Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

Pojokan · 8 Agu 2021

Mayat yang Bersujud di Lumpur


Mayat yang Bersujud di Lumpur Perbesar

Oleh : Abdur Rozaq

KABARPAS.COM – HALILINTAR mencabik-cabik langit seakan pembalasan kesumatnya telah diizinkan. Langit kelam berkali-kali retak, lalu ditambal kembali karena kehancuran total memang belum tiba saatnya. Awam hitam yang angkuh dan mengerikan terkencing-kencing, angin malam lintang pukang melabrak apa saja di atas bumi yang menggigil laksana perempuan tua di ujung hunus pedang.

Rintik hujan menjelma kerikil, memanah atap seng penuh karat dan lubang. Angin menjelma jarum beracun menggores tiang listrik, tembok-tembok beton, membabat tabing bambu, lalu menusuk tubuh ringkihku. Seorang diri! Alam leluasa menuntaskan amarahnya kepadaku semata, karena kucing pun melingkarkan tubuhnya di atas karpet berbulu di balik tembok-tembok beton.
Aku memang harus tetap bertahan di lapak cukur rambut ini, demi semacam harapan.

Demi perjanjian dengan rejeki, demi agar tak meminta-minta atau mencuri. Meski air sungai mulai meluap dan menjilati lantai semen di bawah kaki. Meski apa saja telah basah kuyup oleh tetesan air hujan, embun dan luapan air sungai. Barangkali seseorang berteduh, lalu merasa iba dan memintaku memangkas rambutnya yang sebenarnya masih rapi. Namun, memang tak banyak manusia konyol di galaksi ini. Ribuan tahun berevolusi, hanya tersisa beberapa saja manusia yang masih meyakini kesia-siaan sepertiku.
“Sampai kapan kau rela dibohongi angan-angan kosong dan sok pahlawan begitu?” ujar mantan Istriku saat itu.

Kulempar puntung rokok terakhir, mengambang pada genangan air di atas lantai semen. Semoga iblis tak kembali datang untuk membisikkan rutukan-rutukan maha laknat. Menggugat nasib yang tak berani kuubah sedikit pun. Semoga ia tak kembali datang, mendiktekan kemurtadan dengan menggugat Tuhan di hatiku.

Setahuku, telah hampir punah manusia yang bisa merelakan dirinya menjadi bulan-bulanan nestapa. Kemelaratan dikutuk bahkan oleh mereka yang seringkali berkhotbah tentang kejujuran serta ketabahan. Pencurian, penipuan bahkan perampokan telah menjadi adat, karena kemelaratan dianggap jauh lebih hina dan menyakitkan daripada perilaku jadah itu.

Sayangnya, aku tak cukup memiliki kesempatan serta keberanian untuk menjadi maling. Banyak kawan menasehatiku untuk memulai pencurian kecil-kecilan, tapi aku memang pengecut. Seorang kawan pernah mengatakan hanya tersisa air hujan di awang-awang yang belum ternoda haram. Maka percuma jika aku belum juga ikut mencuri, namun tiada henti merutuki kemelaratan.

“Percuma Tuhan melaknatmu, sementara engkau melarat. Tak mengapa Tuhan melaknamu, tapi engkau sentosa. Bukankah Tuhan Maha Pengampun?”

Seorang kerabat, juga telah mati-matian membujukku agar tersadar dari gendam angan-angan kosong. Terang-terangan ia membongkar mitos yang kuimani.
“Sampeyan masih yakin akan tetap menjadi guru madrasah honorer?”
“Ya!”
“Sebaiknya sampeyan mempertimbangkan ulang.”
“Kenapa?”
“Karena sampai kapan pun, takkan ada yang berniat baik memperjuangkan nasib sampeyan.”
“Sebaiknya sampeyan tidak sok pahlawan, tidak usah ikut campur membantu tugas pemerintah.”
“Saya melayani umat.”
“Waduh, sampeyan keliru.”
“Kenapa bisa?”
“Sampeyan menganggap itu melayani umat, sedangkan mereka menganggapnya sebuah ladang matapencaharian. Madrasah sudah menjadi perusahaan, sekarang.”
“Pantas jika manusia seperti sampeyan diganjar dengan nestapa sepanjang usia.”
Alam belum juga iba terhadapku. Hujan semakin ganas mengurung mayapada dengan rintik tajamnya. Kursi serta meja plastik, gunting, sisir, pencukur kumis, bedak, selimut cukur, direndamnya tanpa ampun. Lelehan air juga merambat pada kabel listrik menuju kliper, laksana ular viper hijau merambati sulur-sulur tanaman liar. Apakah alam sedang memberi pelajaran kepada pemercaya kesia-siaan sepertiku? Apakah mereka mengajariku, jika akal budi semestinya diberdayakan, agar kehidupan tak berlangsung dengan begitu sengsara? Barangkali, alam ingin mengatakan jika keyakinanku selama ini salah. Apakah alam juga hendak mengatakan kalimat seperti dalam ucapan mantan istriku?
“Mengapa kau sia-siakan ijazah sarjanamu hanya demi panggilan ustadz? Kau kira namamu akan dikenang sebagai pahlawan? Menjadi berguna tidak harus menjadi guru madrasah honorer, tak harus menjadi tumbal pesugihan orang.”
Dingin menusuk tulang sumsum, lalu merambat ke ulu hati. Bisa jadi, sebentar lagi akan merambat pada akal dan ruhku.
Aku memang telah lupa cara menangisi nasib. Setelah sembilan belas tahun mengakrabi nestapa, kepedihannya seringkali tak dapat kubedakan. Aku bahkan percaya jika kehidupan ini merupakan penjara, karena seseorang memang harus memerankan diri sebagai pelayan demi menyelenggarakan pesta abadi seseorang lainnya. Dongeng tentang para samurai yang mengabdikan seluruh hidup mereka kepada titisan dewa, entah sejak kapan telah kuanut ajarannya.
Ya, aku tahu pemerintah telah menghamburkan triliunan rupiah untuk mengentaskan kebodohan bangsaku ini. Mereka juga mengizinkan pemimpi kepahlawanan sepertiku untuk mendapatkan sedikit upah. Namun, aku terlalu mabuk untuk mengerti perbedaan nominal dan kepantasan sebuah upah. Apakah aku telah menjelma mahluk halus antimateri? Jika demikian, mengapa aku harus menjadi seorang tukang pangkas rambut?
Seringkali, kuakui mantan Istriku benar. Seharusnya sejak lama aku memiliki keberanian seperti Bani Israil ketika menyeberangi laut Merah. Namun aku selalu menolak karena konon, pengabdianku ini demi melayani Tuhan. “Kalian adalah utusan Tuhan penebar cahaya di bumi. Kalian menolak kesejahteraan yang sementara demi kesejahteraan abadi” kata sebuah doktrin.

Maka, aku tak memiliki sebuah alasan pun untuk menolak gugutan cerai mantan istriku, karena ia memang berhak mengakhiri nestapa yang kukalungkan di lehernya semenjak akad nikah kuikrarkan. Kukabulkan gugatan talaknya, kulepas ia mencari kehidupan nan lebih pantas sebagai perempuan di sebuah negeri merdeka. Pada pertemuan terakhir di gerbang Pengadilan Agama, kumohon maafnya dengan sungguh-sungguh.
“Maafkan aku selama ini. Ikhlaskan salahku yang menyeretmu dalam kemelaratan demi misi hidupku sebagai pelayan. Aku lupa jika selama ini seharusnya memberimu kehidupan layak. Maafkan jika aku memilih menjadi pahlawan bagi kesejahteraan orang, namun menjadi pecundang bagi keluarga kita.”
Mantan istriku tersenyum penuh kemenangan saat itu. Digenggamnya tanganku seraya berkata “demi cintaku, demi masa lalu, kumohon akhiri keyakinanmu terhadap angan-angan kosong itu. Aku iba terhadapmu yang ditipu oleh doktrin semu tentang kepahlawanan. Bukalah matamu! Kau sendirian! Sudah tak ada lagi manusia polos pemuja kisah epos sepertimu. Kau mungkin menghayal sebagai seorang pahlawan, padahal yang kau layani adalah sebuah perusahaan, bisa jadi sebuah kerajaan. Pesta selalu diselenggarakan tanpa sepengetahuanmu agar kau tetap ikhlas menjadi pelayan.” Namun seperti biasa, aku selalu tak percaya dengan adu domba seperti itu. Seperti pernah kukatakan padamu, aku terlanjur mengimani doktrin, meski para pengkhobahnya mungkin saja berpura-pura.
Mantan istriku, kini telah jumawa menjadi perempuan terhormat dengan suaminya. Belenggu nestapa pun, telah ia lepas dari lehernya. Hukuman sosial, ratap abadi atas kemelaratan sepi dari hidupnya. Kini, ia bisa duduk sama tinggi dengan perempuan mana pun. Dalam setiap acara pesta, hajatan keluarga, melayat kematian, menjenguk handai taulan tertimpa musibah, ia mampu mengangkat kepala dengan terhormat. Sementara aku, hingga malam mengerikan ini tetap dengan angan-anganku tentang epos sebagai guru madrasah honorer, seraya menghayati kisah para sufi dengan menjadi tukang cukur.
Kadang kurenung-renungkan, mengapa orang lain bisa begitu cepat merubah nasibnya seperti membalik telapak tangan semata? Murid-murid yang kuajari membaca dan berhitung, sekelebat cahaya telah menjadi pengusaha, pegawai pemerintah, pemborong, wartawan, dokter. Seakan baru kemarin aku mengajarinya menulis huruf-huruf dan angka, kini mereka telah piawai membaca peluang dan kesempatan. Dulu kubakar imajinasi mereka tentang cita-cita. Namun hingga kini aku belum juga berkenan menyusun cita-citaku sendiri. Mereka telah terinspirasi oleh motivasiku di depan kelas saat itu, sementara aku masih teguh memegang doktrinasi purba tentang berkah dan jaminan sorga. Namun aneh, aku malah telah merasa puas sebagai lilin yang terbakar demi menerangi kegelapan orang lain. Konon, perasaan semacam itulah penyebab orang-orang sepertiku tak pernah bersedia mengakhiri nestapa hidup mereka sebagai guru madrasah honorer.
Hujan belum juga berhenti meski air sungai telah meluap. Menerobos dinding bambu lapak cukur rambut, merendam mata kakiku. Malam gemuruh oleh cemeti halilintar, desau angin, dan gelegak arus sungai. Bukan oleh derung kliper memangkas rambut pelanggan. Malam sepertinya mulai larut. Kukira cukup sudah kusemai harapan akan datangnya satu dua pelanggan. Paling tidak, telah kutepati perjanjian dengan waktu, usus, lambung dan rejeki. Esok, barangkali aku berpuasa sunnah saja daripada kembali pening mencari pinjaman uang belanja.
Lapak pangkas rambut ini benar-benar basah. Atap, tabing, lantai, segenap peralatan juga basah. Aku bahkan mulai menggigil karena sekujur tubuh basah oleh tempias air hujan yang merdeka mengguyur meski aku berteduh di dalam lapak. Kukemasi peralatan. Kuperas kain tudung cukur, kucabut kliper dari stop kontak, namun sesuatu yang amat dahsyat tiba-tiba menyengat sekujur tubuhku.


Pagi itu, banjir memang telah surut, namun lumpur masih menggenangi jalan, lapak pangkas rambut dan bantaran sungai. Aku tak bisa benafas karena hidung dan mulut terendam lumpur dan sisa genangan air.
“Inna lillahi, ini Mas Firman!”
“Coba balik tubuhnya, barangkali masih bernafas!”
“Awas, sepertinya dia kesetrum!”
“Panggil polisi, panggil ambulan!”
“Masya Allah, matinya sujud.”
“Insya Allah syahid! Kata Pak Kiai, orang yang mati dalam mencari nafkah kan syahid?”
Tak ada hymne ketika mayatku diangkat dari genangan lumpur bercampur popok dan botol air mineral. Salah seorang murid yang kebetulan lewat hanya sibuk memotret mayatku beberapa kali, lalu mengunggah ke berbagai media sosial miliknya.
Tak ada tangis atau setidaknya kalimat basa-basi tentang kesedihan. Kerumunan hanya memotret dan memotret, namun mereka bukanlah wartawan. Takkan ada berita kematian seorang guru madrasah honorer di antara berita-berita advertorial atau korupsi. Takkan ada surat kabar yang menulis feature tentang seorang guru madrasah honorer yang tewas menenggak racun idealismenya sendiri. (***).

Artikel ini telah dibaca 7 kali

Baca Lainnya

Tarekat Sang Musnid Dunia

17 Mei 2026 - 10:08

Jaminan Stabilitas Kepemimpinan Prabowo di Tengah Turbulensi Politik

2 Mei 2026 - 18:25

Belajar Persahabatan Sejati dari Rais Aam PBNU

24 Maret 2026 - 09:18

Antara Asmara, Semangat Kuliah, dan IPK Mahasiswa

6 Februari 2026 - 11:13

Wajah Perempuan NU Abad ke-2

31 Januari 2026 - 06:19

Kepala Daerah, Waktunya Berbenah dan Menambah BUMD

9 Januari 2026 - 18:45

Trending di Kabar Terkini