dalam sebuah cerita. Sebagai informasi, film Lobang Buaya dijadwalkan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

20 September 2026 - 15:41

POCARI SWEAT Run Bandung 2026: Birukan Bandung di Hari Jadi ke-216

20 September 2026 - 13:52

Rajin Kejar Pajak, Camat dan Lurah Jember Dijanjikan Promosi

19 September 2026 - 22:47

PAD Jember Tumbuh Tertinggi di Jatim, Wajib Pajak Taat Diganjar Penghargaan

19 September 2026 - 22:43

ISPA Meningkat, Pemkab Jember Ingatkan Warga Waspadai Gejala Influenza 

19 September 2026 - 15:03

Sembilan Hari Terombang-ambing, Tiga ABK Baliman Ditemukan Nelayan Puger

18 September 2026 - 20:29

Trending di KABAR NUSANTARA