Surabaya, Kabarpas.com – Bertujuan meningkatkan kualitas diri dan kapasitas berorganisasi, KOPRI PC PMII Surabaya menggelar Sekolah Kader KOPRI Nasional merupakan sarana bagi kader-kader KOPRI untuk meningkatkan kualitas diri dan kapasitasnya dalam berorganisasi.
Bertema besar, “Akselerasi Gerakan KOPRI dalam Aktualisasi Potensi Kader Putri Menjadi SDM Unggul dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045”, Sekolah Kader berlangsung di Asrama Haji Surabaya pada 21 sampai 22 Oktober 2023.
Beberapa narasumber pun dihadirkan oleh Kopri yang diketuai Julia Kumala Asri, diantaranya ning Lia Istifhama. Berlatar belakang Sekretaris MUI Jatim dan juga pengurus Fatayat NU Jatim, ning Lia yang merupakan keponakan Khofifah, pernah aktif sebagai pengurus PMII Surabaya saat menempuh pendidikan S1.
Dalam penyampaiannya tentang proses aktualisasi kader sebagai calon pemimpin, ning Lia mampu mengajak kader berbicara dari hati ke hati. Tak pelak, penulis novel motivasi Berkisah Tentang Hati tersebut, disebut sebagai perempuan tangguh.
“Saat ning Lia menyampaikan tentang karakter perempuan yang tangguh untuk menjadi seorang pemimpin, maka kami melihat ning Lia-lah, salah satu sosok perempuan tangguh itu,” terang salah satu peserta yang kemudian diamini peserta lainnya.
Memang menarik, ning Lia yang semula mengajak peserta untuk membangun karakter “P-E-R-E-M-P-U-A-N”, yaitu personality, empathy, responsibility,
equity, motivation, positivity, universal, analytical, dan negotiating, kemudian mengajak para kader untuk mengaktualisasi kepribadian yang tangguh.
“Dalam padanan kata “P-E-R-E-M-P-U-A-N”, ada istilah positivity, yaitu membangun pikiran positif. Ini memang sangat penting, namun jangan sampai terjebak toxic positivity, yaitu sebuah obsesi untuk selalu memiliki pikiran positif dan mengesampingkan emosi negatif, seperti sedih, kecewa, dan takut, walaupun dalam keadaan buruk. Padahal ini justru tidak benar,” paparnya.
“Psike (jiwa) perempuan terbentuk dari hubungan sosial dan kemampuan berempati. Dan empati ini pembentuk utama kecerdasan emosional. Pada satu waktu, akan sangat wajar jika perempuan merasa perlu menangis ketimbang membenci, atau merasa takut menyakiti namun justru terjebak situasi disakiti. Hal ini lumrah dan sangat manusiawi. Masalah-masalah psikis, tidak perlu dipendam atau ditahan, biarkan saja mengalir karena itu proses menjadi tangguh,” sambung Ning Lia.
Ning Lia pun lebih detail menjelasan ketangguhan atau resiliensi saat perempuan mengalami masalah, yaitu melalui aspek I am, I can, I have.
“I am adalah bagaimana keyakinan kita sebagai manusia beriman saat menghadapi masalah. Apakah kita yakin bahwa setelah ujian akan ada kenikmatan? Kemudian I can adalah apa yang masih bisa kita perbuat di tengah masalah, yang menjadi tanda bahwa kita masih bisa hidup. Dan I have adalah dukungan orang sekitar. Ketiga aspek tersebut sangat penting untuk membangkitkan ketangguhan kita,” tegasnya. (dit/gus).

















