Oleh : Abdur Rozaq
KABARPAS.COM – KAPAL – KAPAL kesepian, air sungai yang selalu keruh di musim apa pun, bangkai-bangkai ikan kecil tercekik limbah pabrik tahu dan mengapung di sela-sela pembalut wanita, botol air mineral, gabus kardus tv, jangkar-jangkar berkarat serta sepotong bulan menancap di ujung tiang layar, menegaskan kesunyian begitu mengerikan.
Di warung suram itu juga hanya terdengar suara kemeresek dari sebuah radio purba. Bukan lagu-lagu India mendayu seperti dulu. Udit Narayan sudah berpulang, Alka Yagnik mungkin sudah menikmati masa tuanya di sebuah panti jompo. Para manol, ABK, sopir-sopir tronton, tukang becak, bahkan perempuan-perempuan tambun berdandan menor yang setiap sore menjajakan entah apa ke dek-dek kapal, lenyap seperti tertelan gelombang.
Oh, kesunyian meraja hingga relung terdalam hati siapa pun di tepian sungai berair amis ini. Bahkan mimpi-mimpi pun, tandas tergusur oleh badai tak kasat mata. Hanya tersisa kapal-kapal renta dengan layar tergulung abadi, tonggak-tonggak bisu nan angkuh, siput raksasa pada dinding kapal, dan tentu saja sengkarut marut sampah tak alang kepalang busuk dan keruh mencemari air sungai.
Wahai, kemanakah semua cerita itu pergi. Demikiankah jika Tuhan merampas karunia yang Ia pinjamkan?
Ia bukan siapa-siapa sekarang. Tak lebih dari seorang tukang lamun sial yang biasa duduk berjam-jam dengan segelas kopi pahit di sebuah warung suram. Tuhan telah merampas pinjamannya dengan amat misterius. Ia dihempaskan nasib tanpa ampun. Tersungkur ke jurang ketidakberdayaan amat sunyi. Hmm, kemanakah kerumunan pengerubutnya itu minggat? Puluhan tronton, lusinan kapal, gudang-gudang kayu, kedua istri muda, para manol, ABK, serta puluhan cantrik, kemana semua lenyap? Alangkah buruk tabiat lalat yang minggat ketika bangkai kehilangan amis. Bibirnya terasa pahit oleh rokok murahan dan kopi pekat malam ini. Tapi ia enggan menjejakkan kaki untuk pulang. Bukan hanya enggan, ia bahkan tak pernah siap untuk sekedar menjawab sapaan para tukang becak di depan gang.
“Baru pulang, Bos?” setiap orang biasa menyapanya demikian setiap ia melintas di gang itu. Ya, ia memang seorang juragan, seorang bos besar penguasa antero pelabuhan. Siapa yang tak kenal Kaji Dikin? Kaya, kuat, rupawan, dan ia selalu memenangkan setiap permainan hidup. Segenap nasib baik selalu menghamba padanya. Drama hidupnya seperti cerita film-film India. Uang, wanita, kekuasaan, merubutnya serta merta. Hingga jika Theo—anak sulungnya—selalu menganggap gang sempit itu sebagai sirkuit, anak-anak gadis orang tak lebih dari lubang penampung air birahi, setiap orang hanya bisa mengelus dada. Siapa yang berani macam-macam dengan keluarga Kaji Dikin? Jangankan mencaci karena seorang anak kecil terkapar di sebuah gang di bawah ban motor Theo, menatapnya dengan pandangan sinis saja, sebutir bondet akan mendentum kasar karenanya. Ratusan preman begitu patuh kepada Kaji Dikin melebihi kepatuhan seekor kucing yang selalu dilempar dengan remah ikan asin.
Seperti biasa, ketika malam agak larut Kaji Dikin akan keluar dari rumahnya yang hanya kamar-kamar bersekat triplek itu. Pergi ke warung kopi langganannya. Warung kopi yang dulu pernah hampir ia bakar karena menghalangi jalan menuju gudang kayu. Ia ingat benar sumpah serapah Bhuk Saropah kala itu, tapi ia tak punya tempat lain untuk menyembunyikan diri. Sejak ia bangkrut, ia tiba-tiba didera oleh ketakutan tanpa sebab. Ia berubah menjadi sesosok lelaki penyendiri. Tak mungkin ia nongkrong di alun-alun, minum kopi sana karena semakin membuatnya terluka. Senyum-senyum sinis tentu akan ia lihat dari bibir setiap orang. Saingan bisnisnya, laki-laki yang hatinya pernah ia lukai dengan perebutan cinta terlarang, mantan anak buah, mantan manol atau siapa saja akan menyoraki nasibnya. Dunianya jadi begitu sempit. Hanya sepanjang dermaga tua yang mengapit Kali Gembong. Durasi hidupnya jadi begitu singkat. Hanya ketika malam berjalan separuh waktu, hingga fajar hampir tiba. Ia begitu takut dengan matahari, bukan pada matahari, tapi pada puluhan debt collector yang selalu hilir mudik mengintai keberadaanya. Alasan apalagi yang akan ia katakan untuk meyakinkan para tukang tagih itu. Berbagai kata-kata manis telah dirangkai untuk membujuk mereka. Janji-janji semu atau bahkan gugatan-gugatan jasanya di masa lalu telah ia khotbahkan kepada beberapa tukang tagih penghisap tetes madu yang pernah ia suguhkan. Tapi, ah, bukankah lalat tak pernah kembali setelah bangkai tak lagi amis?
Aku minta maaf, bulan ini aku tidak ada pemasukan sama sekali. Bulan depan, awal bulan aku bayar semua. Aku juga sebenarnya tidak sampai hati untuk menagih, tapi ini tugas dari kantor. Aku takut tukang sita akan datang ke sini’. ‘Aku minta tolong, bagaimana pun caranya, cegah agar mereka tidak menyita rumahku. Mau tinggal di mana aku, kalau mereka juga menyita rumahku ?’ ‘Atas nama masa lalu akan kuusahakan’. Tapi tetap saja tukang sita menyegel rumahnya yang menyerupai kastil itu. Kini ia menumpang di sebuah gudang tua milik pemerintah. Berdesak-desak dalam bangunan setengah jadi yang bertahun-tahun belum juga dipasang kaca pada jendelanya yang menghadap ke laut.
Teman-teman dari masa kejayaan banyak yang menanyakan keberadaannya sekarang. Kemana saja ia? Kenapa ia tiba-tiba lenyap seperti Tsa’labah? Seorang peliharaanya di Dolly juga demikian, tapi gelap. Ia tiba-tiba menghilang seperti tumpukan balok-balok kayu diangkut polisi ke rumah barang sitaan. Cafe-cafe yang biasa ia kunjungi tiap ahir pekan sepi oleh tawa khasnya. Tak ada lagi yang memesan Jack Daniels dengan es batu seraya memesan lagu dangdut di larut malam. Beberapa waitress mungkin juga merindukannya. Tapi jejaknya gelap. Ia hanya biasa menyeruput kopi pahit sekarang, di sebuah warung suram tepi kali berair amis.
Malam dengan angin amis membelai-belai tonggak kayu, telah mendekati fajar ketika ia berdiri di ujung dermaga. Tak ada suara selain kecipak lembut air sungai membentur dinding kapal purba. Di kejauhan nampak cahaya kunang-kunang raksasa diomabang-ambing ombak. Seperti nasibnya. Mulutnya pahit oleh rokok murahan. Sepahit cerita dermaga dalam bahasa bisu. Halimun mempersembahkan bayang-bayang lusinan kapal dan tumpukan-tumpukan balok kayu di mata kuyunya. Tapi hanya halimun. Semua telah terkubur di liang masa lalu. Malam sering mendatangkan setan-setan kenangan bukan ? Kini, ia pun diperlakukan seperti itu. Pertama, ia dibius hingga setengah mabuk. Dalam pandangan lamurnya ia diseret ke masa lalu. Di telinganya terdengar suara riuh kelakar para manol memikul kayu menaiki tronton-tronton perkasa. Klakson kapal, derit rem becak, lagu-lagi Hindustan, obrolan-obrolan dalam bahasa-bahasa aneh, pisuhan-pisuhan para kuli, tawa genit perempuan-perempuan menor serta derung halus sedan hitam dan jedas-jedus musik di dalamnya. Ia kemudian melihat Theo di dalam mobil itu. Apa di alam Barzakh anaknya itu juga masih suka mendengarkan musik disko?
Malam telah larut ketika mayatnya ditemukan entah siapa mengapung di antara botol mineral, gabus dan bangkas ikan pembersih kaca. Sinar rembulan yang pucat menyuluh wajahnya yang mulai membengkak dan sepi. (***)
















