Menu

Mode Gelap
Wujudkan Mimpi Pebasket Muda Jatim, MPM Honda Jatim Gelar Honda DBL 2023 East Java Series Dukungan Mas Dion Maju Cabup Pasuruan 2024 Kian Masif

KABAR NUSANTARA · 28 Des 2018

Harga Kebutuhan Pokok Naik, Pemkot Probolinggo Gelar Pertemuan dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah 


Harga Kebutuhan Pokok Naik, Pemkot Probolinggo Gelar Pertemuan dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah  Perbesar

Reporter : Moch Wildanov

Editor : Agus Hariyanto

 

 

Probolinggo, Kabarpas.com – Naiknya harga kebutuhan pokok di saat momen jelang pergantian tahun, membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo langsung menggelar pertemuan dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), yang diselenggarakan di Hotel Bromo View Kota Probolinggo.

Naiknya harga berbagai komoditi, seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan tarif angkutan darat dikarenakan banyaknya masyarakat yang bepergian saat liburan dan juga konsumen meningkat.

“Desember ini kemungkinan relatif tinggi, karena bertepatan dengan liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru), dan beberapa komoditi mengalami kenaikan harga,” ujar Kasi Distribusi Badan Pusat Statistik Kota Probolinggo, M. Machsus.

Sementara, staf Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Pemkot Probolinggo, Agung mengatakan bahwa larangan pemotongan ayam sebelum 40 hari setelah pemberian obat, juga karena kenaikan harga pakan ayam daging.  Sehingga berdampak pada naiknya harga ayam potong.

“Harga sudah naik mulai dari kandang, karena harga pakan naik, dan tentunya distributor juga menaikkan harga, karena ayam yang ada di Kota Probolinggo kebanyakan berasal dari Jember dan daerah-daerah sekitar,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan perlakuan ayam pedaging dan ayam petelur berbeda.

“Kalau ayam petelur pakannya masih bisa dicampur dengan jagung, tetapi ayam pedaging tidak bisa,” tambahnya.

Meski demikian ia mengatakan, semua masih relatif stabil, baik pasokan maupun harga. Pasalnya, harga daging ayam dibandrol sekitar Rp 46-48 ribu perkilogram.

Plt. Kepala Bank Indonesia Perwakilan Malang, Jaka Setyawan mengatakan bahwa inflasi di Jawa Timur masih ada di bawah target inflasi nasional yang ditetapkan sebesar 3,5 persen dengan toleransi kurang lebih 1 persen.

“Ada empat fokus pengendalian inflasi daerah yakni ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga dan komunikasi yang efektif antar pihak terkait,” katanya.

Dari pemaparan tersebut disimpulkan bahwa naiknya kebutuhan pokok masih relatif stabil, dan ketersedian stok masih ada termasuk pendistribusianya.

Wali Kota Probolinggo Rukmini sangat berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerjasama dengan Pemerintah Kota Probolinggo yang telah melaksanakan segala upaya serta berbagai kegiatan dalam rangka menstabilkan laju inflasi di kota ini.

“Program pengendalian inflasi ini merupakan upaya untuk menstabilkan harga barang maupun jasa di masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup di tengah kondisi perekonomian saat ini,” tutupnya. (wil/gus).

Artikel ini telah dibaca 31 kali

Baca Lainnya

Jember Mulai Tinggalkan Sistem Open Dumping, Pemkab Dorong Warga Kelola Sampah Mandiri

20 Mei 2026 - 14:57

Baru Rampung 30 Persen, Konsep Street Food Jember Usung Nuansa Nusantara dan Dunia

20 Mei 2026 - 14:43

Gus Hery: Intelektual Muda NU yang Teduh, Tajam, dan Menembus Lintas Jejaring

20 Mei 2026 - 14:27

Nama BPR Jwalita Berubah Jadi Bank Trenggalek, Begini Kata Ketua Pansus II

20 Mei 2026 - 11:36

Kabar Baik Bagi Para Pekerja di Trenggalek, Perda Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Segera Diundangkan

20 Mei 2026 - 11:15

Mahasiswa Doktoral KPI UIN Jakarta Gelar “The Doctor Care”, Salurkan Bantuan dan Cek Kesehatan Gratis

18 Mei 2026 - 09:10

Trending di KABAR NUSANTARA