Oleh : Abdur Rozaq, Kolomnis Kabarpas.com
KABARPAS.COM – KOTA Cak Manap dikepung banjir beberapa minggu terakhir. Baik di bagian barat maupun timur. Dari selatan yang merupakan area pegunungan, air hujan bablas karena pepohonan dan bebatuan sudah hampir habis. Di wilayah dataran rendah, orang membuang sampah plastik sekehendak hati, dan hampir tiap jengkal tanah, dipaving dalam rangka menghabiskan dana desa.
Pembangunan tol yang dikerjakan sekenanya dalam rangka mengirit anggaran agar keuntungan tidak terlalu mepet, gak ngurus dengan drainase. Maka setiap kali musim hujan menjelang, yang datang bukanlah berkah, tapi bencana. Ada juga berkah dari bencana ini, tapi khusus bagi orang-orang tertentu seperti pengurus parpol, politisi, pimpinan ormas atau kreator konten.
“Dari dulu saya sudah bilang, kalau pemilu itu yang serius kalau memilih!” racau Firman Murtado di warung Cak Manap yang kini menjelma warung mengapung.
“Akhirnya ya begini. Banjir, jalan rusak, begal,” lanjutnya seraya menjamah kotak rokok Gus Hasyim. Tanpa permisi ia mengambil sebatang, karena yang empunya memang berikrar jika rokok itu milik siapa pun.
“Apa hubungannya banjir dengan pemilu, cak?” timpal Mas Bambang cari perkara.
“Ada! Karena kita salah pilih pemimpin, karena kita lebih memilih nominal serangan fajar daripada kualitas kandidat, maka yang memimpin kita ya begini ini. Tidak berani menegur penadah illegal loging, sungkan sama penambang ilegal, serba tak enak sama para cukong.”
“Sik talah, yang sampeyan maksud itu pemimpin yang mana?” sela Cak Rudi makelar.
“Ya yang mana saja. Ya eksekutif, ya legislatif ya yang yudikatif,” jawab Firman Murtado, nyerocos tanpa beban. Maklum, belakangan konon ia bergabung dengan sebuah LSM.
“Hati-hati lho, cak. Kena UU ITE sampeyan. Sekarang konon demokrasi itu dibuka lebar, tapi kan ada cara halus untuk membungkamnya?” sela Gus Hasyim mengingatkan.
Firman Murtado tak berani protes, sungkan karena sejak tadi rokok Gus Hasyim yang ia hisap. Karena Firman Murtado tiba-tiba diam seperti orang terkena serangan fajar atau gratifikasi, kini giliran Gus Hasyim yang bersuara.
“Banjir ini memang sudah takdir. Tapi secara sunnatullah ya salah kita semua,” kata Gus Hasyim datar.
“Kok salah kita sih, gus?” Firman Murtado akhirnya bisa protes.
“Yang pertama ya seperti kata sampeyan tadi, kita salah pilih saat pemilu. Baik pemilu legislatif, pilkades sampai pemilihan ketua RT. Yang kedua, secara pribadi kita juga salah. Kita buang sampah sembarangan, menebang pohon di pekarangan atau tegalan sembarangan, bantaran sungai kita tanami pisang, jagung atau semacamnya. Dan ketika ketua RT mengajak musyawarah tentang pavingsasi, kita oke-oke saja tanpa memikirkan dampaknya.” Seisi warung terdiam. Firman Murtado membuang puntung, lalu kembali meraih kotak rokok Gus Hasyim di lincak warung.
“Jangan kira gaya hidup sok manja kita tak ada hubungannya dengan banjir ini lho ya,” lanjut Gus Hasyim. “Kita sok kemlete pasang AC, beli kulkas, padahal isinya cuma tempe sisa bulan lalu dan beberapa biji cabe. Freon kulkas dan AC mengikis ozon, asap knalpot anak-anak balar liar, bakar-bakar jagung dan petasan saat tahun baru, bahkan obat pengharum ketiak emak-emak, juga mengikis ozon sehingga cuaca berubah ekstrim seperti sekarang.
Dari langit hujan turun seakan tanpa ditakar, sementara glester terus mencair. Makanya, dari pegunungan sana air hujan langsung amblas akibat pembalakan liar dan galian C, sungai mampet oleh sampah, tanah minim serapan akibat pavingisasi, sementara banjir rob sedang melanda. Komplit sudah!”
Seisi warung tertunduk. Insyaf dengan kepongahan masing-masing. (***).

















