Jember, Kabarpas.com – Bupati Jember Muhammad Fawait memilih bersikap santai menanggapi dinamika politik yang berkembang terkait program Bunga Desaku atau Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan. Ia tidak memberikan tanggapan panjang meski program tersebut menuai pro dan kontra dari sejumlah partai politik di daerah.
Ditemui usai menghadiri acara Kupatan di Pendopo Wahyawibawagraha, Rabu (25/3/2026), Fawait menyatakan bahwa dirinya tidak merasa perlu mengomentari setiap pernyataan yang muncul di ruang publik, termasuk usulan dari PDI Perjuangan yang menyarankan agar program tersebut ditiadakan.
“Tidak dalam kapasitas semua komentar harus saya komentari,” ujarnya singkat.
Fawait menyebut, berbagai tanggapan terkait Bunga Desaku telah disampaikan oleh para ketua partai politik, baik yang mendukung maupun yang mengkritik. Menurutnya, perbedaan pandangan tersebut merupakan hal yang wajar dalam dinamika pemerintahan dan politik daerah.
“Sudah ada pernyataan dan testimoni dari ketua partai-ketua partai. Saya pikir, ya, kalau di pondok pesantren, kalau musyawarah itu yang biasanya diikuti yang jumhur, yang mayoritas, termasuk pendapat ulama, jumhur ulama,” katanya.
Ia mengisyaratkan bahwa dukungan mayoritas terhadap program tersebut menjadi indikator bahwa kebijakan yang dijalankan masih berada di jalur yang tepat. Karena itu, ia merasa tidak perlu memberikan tanggapan lebih jauh terhadap polemik yang berkembang.
“Nah, berhubung sudah seperti itu, ya berarti bagus. Saya enggak perlu tanggapi terlalu dalam,” ucapnya.
Fawait juga menilai kritik dan saran dari DPRD maupun partai politik merupakan bagian dari mekanisme demokrasi yang sehat. Ia menyebut fungsi pengawasan dan pemberian masukan memang menjadi tugas lembaga legislatif.
“Dan itu biasa. Kan tugas DPRD, tugasnya memberi saran, mengawasi. Itu hal yang wajar,” tuturnya.
Sikap bupati tersebut muncul di tengah perdebatan publik mengenai keberlanjutan program Bunga Desaku. Sebelumnya, Ketua DPC PDI Perjuangan Jember mengusulkan agar kegiatan tersebut ditiadakan dengan alasan efisiensi anggaran dan digantikan dengan kanal komunikasi digital.
Namun, sejumlah partai politik lain seperti PAN, PPP, dan PKB justru menyatakan dukungan terhadap program tersebut. Mereka menilai Bunga Desaku efektif mendekatkan pemerintah daerah dengan masyarakat serta mempercepat penyerapan aspirasi di tingkat desa.
Di balik itu semua, Fawait menegaskan fokus pemerintah daerah tetap pada pelaksanaan program yang dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, sembari tetap membuka ruang bagi kritik dan masukan dari berbagai pihak. (dan/ian).

















