Oleh: Ch. Riyanto, Batuan, Sumenep
KABARPAS.COM – RADEN Ajeng Kartini (1879-1904), penulis buku Habis Gelap Terbitlah Terang, Kelahiran Jepara (Jawa Tengah) telah menjadi sejarah Bangsa yang dikenang abadi. Beliau seorang pejuang emansipasi wanita tersohor di Nusantara, bahkan dunia. Walaupun Jasad Ibu Kita Kartini, telah bersemayam di sisi Tuhan, bukan berarti perjuangan persamaan hak yang diperjuangan oleh Kartini juga berakhir.
Penerus nilai-nilai perjuangan ibu kita Kartini tumbuh, silih berganti. Dan tidak kurang dari 3 Kartini muda telah terbit dari Jawa Timur. Fenomena ini ditunjukkan oleh capaian karir tertinggi yang pernah diraih oleh mereka itu dalam pemerintahan sebagai Presiden, Wakil Presiden, atau Pembantu Presiden (baca: Menteri ). Sebut saja ibu Megawati, Khofifah Indar Parawansa, Tri Rismaharini yang terlebih dahulu menduduki puncak karir.
Pengejawantahan tentang nilai-nilai perjuangan Kartini, telah dimulai dari Jawa Timur. Tentunya, tidak terhenti pada mereka yang lebih dulu mencapai puncak karir. Salah satunya adalah Lia Istifhama, yang akrab disapa Ning Lia. Lebih jelas, Ning Lia adalah satu Kartini Milenial terbit dari Jawa Timur.
Bukan tanpa alasan jika saya melihat sosok Ning Lia sebagai salah satu putri terbaik yang dimiliki Jawa Timur. Meski tak pernah saya bertemu secara langsung, tapi saya merasakan adanya kekuatan magnet sangat kuat yang dimiliki Ning Lia.
Awalnya, saya sama dengan masyarakat lainnya, mengetahui perempuan yang akrab dipanggil Ning Lia adalah sosok dosen, peneliti muda yang berbakat dalam berbagai macam tulisan, Ketua DPD Perempuan Tani HKTI Jawa Timur, dan pemerhati masalah perempuan. Namun saya melihat sesuatu yang berbeda dalam kiprahnya.
Tidak bisa dibantahkan bahwa dibalik kesibukannya itu, Ning Lia meluangkan waktu untuk menulis diberbagai media massa sebagai upaya perjuangan nilai-nilai Kartini untuk mencerdaskan kehidupan bangsa menuju Indonesia Maju. Ragam tulisannya sangat mudah ditelusuri melalui jejak digital.
Tanpa jabatan pemerintahan dan bukan seorang anggota legislatif, tapi Ning Lia membuktikan kepiawaiannya menyuarakan suara masyarakat. Tulisannya menampakkan sebuah kritik yang membangun, tanpa menyisakan ruh provokasi. Melainkan sebuah pembangunan opini agar suara masyarakat didengar oleh pemangku kebijakan.
Berani tapi luwes, itulah karakter Ning Lia yang mungkin bisa saya tangkap melalui ragam tulisannya. Dan dengan ucapan Bismillah, bahwa saya ‘Oemar Bakri’, seorang guru SMA dari Padang Garam, Sumenep, berpandangan bahwa Ning Lia adalah Kartini Milenial terbit dari Jawa Timur. (***).


















