Oleh: Ramli Lahaping
KABARPAS.COM – “KELAK, ketika aku meninggal, kuburkanlah aku di kebun kita, tanpa merepotkan banyak orang. Tak perlu mengabarkan kepada khalayak, apalagi berharap dan membebankan urusan penguburan jasadku kepada mereka,” pesan ayahku, kepada aku dan adikku, selepas kami makan malam, satu bulan yang lalu. “Cukuplah kalian berdua, dibantu keluarga dekat dan tetangga dekat kita, yang mengurus pemakamanku.”
Seketika pula, aku terheran mendengar permintaannya. “Kenapa begitu, Ayah?”
Ia pun mendengkus, lalu menatapku dengan raut tenang. “Aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain untuk urusan kematianku, sebab aku yakin bahwa mereka punya banyak urusan kehidupan yang sebaiknya mereka lakoni.”
“Bukankah lebih baik kalau pemakaman dihadiri banyak orang, Ayah?” tanya Sarpin, adikku.
Ia pun tersenyum singkat, lalu menerangkan, “Soal penguburan jenazah, yang penting, kan, ada orang yang mengurus, biarpun tidak banyak. Yang masalah itu kalau tidak ada yang mengurus, sampai jasad terbengkalai. Jika begitu, semua warga yang tahu tetapi mengabaikan, akan turut menanggung dosa.”
Aku dan adikku kemudian saling berpandangan, seolah masih tak habis pikir atas wasiat itu.
“Lagi pula, banyaknya orang di penguburan, belum tentu baik untuk orang yang mati. Beberapa orang datang bukan untuk mendoakan, tetapi untuk mencari muka di mata keluarga si mayat. Beberapa bahkan datang hanya untuk berfoto-foto dan memamerkannya di media sosial,” katanya lagi, dengan suara lemah.
Menyaksikan kesungguhan permintaannya itu, aku pun mengangguk, menyanggupinya. Kulihat, adikku pun demikian.
Tentu saja, sampai kini, aku masih merasa aneh atas permintaannya. Ia adalah pemuka agama yang cukup ternama, tetapi ia malah memesankan pemakaman yang sunyi untuk dirinya. Padahal, lazimnya, seperti yang kerap tampak di layar televisi, penguburan jasad tokoh-tokoh senantiasa dihadiri banyak orang, bahkan sengaja dibuat ramai oleh para sanak keluarganya.
Tetapi setelah menerka-nerka, aku pun bisa memahami bahwa permintaannya itu lahir dari wataknya yang tidak mau merepotkan orang lain. Biarpun ia adalah tetua yang sangat disegani, terutama di lingkungan tempat tinggal kami, tetapi ia tak akan meminta bantuan kepada orang lain selama ia bisa melaksanakan urusannya sendiri, atau selama aku dan adikku bisa membantunya.
Aku masih ingat, pada satu kali, ia memberi ceramah di sebuah masjid, di desa tetangga. Ketika itu, aku hanya sempat mengantarnya, kemudian pergi karena aku punya urusan penting di kampus. Setelah ia menyampaikan nasihat-nasihat agama, ia pun memintaku untuk datang menjemputnya.
Namun karena aku benar-benar tidak sempat, ia akhirnya pulang dengan berjalan kaki. Padahal, beberapa warga telah menawari untuk mengantarnya, tetapi ia berkeras menolak.
Atas sikapnya yang demikian, aku dan adikku pun senantiasa siap dan lekas untuk menangani kepentinganya, termasuk juga perihal kebutuhan dan keperluannya di rumah. Setiap hari, kami saling mengerti untuk mengerjakan pekerjaan domestik, entah mencuci pakaian, membersihkan kediaman, atau memasak makanan. Itu karena ibu kami telah meninggal, sedangkan kami berdua sama-sama laki-laki.
Meski tanpa jadwal, aku dan adikku sudah terbiasa menunaikan pekerjaan rumah secara bersama-sama atau bergantian, terutama memasak untuk ayah kami. Selain memastikan bahwa racikan kami sesuai dengan seleranya, kami juga mesti mengefisienkan makanan dengan memasak makanan baru secukupnya dan memanasi makanan sisa. Itu karena ia menentang keras perilaku mubazir. Ia akan marah kalau melihat makanan basi dan terbuang sia-sia.
Tetapi belakangan hari, efisiensi makanan kami jadi terganggu. Sudah sering kali makanan kami digarong para binatang. Entah ayam, kucing, tikus, atau anjing. Dan kukira, permasalahan itu akan berkepanjangan, sebab keadaan rumah kami memang buruk. Dinding dan lantai kayunya lapuk-berlubang, serta atap sengnya bocor, hingga menciptakan kondisi yang membuat para binatang bebas masuk dan nyaman bertingkah.
Pangkal dari semua perkara itu adalah perekonomian kami yang lemah. Bekal kehidupan kami hanya bersumber dari hasil bertani jagung pada sepetak kebun di belakang rumah kami. Selebihnya berasal dari honorarium ayah kami saat menjadi penceramah atau pembicara di berbagai forum. Namun semua itu hanya cukup untuk memenuhi keperluan sehari-hari dan membayar tagihan kuliah kami, sehingga tidak ada ongkos untuk peremajaan rumah.
Belum lagi, keadaan itu diperparah oleh sikap ayah kami yang ringan tangan memberikan sedekah kepada orang lain. Ia seolah menganggap kehidupan kami sudah sangat berkecukupan, sehingga ia pantas untuk menyumbangkan penghasilannya, terutama yang ia dapat sebagai honorarium berdakwah. Padahal, aku merasa bahwa kami masih sangat membutuhkan uang untuk keperluan kami, terutama untuk membenahi rumah.
Karena keadaan itulah, aku berhasrat untuk segera menyelesaikan kuliahku dan mencari penghasilan demi memiliki rumah seperti yang kuidam-idamkan. Tetapi rencana itu masih sekadar harapan yang jauh. Aku masih semester V, dan belum tentu lekas mendapatkan pekerjaan setelah sarjana. Apalagi, membangun atau membeli rumah, tentu membutuhkan banyak uang yang mesti dikumpulkan sekian lama.
Kini, aku pasrah saja menjalani kehidupan. Sepanjang waktu, aku melatih diri untuk bersabar dalam kesederhanaan, sebagaimana ayahku. Aku kukuh bertahan untuk tidak mengeluhkan keadaan yang buruk di hadapannya. Aku terus saja mengabdikan diri dan menunjukan berbaktiku kepadanya. Aku berharap, dengan begitu, kehidupan kami tetap tenteram dan membahagiakan.
Dan akhirnya, pagi-pagi, aku kembali menunaikan pekerjaan rumah seperti biasa. Aku memasak dan memastikan hidangan sederhana kami tersaji lengkap di atas meja makan, kemudian membilas dan menjemur pakaian di samping rumah.
Setelah urusan itu selesai, aku pun merasa tenang.
Aku lantas melangkah ke belakang rumah, ke toilet, untuk membuang hajatku. Dan seketika, aku menyaksikan kenyataan yang memilukan. Aku melihat ayahku tergolek tak berdaya. Darah tampak mengalir dari sisi belakang kepalanya, seolah-olah ia telah terpeleset dan terjatuh keras, hingga kepalanya membentur dudukan kloset. Aku lantas mengecek nadinya, dan aku tak lagi merasakan denyutnya.
Perlahan-lahan, aku pun berupaya menguatkan hatiku untuk menerima kenyataan yang terjadi. Bagaimanapun, sebagaimana katanya, cepat atau lambat, entah diduga atau tiba-tiba, kematian pasti akan datang. Dan kini, aku mendapati kematiannya sendiri.
Sesaat kemudian, setelah aku merasa tenang, aku lalu menyiram aliran darahnya. Setelah itu, aku lantas melangkah ke kamarku untuk mengambil kain pengelap dan penutup jasadnya. Hingga akhirnya, aku terhenti setelah menyaksikan kedatangan Sarpin selepas berlari pagi.
Akhirnya, dengan perasaan setengah tega, aku mencoba memberitunya. “Dik…” Aku tiba-tiba jadi tak sanggup menuntaskan keteranganku.
“Kenapa, Kak?” tanyanya, tampak penasaran.
Aku lantas menelan ludah di tenggorokanku, kemudian memaksa diri untuk berucap, “Ayah meninggal, Dik.”
Ia sontak terkejut. “Apa?”
Aku mengangguk-angguk saja untuk meyakinkannya.
“Ayah di mana, Kak?” tanyanya, dengan raut kalut.
“Dia ada di dalam toilet,” jawabku.
Tanpa menunggu waktu, ia pun melangkah ke belakang rumah.
Sesaat berselang, aku pun kembali ke toilet, sembari membawa kain lap, sarung, dan selimut. Seketika pula, aku menyaksikan adikku bersimpuh di samping jasad ayah kami, sambil menangis. Untuk beberapa lama, aku membiarkannya meluruhkan kesedihannya.
Hingga akhirnya, setelah ia tampak tenang, kami pun bersama-sama membersihkan jasad ayah kami. Selepas itu, kami lantas menggotongnya ke dalam rumah, kemudian membaringkannya di lantai ruang tengah dengan alas dan selubungan selimut.
“Jadi, bagaimana dengan proses penguburan Ayah, Kak?” tanya adikku, menyinggung wasiat ayah kami.
“Kita kuburkan Ayah sebagaimana permintaannya,” tanggapku.
Ia mengangguk saja dengan raut sayu.
Tanpa menunda waktu, kami berdua lantas menyampaikan soal kematian ayah kami kepada keluarga dekat dan tetangga dekat kami. Dalam waktu cepat, bersama beberapa orang yang kemudian datang, kami lekas menggali lubang di kebun kami sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Setelah itu, kami lalu memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkannya. Dan sebelum tengah hari, proses itu pun selesai.
Namun tanpa kuduga, kabar kematian tersebut menyebar begitu cepat, seolah diterbangkan angin ke segala penjuru. Orang-orang pun berdatangan ke rumah kami. Banyak di antara mereka yang tidak kami kenali, tetapi mereka mengaku mengenal ayah kami dan memuji kebaikannya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengaku pernah mendapatkan bantuan materiel dan nonmateriel dari ayah kami di masa dahulu, dan mereka mengaku tertolong.
Hingga akhirnya, lewat tengah malam, ketika orang-orang telah pulang, kami pun mendapati uang duka yang banyak. Jumlahnya bahkan cukup untuk mengongkosi renovasi rumah kami, juga untuk menanggung biaya kuliah kami sampai sarjana. Karena itulah, aku mulai memahami tujuan ayah kami sehingga meminta kami merahasiakan kematian dan pemakamannya dari pengetahuan orang banyak.***
*Ramli Lahaping. Kelahiran Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Menulis di blog pribadi (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Instagram (@ramlilahaping).*
___________________________________
*Setiap Minggu Kabarpas.com memuat rubrik khusus “Nyastra”. Bagi Anda yang memiliki karya sastra, baik berupa cerita bersambung (cerbung), cerpen maupun puisi. Bisa dikirim langsung ke email kami: redaksikabarpas@gmail.com.

















