Oleh: Abdur Rozaq
KABARPAS.COM – KETIKA masih gesang (hidup) dulu, jangankan kaum fundamentalis, kaum tradisionalis yang lugu saja sering tergoda untuk mengkritik Gus Dur. Bahkan para pendemo bayaran, meski tak mengerti apa tujuan mereka berdemonstrasi, begitu berani mengujat beliau. Apalagi para koruptor dan cantrik Orba, mati-matian memusuhi Gus Dur karena takut diadili.
Ketika Gus Dur bersedia dicalonkan sebagai presiden dan jadi, di pelosok-pelosok kampung banyak yang nggeremeng “kiai kok jadi presiden”, “kiai kok ikut politik”, “kiai kok rebutan kekuasaan. Mbok ya mengurusi pesantren saja”.
Para tukang paiduh itu memang lupa, atau belum pernah membaca jika nabi Sulaiman itu raja, Rasulullah juga berpolitik, KH Abu Bakar asshiddiq hingga KH Ali bin Abi Thalib, juga presiden, politisi bahkan ada yang berkonfrontasi secara langsung dengan rival politiknya.
Ketika Gus Dur membela Ajinomoto dan kaum Tionghoa, banyak orang yang nekat mencurigai akidah beliau. Atau paling tidak, pensiun dini sebagai fans berat Gus Dur. Serangan terhadap pandangan Gus Dur kian bertubi ketika beliau membela kaum Ahmadiah dan Syiah. Dan menanggapi berbagai kritik bahkan cercaan tersebut, Gus Dur hanya bilang “biar nanti sejarah yang membuktikan.”
Dan sayangnya, itu benar! Perlahan namun pasti, sejarah mencuci nama Gus Dur, bahkan sejarah pula yang dengan berani membocorkan jika sebenarnya Gus Dur –insya Allah—wali. Lho, bukankah la ya’riful wali illal wali? Takkan mengetahui kewalian seseorang kecuali ia juga wali?
Lha buktinya, hingga kini NKRI masih utuh, tidak hancur lebur seperti yang direncanakan oleh para bandit yang sejak lama menyusun agenda tersebut sebagai secret plan A1?
Gus Dur “memesrai” Israel agar mereka tidak semakin bersemangat njotosi Palestina. Gus Dur memeluki kaum Tionghoa karena mereka memang saudara kita. Lha wong KTP nya ada logo Garuda Pancasila dan mereka bukan penduduk RRC? Kaum Ahmadiyah dan Syiah dirangkul, lha wereka syahadatnya sama dengan kita, kok. Andai beda sedikit pun, bukankah Rasulullah saja akrab dengan kaum Yahudi dan Nasrani saat itu?
Gus Dur suka “aneh-aneh”, itu karena visi kita berbeda spek dengan visi beliau. Gus Dur itu manusia paralel. Raganya di bumi tapi ruhnya entah di langit yang mana sehingga kabar seghaib apapun, bisa beliau pindai puluhan tahun sebelum kita alami. Makanya, berkali-kali, sungguh berkali-kali kita kecelik, apa yang beliau tawarkan dan kita nggap ghaib saat itu, pada akhirnya benar-benar terjadi.
Kita umat Islam di Indonesia ini, harus berterima kasih karena Allah telah berkenan menciptakan Nabi Muhammad, lalu mengutus para sunan Walisongo, mengutus Mbah Hasyim Asyari, lalu Gus Dur. Dan alhamdulillah lagi, masih mengutus para pamomong sebagaimana Habib Luthfi bin Yahya, Gus Baha dan Gus Muwafiq, misalnya. Sebab jika tidak, bisa jadi Indonesia sudah tinggal puing seperti Libya, Suriah, Lebanon atau Afghanistan.
Shoddaqta, Mbah Dur, sejarah telah membuktikan jika yang panjenengan ajarkan selama ini, memang tak jauh dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Dan sudah saatnya, kita memohon maaf kepada beliau atas kecurigaan selama ini. Alfatihah! (***).

















